PULUHAN perempuan dari berbagai latar belakang memperingati Hari Kartini, 21 April, kemarin, dengan cara berbeda. Momen itu diperingati dengan mengkampanyekan Gerakan Nasional Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK).
Laporan: RAHMA-ARIF QADRY-ARDHITA-JUNI
Beberapa perempuan populer bergabung dalam aksi itu diantaranya Wakil Ketua DPRD Sulsel A Rahmatika Dewi, Kepala Biro Napza dan HIV/AIDS Sri Endang Sukarsih, legislator perempuan dari DPRD Sulsel dan Kota Makassar, serta aktifis perempuan dari berbagai latar belakang.
Para perempuan tangguh itu mengkampanyekan
semangat kartini masa kini agar bisa melakukan banyak perubahan.
Agen SPAK Sulsel, Alita Karen menjelaskan, melihat ketimpangan yang terjadi selama ini, SPAK berniat untuk mengembalikan nilai-nilai moral yang ada di lingkungan keluarga.
Menurutnya, perempuanlah yang memiliki andil besar dalam hal pemberantasan korupsi.
“Paling tidak dimulai dari lingkungan keluarga yang mendidik generasi muda mulai dari usia dini,” ungkap Alita di sela-sela aksinya di bawah flyover, Kamis (21/4).
Dia melanjutkan, SPAK merupakan gerakan nasional yang dibentuk oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)
sebagai salah satu bentuk revolusi mental untuk sama-sama memerangi korupsi.
Terpisah, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto menyemangati perempuan Makassar yang hadir pada Pembinaan Peningkatan Keamanan Pangan pada Jajanan dan Produk Rumah Tangga di Hotel Losari Metro, kemarin.
“Momentum Hari Kartini ini menjadikan ibu – ibu lebih bersemangat. Ibu – ibu adalah pejuang perempuan kota Makassar,” semangat Danny sapaan akrab wali kota.
Mereka yang hadir di Losari Metro mayoritas ibu rumah tangga yang menjalankan usaha di bidang pangan, dan berdomisili di lorong – lorong.
“Kalau ibu – ibu dan keluarga sejahtera itulah kebahagiaan tertinggi bagi kami pemerintah kota Makassar,” tegas Danny.
Kesejahteraan, ketahanan dan keamanan pangan sangat penting pada era saat ini dan masa depan. Lewat publikasi survei kesehatan di berbagai media diketahui beberapa penyakit seperti kanker diakibatkan oleh makanan yang tidak sehat. Olehnya itu, Danny mengajak perempuan Makassar yang bergerak di bidang pengolahan pangan untuk menjaga produk olahannya dengan menggunakan bahan pangan yang sehat.
Kepala Kantor Ketahanan Pangan Kota Makassar, Sri Sulsilawati juga mengatakan, untuk membuat standarisasi pangan yang mengatur ukuran, bahan, dan berbagai indikator pangan sehat.
Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memperingatan hari R.A Kartini dengan tema semangat Kartini melalui FPPI mewujudkan perempuan cerdas, Mandiri dan berprestasi.
Ketua dewan pimpinan daerah (DPD) Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia (FPPI) Provinsi Sulsel, Hj Andi Wulan Nanda mengatakan, kegiatan yang dilakukan dalam memperingati hari Kartini ini FPPI lakukan demi perempuan yang ada di Sulsel agar tidak ada lagi yang merasa tertindas baik dikalangan generasi muda sampai yang lanjut usia.
“kita sudah lakukan beberapa kunjungan dan berbagi dengan perempuan yang ada di Sulsel untuk peringati hari Kartini ini termaksud mengunjungi panti jompo,” ungkapnya, kemarin.
Sebab saat ini perempuan saat ini semakin nyata karyanya. Posisi perempuan sebagai istri, ibu, serta kiprahnya dalam pembangunan harus dapat disyukuri oleh setiap perempuan.
“Perempuan juga memiliki kiprah penting dalam pemberdayaan masyarakat. Bagaimana mulianya menjadi seorang ibu. Maka sebagai seorang perempuan kita kita harus bersyukur. Baik posisinya sebagai ibu, istri atau pemimpin,” katanya.
Selain itu, FPPI juga mengunjungi panti jompo Sebagai bentuk mengajak nenek perempuan untuk menikmati hasil pembangunan Kota Makassar.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang mengungkapkan, perempuan saat ini juga masuk dalam target pembangunan Indonesia. Hal tesebut terlihat dengan hampir semua profesi dan jabatan sudah ada perempuan di dalamnya.
“Kita lihat saja di Sulsel. Hampir semua profesi ada perempuannya. Bahkan tujuh universitas besar baik negeri maupun swasta dipimpin oleh perempuan,” ujarnya.
Namun begitu, ia mengimbau agar dengan adanya ruang dalam pembangunan, kaum perempuan tidak melupakan kodratnya sebagai seorang istri dan ibu di dalam keluarganya.
“Mengingatkan bahwa adanya kesetaraan gender dan perjuangan. Tentu harus diingat setiap orang punya batas sebagai kodrat manusia khususnya perempuan,” jelasnya.
Disamping itu, Agus juga menjelaskan, meskipun saat ini perempuan makin eksis, tetapi masih banyak permasalahan yang meliputi kaum perempuan. Baik itu terkait perlindungan perempuan, rendahnya kualitas hidup, maupun tingkat kesehatan, ekonomi dan politik yang masih menyisakan potret ketidaksetaraan.
“Terlepas keberhasilan tersebut. Banyak juga yang jadi catatan. Berapa perempuan parlemen yang terjebak politik dan akhirnya terjerat korupsi, serta harus menjalani proses hukum,” Tuturnya.(tim)