Site icon Berita Kota Makassar

Tak Mampu Bayar Biaya Operasi, Bayi Meninggal

MAKASSAR, BKM — Suasana di sekitar Masjid Ibnu Sina, Jumat (18/3) pukul 16.00 Wita tampak ramai. Seseorang terlihat berada di bagian menara dan hendak meloncat ke bawah.
Belakangan diketahui jika pria nekat itu bernama Hafid (37), warga Cambe Beru, Kabupaten Maros. Ia sudah putus asa dan mencoba untuk bunuh diri.
Informasi yang diperoleh dari Fatma (30), adik Hafid, kakaknya melakukan perbuatan nekat itu lantaran depresi setelah anaknya meninggal dunia. Nyawa bayi yang baru lahir itu tak bisa diselamatkan, karena seharusnya menjalani operasi cesar. Namun, operasi tak bisa dilakukan, sebab Hafid tak mampu membayar.
Awalnya, istri Hafid dibawa ke Rumah Sakit Umum Salewangang untuk melahirkan. Namun, pihak RS kemudian memberi rujukan ke RS Ibnu Sina, lantaran istri Hafid tak bisa melahirkan normal.
”Jadi awalnya kakak ipar saya dibawa ke RS Salewangang. Kemudian dirujuk ke RS Ibnu Sina karena harus dioperasi. Setibanya di RS Ibnu Sina, kakak saya tidak sanggup menyediakan permintaan biaya operasi dari rumah sakit sebesar Rp15 juta,” jelas Fatma.
Hafid yang hanya punya kartu Jamkesmas sebenarnya sudah berusaha untuk menyediakan uang seperti yang diminta pihak rumah sakit. Hanya saja usahanya itu gagal. Ia tak bisa mendapatkan pinjaman sebesar itu dalam waktu secepatnya.
Karena tak cepat dioperasi, istri Hafid kemudian melahirkan. Namun bayinya terlahir dalam kondisi meninggal dunia.
“Hanya karena tidak sanggupki kodong bayarki uang untuk biaya cesar Rp15 juta, anak yang dilahirkan istrinya meninggal dunia,” ujar Fatma sambil menangis.
Mendengar anak yang dilahirkan istrinya meninggal dunia, selang beberapa waktu kemudian Hafid pun berbuat nekat. Ia memanjat ke atas menara masjid lalu teriak-teriak hendak meloncat dari atas menara.
Aksi Hafid itu membuat ibu, anak serta sanak saudaranya histeris. Warga serta pembesuk pasien langsung geger. Namun setelah mendengar cerita dari pihak keluarga tentang penyebab Hafid melakukan hal itu, warga serta pembesuk terlihat sedih.
Beberapa keluarga mencoba berteriak dan membujuk Hafid untuk turun. Namun permintaan itu yak digubris.
Salah seorang anaknya kemudian berusaha membujuk sang ayah agar turun. ”Ayah, turunki,” teriaknya sambil menangis. Beberapa warga juga tak mampu menahan linangan air matanya.
Bukan hanya anaknya, ibu serta saudaranya yang lain juga membujuk Hafid agar segera turun. Tapi semua itu diabaikannya.
Barulah setelah seorang warga bernama Abbas (47) yang menyuruhnya untuk turun, Hafid menurut. Abbas menyuruh Hafid turun dengan bahasa Makassar yang kental.
”Hafid naungko. Teako pakasirikia. Katte anne tau Jeneponto,” teriak Abbas. Artinya; Hafid turunko. Jangan bikin malu. Saya ini orang Jeneponto.
Ternyata, apa yang disampaikan Abbas itu dituruti Hafid. ”Iye, baungja saribattangku (iya, saya turun saudaraku),” ujarnya.
Begitu Hafid turun, sanak keluarga langsung menyambutnya disertai isak tangis. (ish/rus)

Exit mobile version