Site icon Berita Kota Makassar

Dongeng Nenek Membantu Mengembangkan Imajinasi

IST M Aan Mansyur

PENAMPILANNYA cukup sederhana. Sepintas, dia terlihat pendiam dan seperti mahasiswa semester akhir lainnya. Namun siapa sangka jika di balik sosoknya yang biasa-biasa saja, lelaki bernama lengkap M Aan Mansyur itu merupakan salah satu penyair andalan yang dimiliki Sulsel.

Laporan: Rahmawati Amri

BAGI kalangan remaja, menyebut film; Ada Apa dengan Cinta (AADC) 2, tentu yang terlintas adalah rangkaian puisi-puisinya yang cukup romantis, selain jalan cerita serta para artis pemeran, tentunya. Tapi pernahkah kita tahu kalau ternyata yang menulis puisi-puisi tersebut adalah lelaki berkacamata ini.
Salah satu prestasi yang ditorehkan Aan Mansyur adalah, dari sekian banyak penyair tanah air, dia terpilih untuk terlibat dalam film AADC2.
Lelaki yang akrab disapa Aan ini bercerita, setahun lalu ditawari sang produser, Mira Lesmana untuk terlibat dalam proses pembuatan film tersebut. Ia dipercaya menulis sejumlah puisi-puisinya.
Ketika cerita AADC2 ditulis, Mira Lesmana menghubunginya untuk terlibat dengan menulis puisi-puisi untuk film yang cukup digandrungi kalangan remaja itu. Diapun setuju dan melakukan riset untuk menulis puisi-puisinya. Selama enam bulan dia mengerjakan proyek itu.
Bagaimana sampai lelaki ini menjadi seorang penyair? Jawabannya bisa bermacam-macam. Tapi, berdasarkan pengakuannya, ini banyak terkait dengan masa kecilnya yang sakit-sakitan dan tumbuh tanpa kemampuan melakukan apapun yang lain.
“Saya membutuhkan sesuatu untuk bertahan hidup dan media untuk menyampaikan kecemasan-kecemasan saya. Dan, saya pikir, bahasa adalah ruang yang pas untuk itu. Untuk menggambarkan kesedihan dan keindahan masa kecil saya waktu itu,” ungkapnya kepada BKM.
Dia mengaku tumbuh tanpa keterampilan apapun. Ingin jadi petani, tapi tidak kuat mengangkat cangkul seperti sang adik. Ingin jadi pelukis dan pemain musik, ibunya yang hanya penjual sayur di pasar kecil waktu itu tak mampu membelikan alat lukis atau alat musik.
Namun, karena kebetulan sang kakek punya sejumlah koleksi buku, dari sanalah, di depan rak buku sang kakek, dia menghabiskan masa kecilnya.
Selain itu, neneknya juga selalu mendongeng sebelum tidur. Itulah faktor-faktor yang membantunya dalam mengembangkan imajinasi.
“Saya kira, dari sanalah, dari masa kecil saya, asalnya kenapa saya akhirnya bergelut di dunia tulis menulis hingga sekarang,” tuturnya.
Ikhwal kumpulan puisinya yang ditampilkan di AADC2, Aan bertutur, dalam waktu dekat, akan terbit dalam buku; ‘Tidak Ada New York Hari Ini’ bulan depan.
Menjadi penyair, penulis, novelis atau semacam itu, bagi Aan, sama sekali bukan sesuatu yang penting untuk dibanggakan. Dia menilai penulis adalah pekerjaan biasa saja yang tidak berbeda dengan profesi lainnya.
“Jadi, kalau bertanya prestasi saya, ya tidak ada prestasi saya. Biasa saja,” katanya merendah.
Aan banyak bergelut dengan kegiatan yang tidak jauh-jauh dari buku. Dia adalah pustakawan di ruang baca Katakerja yang terletak di BTN Wesabbe C/64, Makassar. Selain itu, akfitasnya juga banyak dihabiskan dengan membaca, mengedit, menerjemahkan, dan menulis seperti biasa.
Saat ini, hari-harinya juga diwarnai dengan kesibukan menyiapkan buku yang akan diterbitkan. (*/rus)

Exit mobile version