Site icon Berita Kota Makassar

Lebih Asyik Tangkap Ikan di Malam Hari Pakai Panah

BKM/ARIF ALQADRI PAOTERE-Husaini, nelayan asal Bangko-bangkoang, Kabupaten Pangkep berada di atas kapalnya usai menjual ikan hasil tangkapannya di Palabuhan Paotere, Minggu (13/3).

SALAH satu tempat pelelangan ikan yang terkenal di Makassar adalah Paotere. Sejak lama tempat ini menjadi pusat transaksi tangkapan para nelayan di laut. Denyut nadi aktivitasnya terus berlangsung dari dulu hingga sekarang.

Laporan: Arif Alqadri

MINGGU pagi kemarin cuaca cukup cerah. Padahal pada subuh harinya hujan yang cukup deras mengguyur. Para nelayan terlihat sibuk melakukan jual beli ikan. Mereka menawarkan barang dagangannya kepada para pembeli.
Nelayan yang menjual hasil tangkapannya di Paotere berasal dari beberapa daerah tetangga Makassar. Salah satunya Kabupaten Pangkep, tepatnya dari Bangko-bangkoang. Mereka mengais rezeki dari menangkap ikan di lautan untuk kemudian dijual.
Cerita suka dan duka menggeluti profesi ini disampaikan Husaini (34), salah seorang nelayan asal Bangk-bangkoang, Pangkep. Dia memulainya dengan menuturkan soal tantangan yang harus dihadapinya ketika melaut.
Menurutnya, hujan deras yang disertai angin kencang serta gelombang tinggi menjadi hambatan cukup berarti baginya. Bahkan tak jarang, nelayan sama sekali tidak membawa pulang ikan hasil tangkapan akibat kondisi cuaca yang kurang bersahabat.
Pria berkulit cokelat asal Mandar ini menghabiskan waktunya di tengah laut untuk mencari ikan. Menggunakan perahu sekoci ataupun kapal ikan yang berukuran sedang, ia sangat menggantungkan hasil tangkapannya dari kondisi cuaca.
”Kalau musim hujan, kami harus sabar karena mendapatkan hasil tangkapan yang sedikit. Bahkan bisa saja tidak dapat ikan sama sekali. Apalagi kebanyakan nelayan saat ini belum memiliki peralatan canggih untuk mendeteksi keberadaan ikan yang ada di tengah laut,” terang Husaini.
Oleh para nelayan, bulan Maret disebut sebagai musim panen. Biasanya mereka hanya merasakan arah angin serta burung-burung yang terbang di atas permukaan air sebagai petunjuk.
Setelah merasa berada di tempat yang tepat, dimana mereka mengapung di laut lepas yang di bawahnya dihuni segerombolan ikan, para nelayan segera membuang jangkar dan jaring yang sering disebut boa.
Biasanya, Husaini bersama tujuh orang temannya mencari ikan di tengah laut. ”Paling jauh di Pulau Lima yang berada di Kabupaten Pangkep,” ujar Husaini di atas kapal putihnya.
Setelah mempersiapkan stok makanan seperti beras, mie instan, telur dan juga solar, ia bersama teman-temannya berangkat dari Pangkep menuju laut lepas selama berhari hari. Ketika merasa sudah cukup jauh berada di tengah laut, para nelayan langsung bergegas membuang jaring yang sudah diisi umpan dari ikan. Setiap satu jam, para nelayan menarik jaring yang telah disebar di tengah laut. Mulai pukul 07.00 Wita hingga 17.00 Wita.
Aktivitas para nelayan di tengah laut tidak cukup sampai disitu. Pada malam harinya, mereka tetap sibuk menangkap ikan dengan menggunakan panah yang telah didesain khusus.
Modelnya cukup sederhana. Hanya menggunakan paku dengan ukuran yang tidak cukup panjang dan diikatkan dengan tali plastik.
Bagi para nelayan, menangkap ikan dengan menggunakan panah di malam hari jauh lebih asyik dibanding dengan menggunakan jaring. Karena di malam hari, ikan-ikan yang ada di dalam air dapat dengan mudah dilihat dan tidak terlalu aktif seperti di siang hari, yang tergolong lebih agresif.
”Kalau malam kita kembali menangkap ikan dengan menggunakan busur. Karena ikan di malam hari tenang dan tidak agresif, jadi kita bisa dengan mudah mendapat ikan. Itu kita lakukan dari pukul 20.00 Wita sampai dini hari. Kalau cuaca mendukung, saya biasa membawa ikan ke TPI Paotere sekitar 1 ton, dan paling sedikit 7 kuintal. Kebanyakan ikan yang ditangkap jenis katamba, cepak dan ikan merah,” tambahnya. (*/rus)

Exit mobile version