Site icon Berita Kota Makassar

Gersang Setelah Banyak Pot Dibuang

BKM/ARIF ALQADRI GERSANG-Kondisi Setapak 13 Jalan Toddopuli 11 yang tampak gersang. Tidak lagi terlihat rimbunnya tanaman serta pot yang ditanami aneka macam bunga dan tanaman lainnya.

MEMPERTAHANKAN jauh lebih sulit dari meraih. Ungkapan yang sudah sering kita dengar ini sepertinya tepat untuk menggambarkan kondisi lorong AMF di Jalan Toddopuli 11, RW 07, Kelurahan Kassi-kassi, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.

Laporan: Arif Alqadri

NAMA Lorong AMF disematkan, karena tempat ini menjadi lokasi kunjungan para wali kota se-Asean saat berlangsung Asean Mayors Forum (AMF) pada September 2015 lalu. Kondisi lorong ketika itu sangat tertata rapi dan apik. Maklum, karena akan diperlihatkan kepada para pejabat yang datang dari luar.
Namun, seiring perjalanan waktu, kini kondisi lorong tersebut telah jauh berbeda. Penataan pot bunga di depan rumah, yang dipadu dengan sentuhan cat warna hijau senada warna tembok pagar rumah warga, sudah tak seperti dulu lagi.
Sebagian warga membiarkan pot yang ada di depan rumahnya kosong tak berisi. Ada pula dari pot yang dibagikan ke warga, kini sudah pecah dan tinggal puing-puing.
Pemandangan ini langsung terlihat ketika kita memasuki lorong garden (longgar) di Jalan Toddopuli 11 Setapak 13. Di depan hampir seluruh rumah warga sudah tidak terlihat lagi pot yang ditanami bunga ataupun sayur-sayuran. Lorong ini tampak gersang.
Berbeda dengan di lorong sebelahnya, Setapak 14, tanaman di pot masih terlibat subur. Baik sayur-sayuran, buah-buahan ataupun tanaman herbal.
Sitti Ruffaidah (46), warga Toddopuli ll yang ditemui di Setapak 14 mengakui, Longgar di Toddopuli ll saat ini kondisinya sedikit berbeda dari sebelumnya menjelang AMF 2015.
”Dulunya, sebagian besar halaman rumah warga di Toddopuli ll dihiasi pot yang ditanami tumbuhan hijau. Namun sekarang warga kebanyakan memilih menghilangkan pot bunga dari depan rumah, karena banyak yang pecah disenggol mobil yang keluar masuk lorong. Apalagi yang dibagikan kepada warga berupa pot batu berukuran cukup besar yang rawan retak dan pecah,” jelasnya.
Selain itu, tambahnya, cat jalan sudah pudar. Bahkan, salah satu lorong percontohan di Kota Makassar ini masih sering digenangi air di musim penghujan. Salah satu penyebabnya, karena saluran air di depan rumah warga banyak yang dicor.
Bagi warga setempat, lorong garden menjadi salah satu pemicu untuk hidup lebih nyaman, sehat dan bersih. Mereka biasanya termotivasi untuk selalu melakukan aksi bersih lingkungan.
Karena itu, warga berharap Pemkot Makassar tetap memberi perhatian terhadap keberlanjutan program Longgar Toddopuli 11, meski ajang AMF 2015 telah berlalu.
”Pemerintah jangan hanya memberi perhatian ketika ada momen-momen tertentu. Program seperti ini harus berkelanjutan. Kami berharap bisa kembali mendapatkan bantuan pot bunga, serta ada solusi penanganan banjir yang sering terjadi,” imbuh Sitti Ruffaidah.
Dia menyarankan, jika pemkot bersedia memberi bantuan pot, diharapkan yang tidak mudah pecah. Misalnya pot yang terbuat dari karet ataupun ban bekas, karena lebih kuat dan tahan lama. (*/rus)

Exit mobile version