MASUK dan diterima kuliah di Universitas Hasanuddin, bakat Muh Rijal Djamal di bidang pantun semakin terasah. Selama tiga tahun menimba ilmu di Pesantren Gombara, banyak bekal yang didapatkannya. Dia kuat menghafal kosa kata. Termasuk rasa percaya diri untuk tampil di depan orang banyak.
Laporan: Rahmawati Amri
ORANG TUA Rijal sama sekali tidak menyangka jika sang anak yang awalnya dikhawatirkan akan menjadi anak bandel, ternyata punya kreatifitas yang mumpuni.
Tahun 2010, dia masuk UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) Teater Unhas. Prestasinya di bidang pantun mulai terlihat ketika di kampus merah ini digelar lomba berbalas pantun tahun 2010. Dia mengajak temannya di teater kampus. Ternyata hasilnya tidak mengecewakan.
“Waktu itu ada lomba berbalas pantun Wakil Rektor III yang diinisiasi oleh Bapak Nunding Ram, Kepala Pusat Kebudayaan Unhas. Alhamdulillah, berhasil jadi juara I,” ungkapnya.
Nunding Ram yang melihat bakat mahasiswanya, ketika ada acara Tudang Sipulung I Lagaligo di Gedung Iptek Unhas, Rijal didaulat menjadi master of ceremony (MC). Diapun jadi MC diluar pakem yang biasanya.
Untuk menghidupkan suasana, Rijal memberi sentuhan-sentuhan pantun dalam memandu acara. Disitulah cikal bakal lahirnya MC Ambo Indo. Nunding pun mengajak Rijal mendirikan komunitas pantun di Unhas pada 23 Desember 2010.
Walaupun sibuk, Rijal tidak mengabaikan kuliahnya. Dia mengambil jurusan Sastra Inggris dengan harapan kelak akan menjadi diplomat atau duta besar. Namun, passionnya berubah setelah mengenal dan mengakrabi pantun. Beruntung, dia bisa menyelesaikan kuliah S1 tepat waktu.
Karena prestasinya, diapun ditawari beasiswa S2 Bahasa Inggris. Namun kuliahnya itu putus di tengah jalan karena merasa tidak cocok dengan minatnya. Diapun melanjutkan S2 sesuai bakat dan minatnya dengan beasiswa Kemenpora.
“Alhamdulillah, sudah hampir rampung. Insya Allah bulan Juni atau September sudah bisa selesai,” ujarnya optimistis.
Sekarang, Rijal dengan karakter Ambo-nya telah mendapat tempat di hati masyarakat, khususnya di Sulsel. Dia kerap diundang untuk menjadi MC atau mempertunjukkan keahliannya berpantun jika ada even, baik yang berskala lokal, nasional bahkan internasional.
Dia juga kerap didaulat mewakili Indonesia jika ada even kebudayaan, khususnya terkait pantun. Seperti yang dilakukan belum lama ini di Malaysia.
Menurutnya, ada tiga unsur yang membuat pantun menarik. Unsur itu adalah logika, estetika dan etika. Semoga semuanya bisa dipadukan lebih baik lagi, sehingga menghasilkan pantun yang kian enak didengar dan dinikmati. (*/rus)
