SIDRAP, BKM — Unggas Itik di Sidrap, butuh perhatian serius. Virus flu burung atau avian influenza (AI) mulai mewabah dan mengganas. Akibat serangan virus AI, 12 ribu unggas seperti ayam dan itik mati mendadak.
Kasus kematian unggas itu, terjadi di Kelurahan Kanyuara dan Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng. Kasus kemtian unggas milik warga tersebut sudah terjadi sejak 20 Maret 2016 lalu.
Salah satu peternak Guntur, hanyalah satu dari sekian peternak itik di Kelurahan Kanyuara yang terpaksa merugi besar akibat wabah virus AI melanda Sidrap itu.
Awalnya, dia mengaku memelihara 300 ekor itik indukan. Namun setelah positif terserang virus AI dan mati mendadak selama beberapa hari ini, kini Guntur mengaku sekarang itiknya hanya tersisa 45 ekor saja.
“Sejak tiga hari terakhir, 255 ekor itik saya mati secara mendadak. Hampir setiap menit itik peliharaan saya mati, bingung saya pak,” tutur Guntur, kemarin.
Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Sidrap, Patahangi Nurdin, melalui Kepala Bidang (Kabid) Peternakan, Sadalia, tak menampik wabah virus AI itu.
“Hasil pemeriksaan yang kami lalukan dengan cara rapid tes, menyimpulkan hewan ternak yang mati itu diakibatkan positif terserang oleh virus AI atau flu burung,” kata Sadalia.
Menurutnya belum diketahui pasti darimana awalnya kasus itu muncul, namun kasus pertama kali ditemukan di Kelurahan Kanyuara, kemudian di Manisa kecamatan Baranti. “Endemiknya sudah meluas di kecamatan Maritengangae, Watang Sidenreng, Baranti, Panca Rijang,” kata Sadalian.
Kematian ayam dan itik di Kelurahan Kanyuara dan Sidenreng, Kecamatan Watang Sidenreng, Sidrap itu, sudah dilaporkan ke provinsi dan pusat. Termasuyk katanya, kematian ayam ras di Baranti dan Maritengngae.
Sebagai tindak lanjut, tim dari Dinas Peternakan kabupaten dan provinsi, termasuk dari Dirjen Kesehatan Hewan (Keswan) pusat, telah turun ke lapangan.
“Barusan tim dari pusat, dipimpin Direktur Keswan dan Kesmavet, Drh I Ketut Diarmitha memimpin langsung upaya penanggulangan,” kata Sadalia.
Untuk mencegah meluasnya penyebaran virus AI itu, Sadalia mengaku telah mengintensifkan pemberian desinfektan dan vaksinasi terhadap unggas-unggas milik peternak.
Sadalia mengaku telah mengajukan permohonan bantuan desinfektan dan vaksin virus AI ke pusat guna mengatasi ancaman itu. Selama ini, stok dosis vaksin yang dimiliki Disnakkan Sidrap sudah menipis yakni tersisa hanya 300 dos saja.
“Ada 2 juta dosis vaksin AI untuk ayam ras kami usulkan, juga desinfektan untuk semua unggas sebanyak 2.000 liter. Termasuk vaksin virus AI khusus untuk itik sebanyak 200 ribu dosis, serta antibiotik untuk semua unggas sebanyak 50 ribu dosis” aku Sadalia.
Direktur Keswan dan Kesmavet, Kementerian Peternakan, Drh I Ketut Diarmitha yang datang meninjau langsung kasus kematian unggas di Sidrap itu, kemarin, berjanji akan memperhatikan usulan bantuan itu.
Sambil menunggu bantuan tiba dari pusat, I Ketut Diarmitha meminta kepada tim dinas terkait kabupaten dan provinsi kemarin, melakukan penutupan lokasi.
“Lokasi itu harus segera ditutup dan diisolir, sambil dilakukan bio security dan memusnahkan unggas-unggas yang tersisa. Itu penting sebelum virusnya menyebar lebih luas lagi,” kata I Ketut Diarmitha.
Kepala Dinas Peternakan Sulsel, Abdul Azis Zainuddin, berharap wabah virus AI di Sidrap itu, segera bisa dipulihkan
Tindakan penanggulangan virus AI kata mantan Kadis Peternakan dan Perikanan Sidrap itu, mutlak dilakukan guna menyelamatkan populasi unggas di Sidrap berjumlah 10.9 juta ekor.
Terdiri populasinya Ayam Buras 1.714.855, Ayam Pedaging (Broiler) 2,432.000 ekor, Ayam Petelur 5,889,409. Selanjutnya unggas Itik 390,084 ekor, dan Unggas Manila 141,443 ekor.
“Asal diketahui saja, 60 persen jumlah populasi unggas yang ada di Sulsel ini, terdapat di Sidrap, “Karena itu, tidak ada pilihan selain menyelamatkan unggas itu,” aku Azis. (ady/B)