Site icon Berita Kota Makassar

Harga Anjlok, Petani Sawit Menjerit

BKM/ALALUDDIN BAHAS HARGA -- Waris, Kepala Bidang Pengelolaan Produksi pada Dinas Perkebunan Sulbar bersamaa anggota DPRD Sulbar dari Komisi II, Ajbar, membahas harga dalam pertemuan antara petani sawit dan perusahaan.

MAMUJU, BKM — Pertemuan penetapan harga Indeks K dan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit antara para petani sawit dengan perusahaan produsen sawit, di Hotel Srikandi Mamuju, Kamis (3/3), berlangsung cukup alot. Pertemuan ini juga turut dihadiri perwakilan dari Dinas Perkebunan Provinsi Sulbar dengan anggota DPRD Sulbar. Pertemuan ini dipimpin langsung Waris dari Dinas Perkebunan Sulbar.
Milkian, petani sawit dari Kabupaten Mamuju Utara (Matra), mengatakan, kendala yang dihadapi pihak petani sawit selama ini karena harga terlalu rendah. Bahkan, harga yang berlaku sekarang sudah tidak mampu lagi membiayai perkembangan sawit petani. ”Kami sekarang tidak dapat lagi mengembangkan tanaman sawit kami karena harganya yang anjlok. Kami berharap kepada anggota DPRD Sulbar yang turur hadir dalam pertemuan ini untuk dapat memperjuangkan nasib kami selaku petani sawit,” tuturnya.
Hafid, salah seorang petani sawit lainnya, menjelaskan, pertemuan harga TBS yang dilakukan kali ini hendaknya bisa memberi kepastian kepada petani mengenai harga yang pantas. Sementara Triniti selaku perusahaan yang mengelola buah sawit, seharusnya tidak sekadar hadir dalam pertemuan ini. Tapi harus jantan dalam mengambil keputusan terkait masalah harga.
Ia juga menyoroti tentang keberadaan perusahaan Triniti yang berdiri di Provinsi Sulbar khususnya di Kabupaten Mamuju Tengah dan Mamuju Utara tanpa ada keterlibatan pemerintah. Begitu pula dengan izin usaha yang dikantongi sifatnya sementara. Tapi kenyataannya, perusahaan ini tetap jalan hingga sekarang.
Sedangkan Kasruddin, salah seorang petani lainnya juga menyoroti keberadaan asosiasi yang tidak mampu memperjuankan nasib dan kepentingan para petani sawit. Kasruddin mengatakan, Gapki sebagai asosiasi untuk para petani sawit, ada indikasi hanya mampu berdiri dua kaki dalam memperjuangkan petani.
”Sehingga nasib kami selaku petani hanya mampu merasakan kerugian,” tandasnya.
Ia pun mendesak ke DPRD Sulbar untuk dapat melihat dengan jeli terhadap permasalahan ini. Karena selama ini, terjadi perbuatan bejat yang dilakukan para pelakunya dari pihak perusahaan yang terus membodohi masyarakat petani. Ia juga mendesak pihak pemerintah untuk turun tangan dalam menyikapi permasalahan ini.
Kepala Bidang Pengelolaan dan Hasil Produksi Dinas Perkebunan Sulbar, Waris, mengatakan, pemerintah Sulbar tetap berkomitmen terhadap persoalan harga petani sawit. ”Sedangkan perusahaan Triniti ini tetap kami pantau juga. Kami juga tetap masukkan pembelian harga yang dilakukan Triniti ini. Pemerintah sudah menetapkan harga, tapi pihak perusahaan, yakni Triniti tidak menaati penetapan harga yang disepakati pemerintah. Untuk itu, kami akan mendesak kepada mendesak pihak Triniti, harus menaati harga yang telah ditetapkan pemerintah,” ujar Waris. (ala/mir/c)

Exit mobile version