Site icon Berita Kota Makassar

Kadang Menyesali Hidup Terlahir Buta

PENGALAMAN membuat hidup kita semakin lebih memahami arti kehidupan. Cobaan dan rintangan seakan jadi bumbu penyedap, senang, bahagia, derita dan kesedihan selalu datang satu paket.

Hanya memang, kadang setiap kekurangan dalam hidup selalu saja disesali. Hal tersebut juga dialami Samsidar, penjual keripik jagung tuna netra di Jembatan Hertasing.
Mendapat kondisi fisik cacat di kedua matanya sejak lahir, kadang membuat Samsidar atau akrab disapa Cia menyesali hidupnya dan minder dari orang-orang sekitarnya dengan alasan malu.
Bahkan sejak kecil sampai saat ini, wanita kelahiran Gowa 30 Desember ini masih sering memiliki perasaan itu. Karena setiap kali dia berjalan dengan bantuan tongkat, sering mendengar anak-anak mengejeknya.
Mendengar ejekan tersebut membuat perasaan Cia semakin sedih.
Pengalaman menyedihkan juga dia rasakan ketika terjatuh ke dalam got karena tidak sengaja menginjak batu. Parahnya, dia mendapat cemohan dan cibiran orang yang ada disekitarnya. “Sampai sekarang anak-anak ataupun orang dewasa kadang mengejek saya dengan kata-kata yang tidak pantas seperti “Ih… ada orang buta lewat, itu buta betulan kah,” ucap Cia mencontohkan.
Cemohan dan cibiran dari orang menjadi semangat untuk Cia terus dan terus berusaha. Bahkan dia bercita-cita akan mengobati kedua matanya, termasuk berobat untuk mendapatkan keturunan.
Cia juga terus berharap, rezeki selalu hadir di depan matanya yang buta dari orang-orang yang ingin membeli keripik jagung.
Meski hidup sangat susah, harga barang yang dibeli semakin mahal, si penjual kerupuk buta ini tepat berusaha dan berusaha. Menurutnya, rezeki, hidup, mati termasuk jodoh semuanya kepada Allah, tetapi harus tetapi berusaha untuk mencarinya.
Setiap hari Samsidar juga berkeliling sambil menenteng keranjang plastiknya dengan menggunakan tongkat setianya yang terbuat dari pipa almunium yang mengantarnya berjalan. Panjang tongkatnya tak lebih dari 120cm. Tongkat itu bergerak menyilang mendahului langkahnya atau bergerak di kedua sisinya. Tongkat itu adalah mata. Memastikan bahwa tak ada sesuatu yang membuatnya terantuk.
Dia-pun tetap berharap tidak ingin berharap belas kasih dari orang orang disekitarnya untuk memberikan dia uang dengan cara meminta-minta seperti tuna netra lainnya.”Allah selalu memberikan rezeki ke umatnya yang selalu berusaha. Allah juga sangat melarang umatnya untuk meminta-minta tanpa berusaha. Sekecil apapun rezeki yang diperoleh itu semua harus disyukuri,” jelas Samsidar di depan penulis.
Sambil sesekali menyuruh penulis mencoba keripik ubi-nya, dia mengaku, menjual keripik jagungdilakoninya sudah dua tahun lebih. Dengan bemodal keranjang yang telah diisi beberapa bungkusan jagung yang telah dikemas di dalam plastik bening.
Keripik jagung itu dia peroleh dari seseorang yang menitipkan untuk dijualkan dengan cara bagi hasil. Setiap sore sejak pukul 16:00 Wita sampai pukul 23:00 Wita, dia bersama suaminya yakni Abdul Rahman yang juga penyandang tuna netra menjual keripik jagung tersebut.
Dia juga menyewa jasa bentor dari rumahnya di Desa Lembangparang, Kabupaten Gowa menuju Hertasing.
“Saya setiap hari menyewa bentor menuju Hertasing. Hasil penjualan keripik saya sisihkan untuk membayar bentor. Kalau hasil penjualan biasanya sebesar Rp130 sampai Rp200 ribu dengan menjual sebanyak 30 bungkus lebih keripik jagung dengan harga setiap bungkus Rp5 ribu. Pembeli rata-rata para pengendara yang mampir,” kata Samsidar.
bahkan, dia bisa membawa uang lebih yang diperolehnya dari sisa kembalian yang tidak diambil oleh pembeli.”Banyak yang membeli keripik memberikan uang kembaliannya ke saya dengan alasan sedekah,” ujarnya.
Terkait proses pengembalian uang ke pembeli, dia mempercayakan ke pembeli untuk mengambil sendiri kembaliannya.”Saya tidak bisa melihat sama sekali dek, termasuk kalau mengembalikan uang pembeli. kembalian uang pembeli saya hanya percayakan ke mereka untuk membayar saya sesuai harga atau menukar sendiri uangnya dengan uang yang ada di keranjang saya. Alhamdulillah saya tidak pernah merasa rugi atau ada orang yang kasih uang salah, karena setiap sampai di rumah orang di rumah yang hitung pendapatan rata-rata sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu setiap hari,” ucapnya.(arf/war)

Exit mobile version