GOWA, BKM – Anggota DPR RI Indira CHunda Thita Syahrul Yasin Limpo (SYL) menggelar reses di Dusun Botomanai, Desa Kanjilo, Kecamatan Barombong Gowa. Dalam kegiatan ini, Sabtu (26/3) dan dihadiri selain 60 ketua kelompok usahatani padi serta enam ketua kelompok tani ternak yang diprakarsai Abdul Wahid Dg Naba S. Sos.
Reses sebelumnya, Thita menyerahkan teknologi mekanik berupa alat tanam padi. Thita mengatakan, sepuluh tahun terakhir telah terjadi beberapa perubahan dalam proses /sistem hubungan kerja usaha tani yang disebabkan oleh berkurangnya luas penguasaan tanah bagi petani karena dijual, diwariskan, dihibahkan, atau disewakan.
“Kondisi ini sangat mempengaruhi besarnya kebutuhan tenaga kerja baik laki-laki maupun perempuan. Selanjutnya ledakan pertumbuhan penduduk mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, baik dalam rumah tangga sendiri, maupun dari rumah tangga lain, serta pemakaian teknologi baru berupa sarana input modern dalam usahatani yang meningkatkan produksi,” jelas putri Gubernur Sulsel dua priode itu.
Lanjutnya, bahwa meningkatkan pemakaian tenaga kerja dalam menjaga konsistensi pemakaian dan pemanfaatan input modern tersebut dan pemakaian alat mekanik yang banyak menggantikan tenaga manusia terutama tanaga kerja perempuan, menimbulkan masalah baru baik dibidang pertanian maupun di luar pertanian.
Menurutnya, perubahan sosial pada dasarnya merupakan gerakan searah, lineer, progresif dan perlahan-lahan, membawa masyarakat berubah dari tahapan primitive ke tahapan yang lebih maju dan membuat berbagai masyarakat memiliki bentuk dan struktur serupa. Premis ini memberikan gambaran secara implisit membangun kerangka teoritis dari perspektif modernisasi sebagai proses transformasi.
“Seiring dengan berkembangnya teknologi di bidang pertanian, urai Thita SYL, seperti, bibit, pupuk dan obat-obatan, juga telah berkembang pula teknologi mekanis seperti, traktor dan alat-alat yang digunakan dalam penyiapan lahan, mesin untuk tanam bibit, panen dan pascapanen,” terang Legislator PAN itu. Teknologi mekanis terebut, kata Titha, jelas menghemat penggunaan tenaga kerja di satu sisi, tapi disisi lain dapat menggeser bahkan menggantikan tenaga kerja (pria dan wanita). Dalam hal ini tentunya akan menimbulkan masalah baru apalagi dengan pertumbuhan penduduk yang pesat, lapangan kerja terbatas serta penyempitan lahan pertanian.
Lain halnya laporan Ketua Kelompok Tani Tangalla, Mahmud Dg Talli selaku penerima mesin penanam bibit padi mengatakan, teknologi mekanik yang diterima dari Thita SYL akhir musim tanam 2015 itu rencana digunakan pada mesin tanam padi gadu pada MT 2016. Sampel pengembangannya disiapkan 15 Ha dengan 50 Kg /Ha bibit padi. (za-ril)