BANYAK cara yang ditempuh pengelola dan penyedia jasa foto studio untuk tetap bertahan di bisnis ini. Salah satunya adalah dengan menawarkan konsep tema dan pernak pernik unik untuk menarik hati para pengunjung yang ingin berfoto ria.
Laporan: Arif Alqadri
SEBUAH rumah toko (ruko) di Jalan Mannuruki Raya disulap menjadi sebuah studio foto yang terbilang berbeda. Pemiliknya adalah Pahlevi, pria kelahiran Sorong, 28 November 1981. Ia menamai tempat usahanya ini FX Studio.
Dengan menawarkan konsep dan tema Vintage 70-an, studio foto milik Phalevi yang berada di lantai II kini cukup dikenal di kalangan remaja, khususnya para cewek.
Studio Foto FX berada tepat di pinggir jalan. Untuk menemukannya tidaklah sulit. Namun jangan terkecoh. Karena di lantai satu ruko ini dijadikan klinik kesehatan.
Ketika naik ke lantai dua, suasana tahun 70-an begitu kental terasa. Berbagai pernak pernik seperti televisi, kamera, telepon ataupun lampu tempo dulu tertata rapi di setiap meja yang ada di dalam ruangan.
Hal lain yang menambah klasiknya suasana di dalam studio Foto FX, karena dinding tembok telah didesain dengan sentuhan cat berwarna warni.
Sebelum berfoto, para pengunjung harus terlebih dulu mendaftar atau registrasi pembayaran. Harga yang ditawarkan studio Foto FX terbilang cukup terjangkau, mulai dari Rp80 ribu hingga Rp130 ribu. Setiap pengunjung berhak berfoto di tiga tempat dengan latar belakang yang berbeda.
”Ada beberapa paket yang kami tawarkan. Untuk paket couple Rp80 ribu, paket bertiga Rp60 ribu, paket berempat Rp80 ribu, paket lima sampai sepuluh orang Rp130 ribu. Di atas sepuluh orang, hanya dikenakan harga Rp10 ribu tiap orangnya. Itu semuanya berhak berfoto di tiga background berbeda,” jelas Pahlevi di studionya, Selasa (15/3).
Menurut Pahlevi, setiap enam bulan sekali ia mengganti tema atau konsep di studio fotonya. Itu ia lakukan untuk tidak membuat bosan para pengunjungnya. Apalagi keberadaan studio fotonya terbilang cukup baru, tepatnya pada Maret 2015 lalu.
Sejak awal berdirinya, studio foto miliki Pahlevi diberi nama Fratma. Namun kemudian berubah menjadi FX. Namun sampai saat ini para pengunjung masih saja melekat menyebut nama Fratma.
Dibantu seorang keluarganya yang seorang cowok, mereka berdua setiap hari melayanai ratusan pengunjung yang datang mulai pukul 11.30 hingga pukul 20.00 Wita.
Dari usahanya ini, Pahlevi bisa mendapatkan penghasilan sedikitnya Rp1 juta sampai Rp1,7 juta setiap hari. Khusus di hari Sabtu, Minggu dan dihari libur lainnya, ia mengaku sedikit kewalahaan melayani pengunjung yang datang.
Meski demikian ia tetap semangat. Pahlevi berencana akan mengambil tenaga bantu setelah merintis usahanya selama dua tahun.
Hasil yang didapatkan setiap hari digunakan untuk membayar seorang karyawan, dan sebagian lagi ia tabung. Pahlevi ingin suatua saat nanti bisa membeli ruko untuk dijadikan tempat usaha. Karena ruko yang saat ini ia tempati milik mertuanya yang dipinjamkan.
“Saya tidak bayar uang sewa disini. Saya cuma bayar listrik dan air. Tapi saya tetap mau punya ruko sendiri supaya lebih puas lagi,” tandasnya.
Salah seorang pengunjung FX Studio, Rezki mengaku sering berkunjung ke tempat ini. Mahasiswa ini beralasan, selain unik dan klasik. ia juga bisa diberikan file sebanyak banyaknya secara gratis. Untuk hasil jepretan, ia bersama teman-temannya mengaku sangat puas melihat hasilnya.
“Saya sering datang foto disini sama teman-teman yang berbeda-beda. Selain murah, hasilnya juga memuaskan. Kita bisa mendapatkan file yang banyak,” katanya.
Setiap kunjungannya, ia mengaku hanya mengumpulkan dana bersama teman temannya sesuai jumlahnya. Biasanya ia datang dengan jumlah 10 sampai 20 orang, dengan mengumpulkan uang Rp15 ribu per orang.
“Saya biasa saweranji sama teman teman. Kalaupun ada sisanya, uang saya pasti digunakan untuk cuci foto hasil jepretan kita,” akunya. (*/rus)
