MAKASSAR, BKM — Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sulawesi Selatan kian massive.
Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Sulsel, hingga Maret 2016, tercatat sudah 15 laporan yang masuk dan diterima instansi tersebut.
Sementara untuk tahun lalu, kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 1.984 kasus.
Kepala BPPKB Sulsel, Andi Nurlina menjelaskan, hampir 1188 kasus kekerasan dialami korban di lingkungan rumah tangga, 260 kasus terjadi di tempat kerja dan sisanya 545 kasus di tempat lainnya, seperti sekolah.
“Yang paling mencengangkan 60 persen tempat kejadiannya berada di lingkup rumah tangga, yang harusnya menjadi tempat paling aman bagi anak dan perempuan,” tuturnya kepada wartawan, Rabu (23/3).
Andi Nurlina mengemukakan, kasus kekerasan ini terbagi atas empat unit layanan, mulai dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Provinsi 72 kasus, P2TP2A kabupaten/kota 1112 kasus, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Polda Sulsel 365 kasus dan – Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Sulsel 435 kasus.
Dia melanjutkan, faktor sosial sangat berpengaruh pada kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Salah satu contohnya adalah kasus kematian bayi Alif di Gowa yang disebabkan oleh permasalahan rumah tangga, mulai dari bapak tiri dan ibunya belum matang berumah tangga serta pernikahan dini saat pernikahan pertamanya,” kata Nurlina, di ruang kerjanya, Rabu 23 Maret.
Untuk mencegah tindakan kekerasan pada anak dan perempuan, kata A Nurlina, pihaknya akan fokus pada penguatan ketahanan keluarga. Karena itu berbagai pelatihan dan sosialisasi dilakukan pihaknya bersama instansi lainnya, seperti dinas sosial.
“Kita harus kuatkan ketahanan keluarga, dengan bekerjasama dengan tim PKK. Selain itu, kita banyak melatih guru-guru, tokoh masyarakat, tokoh agama untuk ikut mencegah kekerasan pada anak serta perempuan (parenting),” tambahnya.
Lebih jauh, Nurlina menyebutkan hampir 65 persen masalah sosial yang dialami oleh anak- anak, bermula dari orang tua mereka sendiri. Dimana kebanyakan orang tua cenderung memenuhi semua keinginan dari sang anak tanpa memikirkan dampak kedepannya.
Terkait kekerasan seksual yang banyak terjadi pada anak- anak, Nurlina menyarankan agar sejak usia dua tahun diberikan pelajaran seks. Ini untuk menghindarkan anak- anak dari kekerasan seksual dari lingkungan sekitarnya.
Untuk kasus kematian Alif, bayi berusia 13 bulan yang dibunuh ibu kandungnya, Mila (17) dan ayah tirinya, Sudirman (32) menyita perhatian publik. Pihak BPPKB Sulsel, berharap pelaku bisa diberikan hukuman seberat-beratnya, agar bisa menjadi pembelajaran.
Dia menegaskan, tim dari P2TP2A Sulsel telah turun tangan untuk membantu P2TP2A Gowa.
“Itu kami lakukan setelah ada permintaan dari daerah. Termasuk kasus ayah yang menghamili anaknya sendiri di Sinjai, sementara kita juga tangani,” pungkasnya.
Di tempat terpisah, artis film Nova Elisa, tampil sebagai pembicara pada acara talkshow yang merupakan puncak peringatan Hari Perempuan International 2016 yang diselenggarakan di ballroom Hotel Horison Makassar, Selasa (22/3) lalu.
Nova Elisa adalah pemrakarsa kampanye Suara Hati. Nova hadir sekaligus untuk menyebarkan keprihatinan dan dukungan terhadap kaum perempuan tanah air. Terutama yang mengalami kekerasan rumahtangga. Kegiatan talkshow ini menggandeng berbagai mitra yang berfokus pada pemberdayaan perempuan di kota Makassar, seperti tim penggerak PKK kota Makassar, LBH Apik, serta Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPPA) kota Makassar.
Hadir juga sebagai pembicara Wali Kota Makassar, Moh Ramdhan ‘Danny’ Pomanto, Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal, Ketua Tim Penggerak PKK Makassar, Indira Yusuf Ismail beserta jajarannya. Talkshow yang mengusung topik ‘Mari Menghapus Kekerasan dalam Rumah Tangga’.
Pada kesempatan tersebut walikota Ramdhan Pomanto mengukuhkan P2TP2A, Solidaritas Peduli Perempuan (SPP), Paralegal serta penandatangan MoU bersama kejaksaan, kepolisian, Rumah Sakit Bhayangkara, Rumah Sakit Umum Daya, dan Fakultas Psikologi UNM. Untuk di kota Makassar, kampanye ‘Suara Hati’ ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan roadshow yang telah dilaksanakan di dua kota.(rhm-mir)