PASANGKAYU, BKM — Selama beberapa bulan terakhir, harga Tandan Buah Sawit (TBS) di Kabupaten Mamuju Utara (Matra) anjlok. Ditingkat pengumpul harga hanya Rp550 hingga Rp600 per kilogram. Hal ini mebuat petani sawit merugi. Masyarakat pun belum tahu pasti apa penyebabnya. Namun spekulasi beredar bahwa penurunan harga sawit dipengaruhi surplus produksi cruide palm oil (cpo) ditingkat internasional.
”Ya, mau bagaimana lagi pak. Terpaksa kami terima kenyataan ini. Sekarang kalau hanya bisa panen dua ton sawit cuma dapat seberapa saja pak. Lebih banyak biaya pemeliharaan daripada untungnya,” keluh salah seorang petani sawit di desa Ompi, Aspar, Selasa (1/3).
Terkait penurunan harga TBS ini, Ketua DPRD Matra, Lukman Said, punya analisis berbeda. Ia menduga ada permainan dari SKPD terkait ditingkat provinsi yang diberi kewenangan untuk menentukan harga TBS tersebut. Itu disampaikannya, sebab berdasarkan hasil pengamatannya di beberapa provinsi lain, seperti di Kalimantan, harga sawit masih tetap normal yakni sekitar Rp1.300 lebih per kilogram.
”Saya bingung di Sulbar ini. Saya baru pulang dari Mataram dan beberapa daerah penghasil sawit. Harganya itu mencapai Rp1.000 lebih per kilonya. Dan ternyata, memang ada komisi yang menangani harga ini. Termasuk di dalamnya dinas perkebunan provinsi,” ujarnya, Selasa (1/3).
Dikatakan, pemerintah mesti turun tangan menyelesaikan persoalan harga TBS ini. Karena dinilai telah merugikan petani sawit. Olehnya, dalam waktu dekat DPRD Matra akan segera memanggil dinas perkebunan provinsi dan kabupeten guna menyelediki penyebab turunnya harga TBS.
”Ini bahaya. Jangan sampai ada permainan di dalamnya. Kalau sampai saya temukan ada permainan, hati-hati. Ini kan lucu masa daerah lain harga TBS normal, kenapa di sini anjlok sekali,” pungkasnya. (ala/mir/c)