BANYAK pesan tersirat yang ingin disampaikan tim kreatif, utamanya eksekutif produser Uang Panai, Wahyudi Muchsin dalam film tersebut. Minimal untuk mengubah paradigma masyarakat terhadap seserahan itu.
LAPORAN: RAHMAWATI AMRI
LELAKI yang akrab disapa Yudi itu, mengatakan pihaknya ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa perempuan sebagai mahkota, tidak murahan sehingga rugilah kaum lelaki yang sudah melamar dalam jumlah yang cukup besar namun di belakang hari melakukan penyelewengan.
Melalui film itu juga, kata Yudi, pihaknya ingin memperkenalkan kekayaan adat istiadat dan budaya Sulsel yang sangat menarik. Salah satunya, menampilkan prosesi lamaran dengan ritual-ritual yang harus dilakukan.
“Jadi kita perlihatkan prosesi lamaran, bagaimana tahapannya, apa gunanya bosara, erang-erang dan sebagainya,” jelas Yudi.
Film bergenre drama komedi ini dibuat dengan apik dan menarik. Menampilkan sejumlah lokasi dan latar syuting yang menjadi destinasi wisata. Film ini juga memuat sindiran-sindiran halus terkait persoalan-persoalan yang terjadi seputar uang panai yang dikemas secara jenaka.
“Sengaja kita mengemasnya dalam bentuk komedi supaya tidak terkesan sebagai film dokumenter. Kritikan jadi lelucon namun konten budayanya juga tidak hilang,” ungkapnya.
Banyak orang-orang kreatif yang dilibatkan dalam proses pembuatan film ini. Namun, kata Yudi, 99 persen melibatkan orang-orang lokal. Mulai Abdul Rodjak alias Petta Puang, Abu dan Tumming yang cukup terkenal di Youtube dengan aksi-aksi kocaknya.
“Kita memang ingin orbitkan talenta muda asal Makassar,” ungkapnya.
Dia melanjutkan, pihaknya juga melibatkan dua entertain ibukota sebagai cameo, yakni Katon Bagaskara yang akan berperan sebagai seorang panglima serta Jane Shalimar.
Film berdurasi 90 menit ini diperkirakan menelan anggaran Rp700 juta hingga Rp800 juta.
Kendati tidak disupport secara finansial, Yudi mengaku pemerintah kota juga terlibat demi suksesnya film ini. Dukungan yang diberikan dalam bentuk berbagai fasilitas yang disiapkan, untuk lokasi syuting misalnya.
Yudi mengaku ide awal sehingga film ini digarap bermula dari diskusi pendidikan yang digelar Maret 2015 lalu, melibatkan dewan pendidikan. Dari hasil diskusi seru, akhirnya muncul ide tema Uang Panai sangat menarik untuk diangkat ke layar lebar.
Dia berharap film ini punya manfaat yang besar jika sudah ditayangkan. (rhm/rus)
