Site icon Berita Kota Makassar

Kenangan Bubur Komando

BKM/ARIF ALQADRI Dwi Rezky Setiati

ADA banyak cerita, baik suka maupun duka dirasakan personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Makassar saat mengikuti pelatihan. Salah satunya seperti dialami Dwi Rezky Setiati.
Wanita kelahiran Maros, 25 Agustus 1996 yang bergabung menjadi Satpol PP Kota Makassar tahun ini, mengaku terkesan ketika mengikuti pelatihan. Dwi, sapaan akrabnya, mengikuti pelatihan di Lantamal.
Ada berbagai macam jenis pelatihan yang diikutinya. Mulai dari baris berbaris, bela diri, renang, dayung, jerit malam, dan beberapa kegiatan lainnya yang ia jalani selama seminggu.
Sebelum berangkat ke Lantamal, ia mengaku sangat cemas dan khawatir dengan apa yang bakal terjadi. Karena Dwi sadar dirinya akan mendapatkan pelatihan ala militer. Namun berkat dorongan kedua orang tuanya, ia kemudian memberangikan diri untuk menjalani proses pelatihan.
BKM/ARIF ALQADRI
Dwi Rezky Setiati“Setelah surat izin dari orang tua saya serahkan ke kantor, saya langsung dibawa bersama beberapa teman ke Lantamal untuk mengikuti pelatihan,” ujarnya.
Ketika berada di lokasi pelatihan, rasa khawatir dan cemas kembali menghantui. Namun karena suasana saat itu cukup ramai, lama kelamaan ketegangan yang dirasakan kian berkurang.
Namun ketegangan ia kembali muncul ketika ia dibangunkan dan langsung melakukan baris berbaris di pagi buta. Apalagi, sesekali ia mendengar jerit tangis teman-temannya saat latihan dimulai.
“Seru juga latihannya, karena berkat itu saya merasa fisik dan mental saya lebih kuat. Meski awalnya banyak teman-teman takut bahkan ada yang menangis. Tapi lama kelamaan mereka menikmati apa yang diberikan kepada pelatih, khususnya saat disuruh makan bubur komando,” ujarnya.
Ia menjelaskan, diantara pelatihan seperti bela diri, renang maupun dayung, makan bubur komando yang sampai saat ini ia ingat. Karena saat itu ia disuruh untuk menghabiskan bubur yang telah diisi sayur bayam, labu dan telur mentah alias belum dimasak lalu dimakan dengan cara estapet.
” Paling seru saya lihat waktu makan bubur komando, karena rasanya yang tidak enak disuruhki habiskan. Disitu suara orang yang menangis kembali saya dengar. Tetapi saya tahan dan tetap berusaha memakan bubur itu yang diharuskan untuk dihabiskan secara bergantian,” terangnya.
Berkat latihan ini, anak bungsu dari dua bersaudara ini merasakan banyak perubahaan di dalam dirinya. Ketegasan, disiplin dan rasa patuh terhadap aturan terpatri dalam dirinya.
Saat ini, Dwi yang suka naik motor trail ini menikmati hari-harinya bekerja sebagai Satpol PP yang bertugas menegakkan aturan. (arf/rus)

Exit mobile version