Site icon Berita Kota Makassar

Sering Kucing-kucingan Dengan Satpol PP

SETIAP kehidupan pasti memiliki suka maupun duka, dan apapun yang terjadi itu merupakan nikmat yang diberikan oleh sang pencipta.

Laporan: ARIF AL QADRY

Itulah yang selalu ditanamkan Dg Made (57) tahun. Menurutnya setiap usaha pasti memiliki tantangan, seperti apa yang sering dia alami selama dia menjual pakaian di ruas Jalan Hertasning Baru. Bahkan beberapa hari terakhir dia mengaku sering bermain kucing-kucingan dengan Satpol PP Kota Makassar yang kabarnya akan melakukan penggusuran lapak pedagang kaki lima (PK5).
Kota Makassar boleh berbangga dengan dengan jargon Makassar Dua Kali Tambah Baik. Namun, kota Daeng ini belum lepas dari persoalan pedagang kaki lima lima yang mengisi sejumlah ruas jalan. Mereka memang tak ingin digusur karena omzet yang diperoleh-nya terbilang tinggi.
Di Jalan Hertasning Baru diakui sebagai lokasi yang banyak dipadati pedagang mulai pagi hingga malam hari. Setelah magrib, lebih ramai lagi karena para pedagang membuka lapak jualan. Ada yang menggelar terpal, lantas menata barang dagangan. Selain itu, ada yang memakai papan untuk berjualan.
Berbagai macam barang dagangan mereka jual. Mulai pakaian seperti kaus oblong, baju, dan kemeja, hingga celana. Mereka juga menjual sandal, ikat pinggang, dompet, dan tas.
Dg Made mengaku, meski dirinya terkadang sering kejar-kejaran dengan satpol PP, penghasilan dari berdagang itu mampu menyekolahkan anaknya.
Laki-laki yang mulai memutih rambutnya itu juga menceritakan pernah berkelahi dengan oknum pihak Kelurahaan yang ingin membongkar lapaknya, karena memaksa untuk membongkar lapaknya tanpa terlebih dulu memberikan surat teguran atau himbauan lainnya.”Dulu saya pernah marah dan ingin berkelahi dengan oknum yang mengaku pegawai. Mereka datang dan langsung menusuk tendaku pakai bambu dan memaksa membongkar tenda,” ujarnya.
Padahal dia rajin membayar retribusi dari pihak PD Pasar sebesar Rp5 ribu dan membayar retribusi kebersihan. Selain itu, sampah-sampah yang ada disekitar lapaknya juga tetap dia bersihkan dan tidak segan menegur pemilik lapak lainnya yang tidak menjaga kebersihan yang ada disekitarnya.
“Saya juga sering tegur pemilik lapak lainnya untuk menjaga kebersihaan sebagai kontribusi kita mencari rezeki diatas tanah pemerintah,” katanya.
Ia berharap Pemerintah Kota Makassar dapat lebih memperhatikan masyarakat yang ingin berusaha mencari rezeki halal untuk kehidupan keluarganya.
Memang kreatifitas Dg Made tiada tandingannya.
Sambil sesekali meneguk minuman dingin dari gelasnya, Dg Made juga menceritakan kalau dia memulai bisnis berdagang pakaian, setelah membaca minat pasar yang semakin besar di Jalan Hertasing Baru. Bahkan Dg Made mulai memberanikan diri untuk menyediakan pakaian pria dan wanita yang juga berukuran besar serta pakaian dalam, kaos kaki.
Bahkan bisnis tersebut sudah dia tekuni sekitar 5 tahun lalu tepatnya pada 2011.
Meski sebelumnya pria kelahiran Jeneponto 10 Mei itu mengaku pernah menjual es kelapa di bilangan Jalan AP Pettarani tepatnya di tahun 2006 sampai 2011 silam.
Sepinya pembeli, tingginya persaingan ditambah harga kebutuhan seperti kelapa yang dipesan langsung dari Bulukumba dan Jeneponto mengalami kenaikan harga membuat dia berlih untuk membuka usaha baru dengan menjual pakaian seperti jas pesta, pakaian dalam cowok, kaos kaki sampai sarung tangan dan asesoris pendendara seperti skrab.
Dengan membuka lapak semi permanen yang berdiri diatas drainase di Jalan Hertasning Baru dengan ukuran panjang sekitar 5 meter dan lebar 3 meter, ternyata mampu memberikan pendapatan yang cukup lumayan.
“Saya bersyukur dengan usaha baru saya dengan menjual pakaian baru seperti jas pesta, celana dalam cowok, baju, celana dan kaos kaki bisa mendapatkan omset setiap hari sebesar Rp700 ribu sampai Rp1 Juta rupiah. Saya harap keuntungan seperti ini terus bertahan untuk melepaskan kami (PK5) dari kelaparan dan penderitaan agar dapat terus menyekolahkan anak anak kami,” ucapnya.(arf)

Exit mobile version