SIDRAP, BKM — Kematian ternak unggas seperti itik dan ayam terus terjadi dua pekan terakhir. Virus Avian Inflence (AI) atau flu burung terus mewabah di lima kecamatan di Kabupaten Sidrap.
Data dari Dinas Peternakan, hingga Minggu (3/4) mencatat sudah 27.631 unggas jenis itik mati mendadak. Kematian ungga terakhir dari hasil investaigasi tim dokter hewan Dinas Perikanan dan Peternakan Sidrap bersama Balai Besar Veteriner Maros menemukan lagi kematian ternak itik sebanyak 7.806 ekor di Kecamatan Watang Sidenreng, hari Minggu kemarin.
Terdiri 3.804 ekor yang mati dan positif terjangkit virus flu burung di Kelurahan Kanyuara, dan di Kelurahan Sidenreng sebanyak 2.676 itik yang mati mendadak serta ada 1.128 di Kelurahan Empagae Kecamatan Wattang Sidenreng juga mengalami hal serupa.
Kini, total unggas jenis itik dan ayam ras petelur yang mati sebanyak 27.631 ekor sejak kasus ini merebak 20 Maret lalu.
Koordinator tim dokter hewan Disnakkan Sidrap drh Emi Purnomowati menyebutkan, pihaknya akan berusaha untuk mencegah peredaran virus semakin meluas.
“Itik yang mati akan dibakar dan dikubur untuk mencegah meluasnya penyebaran virus flu burung,”ujar Emi.
Emy menambahkan jumlah kematian ternak unggas ini diperkirakan masih akan terus bertambah mengingat masih banyak laporan warga yang masuk setiap harinya.
Sementara petugas dari Balai Besar Veteriner (BBVet) Maros, Faisal Zakariah, mengatakan, kegiatan hari ini merupakan identifikasi dan pengambilan spesimen unggas di lokasi yang terdeteksi positif terjangkit virus flu burung untuk selanjutnya didiagnosa di laboratorium Maros.
Faisal menambahkan unggas yang tertular jika dilihat gejala-gejala klinis yang ditemukan di lapangan, sudah positif dipastikan kematian mendadak ini disebabkan oleh flu Burung.
Begitu juga daerah yang sudah endemik terkena kasus ini diisolir dan diperketat. Artianya tidak ada lagi warga yang membawa keluar ternaknya yang terjangkit virus ini.
“Unggas itik masih makanan favorit di Sidrap seperti Palekko, jadi jangan sampai ada warga takut rugi dijual cepat itiknya yang sudah terjangkiti virus AI,” katanya.
Masyarakat dihimbau agar lebih berhati-hati karena virus ini bisa saja menyerang manusia.
Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan Sidrap Patahangi Nurdin, kemarin mengatakan, kematian 27 ribu lebih ternak ayam ras dan itik berlangsung secara bertahap, baik yang sudah dilaporkan maupun yang diidentifikasi petugas kesehatan hewan Disnakkan.
“Peternak cuma tahu kalau sudah banyak ternaknya mati masih saja belum melapor, karena takut ternaknya yang belum mati akan dimusnahkan. Lebih baik dijual cepat yang masih hidup daripada habis mati satu persatu,” papar Patahangi.
“Kita bagi-baikan vaksin ke peternak yang masih steeril dan disampaikan kalau ada kasus segera lapor kepetugas kami dikantor Desa/Kelurahan setempat,” tandasnya. (ady/C)