MAKASSAR, BKM — Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan Pomanto berjanji akan membuat prasasti khusus fenomena gerhana matahari di Anjungan Pantai Losari. Batu bersejarah yang akan dibuat bulan ini bertujuan untuk mengabadikan, sekaligus mengingat momentum berkumpulnya ribuan masyarakat menyaksikan gerhana matahari di salah satu ikon Kota Makassar itu.
Peristiwa tersebut memang patut dicatat dalam sejarah. Sebab ini yang pertama kalinya masyarakat Makassar berkumpul dalam jumlah besar melihat secara langsung fenomena alam langka itu.
Selain prasasti gerhana matahari di Anjungan Pantai Losari, Wali Kota yang akrab disapa Danny itu juga akan menyimpan foto-foto momentum bersejarah tersebut di museum, agar peristiwa tersebut dapat selalu dikenang dan menjadi bahan pengetahuan bagi masyarakat.
”Ini momen yang sangat penting dan bersejarah. Kita bersama-sama berkumpul melaksanakan salat gerhana dan zikir menyaksikan kebesaran Sang Maha Pencipta. Karena itu, kita akan membuat prasasti khusus gerhana matahari dan menyimpan foto-fotonya di museum,” kata Danny, usai melaksanakan salat gerhana di Anjungan Pantai Losari, Rabu (9/3).
Wakil Wali Kota, Syamsu Rizal mengatakan, gerhana matahari merupakan fenomena kosmologi, kultural dengan mozaik kesenian, multiaspek dan atraksi budaya serta aspek religi yang dapat dijadikan sebagai sarana mendekatkan diri dan senantiasa mengingat kebesaran Allah SWT.
Selain itu, momen ini juga dapat dimanfaatkan oleh Pemkot Makassar untuk menyatukan masyarakat di satu tempat, guna mengingatkan masyarakat akan pentingnya tugas dan peran personal sebagai warga masyarakat.
“Momen seperti ini juga dapat kita manfaatkan untuk mendekatkan diri dan mengingat kebesaran Allah SWT. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya sinergitas untuk mengembangkan program Pemkot Makassar. Salah satunya adalah MTR (Makassar Tidak Rantasa) dan LISA (Lihat Sampah Ambil). Disini sangat membutuhkan partisipasi masyarakat agar kehidupan bisa seimbang dan dinikmati bersama. Termasuk dalam hubungan sosial,” ujarnya.
Usai melaksanakan salat sunat gerhana, Ustad Dr Khalid Zeed Abdullah Basalamah,LC,MA memberikan pencerahan kepada seluruh yang hadir. Dikatakan, sesungguhnya peristiwa gerhana merupakan bentuk kebesaran Allah SWT yang diperlihatkan kepada umatnya.
”Untuk itu, semua umat diharapkan untuk tidak melihat fenomena ini sebagai hal yang biasa. Tetapi marilah bersama-sama menyaksikan gerhana matahari dengan beribadah mencari amal dengan salat, zikir dan berdoa. Peristiwi seperti ini sebaiknya dijadikan sebagai tempat untuk mengingat ke Sang Pencipta untuk bertobat dan berubah menjadi lebih baik,” jelasnya.
Selain salat gerhana, di tempat yang sama Pemkot Makassar juga menggelar rangkaian lain dari Festival Battu Ratema ri Bulang. Ribuan orang dari berbagai elemen masyarakat hadir di acara ini. Salah satu rangkaiannya adalah zikir bersama.
Pemkot juga mengajak masyarakat untuk berfoto bersama untuk diabadikan dan disimpan di museum.
Sambil menunjuk ke arah langit, Wali Kota bersama Wawali, Ustadz H Arifuddin Lewa, KH Muhyidin Kuraisy, dan Ketua MUI Kota Makassar, KH Ahmad Sewang serta ribuan orang lainnya dari organisasi kemasyarakatan, pelajar SD, SMP, SMA, dan SMK se-Makassar, SKPD lingkup Pemkot, anggota DPRD kota Makassar, TNI, dan Polri yang dominan mengenakan baju putih, foto bersama dengan menunjuk ke arah langit sambil mengingat kebesaran Allah SWT.
Selama 1 menit 22 detik warga yang memadati anjungan pantai Losari dapat melihat pada giant screen, bulan secara perlahan-lahan menutupi matahari hingga 88 persen.
Menurut Irwan Slamet, astronom dari Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kontak pertama matahari dan bulan terjadi pada pukul 07.26 Wita. Eclipse sebesar 88 persen terjadi pada pukul 08.35 Wita. Kontak terakhir antara bulan dan matahari terjadi pada pukul 09.55 Wita. Di Makassar sendiri, gerhana matahari mencapai 88 persen terjadi tepat pukul 08.35 Wita.
“Gerhana matahari total pada titik yang sama bisa terjadi 375 tahun lagi. Hal ini menunjukkan kebesaran Ilahi,” kata Irwan.
Linda, salah seorang warga dari Kabupaten Gowa mengaku sengaja datang ke Anjungan Pantai Losari bersama keluarganya untuk menyaksikan fenomena gerhana matahari yang pertama kalinya bisa disaksikan di tempat ini.
“Saya ke sini menggunakan sepeda motor berboncengan dengan suami dan satu anak. Dari jam 6 pagi saya sudah tinggalkan rumah. Saya kira gerhananya dilihat hitam seperti yang ada di televisi. Ternyata yang terjadi tidak gelap sama sekali,” ucapnya.
(arf/rus)
Danny Buat Prasasti Gerhana di Losari

Gerhana Matahari di Makassar