MAKASSAR, BKM — Listrik sudah menjadi salah satu kebutuhan utama masyarakat saat ini untuk menjalankan hampir seluruh roda aktifitas. Akibatnya, kebutuhan terhadap sumber energi itu setiap tahun mengalami peningkatan yang cukup pesat. Dikhawatirkan, semakin besarnya kebutuhan akan berdampak pada terjadinya krisis listrik akibat kurangnya pasokan dibanding permintaan yang ada.
Di Sulawesi Selatan khususnya, pertumbuhan penjualan mencapai rata-rata 11,5 persen per tahun. Sementara kapasitas pembangkit hanya mencapai 2,7 persen per tahun. Angka itu menunjukkan adanya disparitas cukup besar antara kebutuhan dengan kemampuan pemerintah dalam menyediakan listrik.
Menyikapi persoalan itu, Dewan Pengurus Pusat Institut Lembang Sembilan yang diketuai HM Alwi Hamu membantu pemerintah dalam mencari solusi. Salah satunya dengan menggelar Rembuk Nasional Kebutuhan Energi Listrik untuk Percepatan Pembangunan, yang digelar di Hotel Aston, Rabu (30/3) dibuka oleh Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu’mang.
Ketua DPP Institut Lembang Sembilan, HM Alwi Hamu menjelaskan Rembuk Nasional Energi Listrik itu diprakarsai bersama PT PLN (Persero), harapannya dapat mempertemukan dan mensinergikan pemikiran, ide, dan usulan perbaikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan untuk pembangunan 35 ribu MW sebagai solusi kesenjangan dan krisis listrik di berbagai daerah.
“Pemerintah menargetkan dalam lima tahun ke depan, pembangunan pembangkit untuk menghasilkan 35 ribu MW listrik bisa terpenuhi,” ungkap Alwi.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang menjelaskan, kebutuhan listrik di Sulawesi Selatan cukup besar.
Malah, menurut Agus, permintaan listrik di Sulsel dalam setahun sekitar 12, 82 persen. Lebih tinggi satu persen lebih dibanding data yang dipegang Institut Lembang Sembilan.
“Di Sulsel kebutuhan listrik per tahun berkisar 60 hingga 100 MW,” jelasnya.
Selain kebutuhan sektor industri yang kian meningkat, kebutuhan listrik juga diharapkan bisa menjangkau daerah-daerah terpencil di seluruh Sulawesi Selatan.
“Listrik sudah menjadi kebutuhan dasar untuk pembangunan. Jadi sudah sewajarnya jika pemerintah selaku pengambil kebijakan terus berupaya mencari sumber-sumber energi baru bagi kelistrikan Sulsel,” jelasnya.
Menanggapi target pemerintah yang akan menyiapkan 35 ribu MW listrik untuk masyarakat, Agus optimistis itu bisa tercapai sepanjang potensi yang ada bisa dimaksimalkan.
“Sekarang saja, di Sulsel tercatat daya terpasang sebesar 1329 MW, sementara daya mampu 1050 MW.
Disini, beberapa industri besar sementara dalam konstruksi. Otomatis ke depan membutuhkan tenaga listrik cukup besar,” pungkasnya.
Dia menambahkan, untuk Sulsel, sangat banyak potensi pembangkit listrik yang bisa diberdayakan. Mulai dari tenaga air, angin, dan matahari.
“Yang teranyar, kita punya potensi pembangkit listrik di Luwu Utara sebesar 300 MW,” jelasnya. (rhm/war)