KALAU orang sudah mencintai pekerjaannya, otomatis sangat sulit mereka meninggalkannya. Hal yang sama dirasakan oleh Dg Tayang kakek tua penjaga Benteng Somba Opu.
Laporan: RAHMAN
Pria kelahiran Makassar tahun 1954 mengaku siap mengabdikan diri dan menghabiskan sisa hidupnya di benteng. Bahkan dirinya tidak lagi berpikir dan mencari profesi lain.
Sebab selain umurnya sudah tidak mendukung, hidupnya juga telah dijamin oleh negara sebagai salah seorang abdi negara atau pegawai negeri sipil (PNS) yang telah diangkat pada tahun 2007 silam di Kabupaten Gowa.”Saya telah bersyukur terangkat sebagai PNS. Lebih bersyukur lagi saya tetap berada di benteng menghabiskan sisa hidup saya setelah pensiun,” jelasnya.
Terkait kondisi rumah adat yang sangat memprihatinkan, Dg Tayang berharap kepedulian pemerintah dibutuhkan melihat kondisi rumah adat yang mulai hancur.
Dg Tayang juga memperlihatkan beberapa bangunan seperti atap bocor jika musim hujan di rumah adat Kajang.
“Saya selaku penjaga hanya bisa berharap bahwa Pemerintah Provinsi memperhatikan benteng Somba Uposebagai simbol kejayaan Sulawesi Selatan,” harap Dg Tayang.
Selain menjaga benteng, Deng Tayang juga mendapat tugas tambahan membersihkan lantai dan halaman rumah Museum Pattingalloang. begitu pun dengan baruga, rumah adat Kajang, rumah adat Mandar dan rumah adat Bugis.
Tugas yang dia pikul setiap hari tidak membuat Dg Tayang mengeluh dan putus semangat. Kelima rumah bersejarah itu menjadi sebagai saksi pengabdian Dg Tayang yang tidak pernah pudar dan putus asa.” Setiap hari saya membersihkan lantai dan halaman rumah adat. Saya bangga bisa menjaga museum bersejarah ini,” kata Dg. Tayang, sambil sesekali mengusap keringat di dahinya.
Menurutnya, museum dan keempat rumah adat masih menjadi tanggung jawab pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, sementara rumah adat yang lain seperti rumah adat daerah adalah tanggung jawab daerahnya sendiri.”Ini ji yang ditanggung pemprov. Kalau rumah adat yang lain masing-masing ditanggung oleh daerahnya sendirinya,” jelasnya.
Dari perjalanan panjangnya mengabdi sebagai penjaga lokasi bersejarah, dia mengaku bangga karena diberikan kepercayaan.” Pasti banggalalah menjaga lokasi bersejarah,” tuturnya.
Apalagi dia tidak sendiri, karena ditemani dengan tiga orang sekuriti dan juga dihibur oleh pengujung yang rata-rata mencapai 50 orang perbulan.
Untuk tahun ini saja, jelas Dg Tayang pengunjung telah mencapai 132 orang yang terbagi pada bulan Januari sebanyak 56 orang, bulan Februari sebanyak 35 orang dan Maret sebanyak 41 orang.(man/war)
