MAKASSAR, BKM — Aksi penyanderaan 10 warga negara Indonesia yang dilakukan Abu Sayyaf di Filipina Selatan, tak luput dari perhatian Kolonel Laut, Dr Abd Rivai Ras. Saat berkunjung ke redaksi Berita Kota Makassar, Jumat (1/4) petang, Rivai menegaskan bahwa pemerintah RI memiliki kemampuan dalam menyelesaikan kasus penyanderaan 10 WNI itu, yang tiga diantaranya warga Sulsel.
Menurut Rivai yang juga terlibat dalam operasi perencanaan sebagai intelejen, pemerintah RI tentu memiliki opsi penanganan terorisme. Diantaranya yang soft yakni negosiasi, membayar tebusan hingga yang paling ekstrim dengan melawan aksi terorisme melibatkan pihak militer.
”Namun yang terpenting dari itu, semua sandera harus selamat,” ujarnya.
Meski demikian, tambahnya, para penyandera tentu memiliki pengalaman sehingga tak semudah itu akan menerima negosiasi atau menerima tebusan. “Pernah sandera dibunuh meski waktu yang diberikan masih cukup lama. Itu terjadi karena pihak penyandera sudah mengetahui tidak ada niat untuk membayar tebusan,” bebernya.
Sementara itu, Andi Tahira, istri salah seorang sandera asal Kabupaten Wajo, Surianto yang merupakan salah satu kru kapal tongkang Pandu Brahma 12, mengaku suaminya sempat memberikan kabar sebelum disandera oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf di wilayah perairan Filipina. Dia menceritakan pesan terakhir suaminya sesaat kapal hendak memasuki perairan Malaysia.
Andi Tahira menceritakan, suaminya sempat memberi kabar lewat BBM dan menelpon. Dia menyampaikan bahwa malam ini terakhir ada jaringan telepon, karena posisi kapal sudah masuk perbatasan Malaysia. Ia berjanji, jika nantinya dirinya sudah gajian, dia meminta agar anaknya dibelikan kereta.
” Dia (Surianto) sering memberi kabar kepada saya. Terakhir, suami saya telepon saat kapal hendak masuk Malaysia. Pesan terakhirnya hanya ingin membelikan kereta buat anaknya, terus terputus. Pas kutelepon kembali, nomornya sudah tidak aktif. ” kata Andi Tahira saat ditemui di kediaman mertuanya di Kelurahan Gilireng.
Sementara itu, dari pihak perusahaan tempat Surianto bekerja, Andi Tahira mengaku telah mendapatkan informasi terkait perkembangan proses pembebasan suamianya. Andi Tahira juga mendapatkan pesan singkat via SMS dari pihak perusahaan yang bunyinya, mengintruksikan untuk tidak percaya ketika ada informasi yang tidak jelas terkait nasib 10 kru kapal Brahma 12 itu.
“Pihak perusahaan menelpon minta identitas anggota keluarga saya. Katanya mereka lagi di Jakarta sedang negosiasi. Pihak perusahaan juga mengitrusikan jangan percaya ketika ada informasi tak jelas,” terangnya.
Dari informasi yang berhasil dihimpun, Andi Tahira mengaku bahwa selain suaminya, ada warga Wajo yang lain diatas kapal Pandu Brahma 12. Menurutnya, Kepala Kamar Mesin (KKM) kapal Brahma, Andi Mahmud juga berasal dari Kabupaten Wajo, tepatnya di Siwa, Kecamatan Pitumpanua. Hanya saja Andi Mahmud diketahui menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Terkait perkembangan penyanderaan 10 kru kapal Brahma 12 Andi Tahira mengaku, sering berkomunikasi dengan istri Andi Mahmud, yang merupakan warga Kelurahan Benteng, Kabupaten Wajo.
“Ada informasi dari Bu Rahmi, istri Pak Andi Mahmud. Katanya Bu Rahmi baru-baru saja bicara sama suaminya Andi Mahmud. Terus Pak Andi Mahmud juga bilang kepada istrinya, semua keluarga jangan risau karena mereka baik-baik saja. Dikasih makan, minum dan tempat tidur. Bu Rahmi juga mengatakan bahwa suaminya sempat menyampaikan jika semua kru kapal akan dikasih kesempatan oleh kelompok Abu Sayyaf untuk bicara selama 15 menit kepada para keluarganya. Tapi saya sendiri belum pernah bicara dengan suamiku,” tuturnya.
Pihak keluarga Surianto dan Andi Mahmud berharap kepada pihak perusahaan dan pemerintah agar terus berupaya agar 10 kru kapal Brahma dapat pulang dengan selamat, sehingga dapat kembali berkumpul dengan keluarga. (rif-ilo/rus)
Rivai Ras: Yang Terpenting Sandera Selamat
