BISA dibayangkan di zaman seperti sekarang ini hidup dengan hanya berbekal pendidikan lulusan Sekolah Dasar (SD). Sangat sulit untuk bisa mendapatkan pekerjaan di tengah beban hidup yang kian berat.
Laporan: Sartono
SEJAK ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh sang ayah, Rusnang harus bekerja keras guna menghidupi keluarganya. Karena tak punya bekal pendidikan yang cukup untuk melamar pekerjaan, jadilah anak bungsu dari tiga bersaudara ini menggeluti profesi sebagai tukang kayu.
Di tahun 2006, Rusnang menikah dengan gadis sekampungnya. Kini mereka telah dikaruniai satu orang anak.
Bekerja sebagai tukang kayu membuat rumah, penghasilan Cennang –begitu Rusnang biasa disapa– tidaklah seberapa. Itupun tidak selalu ada warga yang mendirikan rumah baru.Iapun kemudian memutar otak bagaimana caranya bisa mendapatkan tambahan pekerjaan, mengingat tanggungannya sebagai kepala keluarga semakin banyak. Sementara biayanya menjadi tukang kayu bertambah naik, karena ia menggunakan mesin generator berbahan bakar bensin untuk mengerjakan semuanya.
Dua alasan besar itulah yang kemudian memotivasinya menciptakan sesuatu. Ia memutuskan untuk membuat pembangkit listrik tenaga mikro hydro (PLTMH) di daerahnya.
Berkat keahliannya itu, Rusnang sudah berkeliling ke sejumlah kabupaten tetangga untuk merakit PLTMH. ”Alhamdulillah, sekarang saya sering dipanggil untuk membuat PLTMH di daerah lain. Seperti di Sidrap, Barru hingga Bone,” kata Rusnang.
Sampai sekarang Rusnang masih terus belajar agar PLMTH hasil rakitannya bisa lebih maksimal. Sebab untuk saat ini, operasional mesin pembangkit sering menemui kendala ketika musim hujan tiba. Apalagi jika banjir. Pipa yang digunakan untuk mengalirkan air dari sungai ke kincir sering tersumbat sampah. Jika itu terjadi, lampu di rumah warga sering padam secara tiba-tiba.
Biasanya, jarak dari sungai ke kincir PLMTH sekitar 25 meter. Pipa yang digunakan ukurannya bervariasi. Ukuran yang lebih besar dipasang di dekat sungai. Kemudian ukurannya terus mengecil hingga ke kincir. Tujuannya agar air yang keluar dari mulut pipa bisa lebih kencang dan menghasilkan putaran yang lebih maksimal.
”Semua tergantung bagaimana derasnya air. Kalau untuk yang berkapasitas 5.000 watt sampai 8.000 watt, cukup memakai pipa berdiameter 6 inci. Agar air ke kincir bisa kencang, kita harus pakai pipa yang berurutan ukuran kecilnya. Misalnya, pipa 6 inci harus disambung dengan pipa 5 inci. Sampai pada ujung yang menyemprot ke kincir, kita pakai pipa satu inci,” jelas Rusnang.
Untuk merakit dan memasang mesin PLTMH, tambahnya, harus pandai-pandai melihat kondisi sungai. ”Yang paling bagus itu kalau air terjun, tidak terlalu banyak pipa yang kita pakai untuk sampai ke dinamo,” terangnya lagi.
Saat ini sudah ada 12 PLMTH yang dibangun di Gellenge. Semuanya hasil rakitan Rusnang. Sementara pemiliknya berbeda-beda.
Rusnang hanya punya satu unit dengan kapasitas 8.000 watt. Untuk membuatnya, Rusnang harus mengeluarkan biaya sebesar Rp15 juta. PLTMH ini mampu melayani 12 rumah. Semuanya digratiskan.
Listrik yang dihasilkan dari mesin pembangkit ini biasanya juga digunakan oleh Rusnang untuk mengelas dan mengoperasikan alat pertukangan kayu miliknya.
Berbeda dengan 11 PLTMH lainnya milik warga setempat. Pemilik modal memberlakukan tarif cukup unik. Warga yang rumahnya mendapatkan aliran listrik PLTMH dikenakan tarif sebesar Rp5.000 per satu bohlam lampu setiap bulan.
Biasanya, pemilik PLTMH ini mengeluarkan biaya sebesar Rp11 juta hingga Rp12 juta untuk satu unit. Tergantung dari kapasitasnya.
Biaya tersebut dipakai membeli dinamo serta kelengkapannya, pipa dan peralatan lainnya.
Kini, warga Gellengnge sudah bisa merasakan nikmatnya lampu penerangan listrik tanpa menunggu dari PLN. Semuanya berkat tangan trampil seorang warga yang berijazah Sekolah Dasar. (*/rus/b)
