PEKERJAAN cleaning service mungkin pilihan pekerjaan yang terakhir bagi seseorang untuk dijalaninya. Kalau bisa mendapatkan pekerjaan lain, mungkin tidak akan menjalani pekerjaan sebagai cleaning service.
Laporan: ARDHITA ANGGRAENI
Fenomena demikian saat ini banyak ditemui, ketika seseorang yang mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, cleaning service menjadi alternatif pekerjaan selanjutnya.
Begitu halnya yang dilakoni oleh Zainuddin. Dia mengaku sudah menjalani rutinitas sebagai clening service selama tujuh tahun di Gedung DPRD Kota Makassar. Sebelumnya dia adalah pekerja harian di sebuah toko mebel.
Hanya karena tidak betah bekerja, termasuk sulit mendapatkan waktu bersiterahat serta gaji yang terbilang sedikit, Zainuddin lebih memilih berhenti bekerja.
Dengan umur yang tidak lagi muda 47 tahun, Zainuddin mengaku lebih mencintai pekerjaan sebagai cleaning service. Sebab disamping waktu yang sangat longgar karena bisa beristerahat, Zainuddin juga sudah bisa leluasa melaksanakan ibadah salat lima waktu.”Salat adalah tiang agama dan pondasi kita menuju akhirat. Waktu saya bekerja di toko mebel sangat sulit saya beristerahat dan beribadah, karena rutinitas sangat padat. Syukur saya bekerja sebagai cleaning service,” ujarnya kepada penulis.
Pria Kelahiran Ujung Pandang 3 Oktober 1969 ini, memulai rutinitasnya di subuh hari. Dengan bermodalkan peralatan sapu, ember dan pengepel lantai, Zainuddin sudah terlihat beraksi. Sebuah waktu yang sangat sempurna untuk memulai kerja bagi siapa saja.
Di waktu subuh ini, Zainuddin sudah disuguhi kewajiban yang menantang. Sebuah gedung besar sudah menunggu untuk dibersihkan dan dirapikan. Gedung DPRD Kota makassar berupa bangunan tiga lantai yang dihuni oleh 50 legislator dan ratusan pegawai.
Pada siang harinya, Zainuddin beristerahat dan makan siang sambil menunggu pengunjung dan anggota dewan pulang dan kembali membersihkan sejumlah ruangan di gedung wakil rakyat tersebut.
Bahkan kadangkala, pria yang bertubuh kurus dan tinggi ini kerap mengambil kerja sampingan di DPRD disela-sela waktu istirahatnya yakni mencucikan mobil milik legislator.
Sekali cuci, dia mendapatkan upah dari Rp50 ribu hingga Rp100.000 untuk satu mobil. Uang tersebut merupakan tambahan rezeki untuk mencukupi kebutuhan istri dan kedua anaknya. Apalagi, gaji yang diterimanya dari pekerjaan cleaning serivice juga terbilang sedikit.”Saya bersyukur ada tambahan dari upah setelah mencuci mobil milik legislator. Rezeki ini dari Allah, sehingga seberat atau seringan apapun pekerjaan kita geluti unjung-ujungnya kita harus ikhlas dan bersyukur,” kata Zainuddin.
Sehari-hari Zainuddin telah meninggalkan rumahnya menuju kantor DPRD dari pukul 05.00 Wita hingga jam 16.00 Wita sore. Itu rutin dia lakoni setiap harinya. Tak terkadang disaat dia membersihkan banyak pegawai yang menyuruh Zainuddin mengerjakan sesuatu diluar pekerjaannya.
“Setiap hari harus kerja, biasanya ada pegawai juga menyuruh membelikan kebutuhannya. Syukur-syukur ada imbalan jasa,” ujarnya.
Zainuddin juga mengaku tidak tahu persis makna pekerja outsourcing. Bahkan Zainuddin tak hiraukan ketika puluhan orang berunjuk rasa menuntut penghapusan outsourcing.(ita/b)