Site icon Berita Kota Makassar

Tahun Pertama Hanya Bisa Mengajak 10 Warga

SALAH satu persoalan pelik yang menjadi fenomena klasik di perkotaan adalah masalah sosial. Berbagai solusi dan upaya yang ditempuh, sebagian diantaranya belum menyentuh langsung permasalahan. Cara terbaik adalah pelibatan masyarakat untuk mengambil peran di dalamnya.

Laporan: Rahman

NURAINI adalah seorang perempuan tangguh. Posisinya saat ini sebagai Ketua RT III/RW III Kelurahan Pattingalloang, Kecamatan Ujung Tanah.
Di balik sikapnya yang keibuan, ia telah mengukir sebuah sejarah di lingkungan sekitarnya. Berkat kerja kerasnya, ekonomi rumah tangga di tempatnya bermukim telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan.
Tahun 2007 merupakan puncak keprihatinan Nuraini. Saat itu di lingkungan kerap terjadi kekerasan seks, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), ekonomi lemah dan sejumlah persoalan sosial lainnya.
Berangkat dari situasi itu, Nuraini kemudian berinisiatif membentuk kelompok usaha. Yang dipilih adalah koperasi. Berdirilah Koperasi Wanita Nelayan Fatimah Az-Sahra. Tempatnya di Jalan Barukang III, Lorong III, Kota Makassar.
Di awal terbentuknya, Nuraini sendiri yang turun langsung bertemu masyarakat. Ia mengajak warga sekitar untuk bergabung membuat usaha kecil lokal berbasis rumahan.
Di mula keberadaannya, koperasi ini tidak langsung diterima masyarakat. Di sinilah ketabahan dan kesabaran Nuraini diuji.
Setelah berjalan selama satu tahun, Nuraini berhasil mengajak 10 orang untuk menjadi anggota koperasi. Mereka itulah yang kemudian dilatih, hingga akhirnya mandiri menghasilkan kreativitas yang bernilai ekonomi.
”Semua memang butuh perjuangan. Termasuk merintis koperasi ini. Tahun pertama hanya 10 orang yang mau ikut,” Nuraini mengenang saat ditemui BKM, Kamis (21/4).
Pengorbanan Nuraini tidak sampai disitu. Ia bahkan merelakan rumah pribadinya menjadi sentral aktivitas masyarakat mengelolah produk lokal hingga sekarang.
Diakuinya, tantangan besar yang dihadapinya adalah susahnya mengubah pola pikir masyarakat. Karenanya, diapun menjalankan strategi pendekatan melalui sesamanya kaum perempuan. Apalagi saat itu kebanyakan ibu rumah tidak memiliki aktivitas rutin setiap hari.
Saat ini, kelompok nelayan tersebut mengelolah abon ikan tuna, otak-otak bandeng, nugget ikan, bakso ikan tuna dan lain-lain. Prosesnya dikerjakan oleh 25 orang. Hasil olahan mereka disebar ke berbagai tempat. Termasuk perusahaan.
Salah satu alasan yang mampu membuat koperasi ini bertahan, karena menggunakan konsep bagi hasil kepada para pengelolah. Saat ini anggota koperasi ini sudah mencapai 600 orang.
”Manfaat koperasi sudah dirasakan oleh banyak orang. Omzetnya cukup lumayan,” ujarnya.
Jika dulunya di kelompok ini yang tergabung hanya kaum perempuan, sekarang pria ataupun para suami para anggota juga sudah tertarik. Siang hari para suami pergi berlayar menangkap ikan, sementara hasilnya dikelolah sendiri oleh istrinya. Setelah itu kemudian dijual. Cara itu lebih banyak memberikan keuntungan daripeda penjualan langsung.
Bukan hanya itu. Kelompok usaha ini juga sangat memperhatikan para lanjut usia di wilayahya. Setiap tanggal 10 bulan berjalan, kelompok ini memberikan makan kepada para lansia yang berjumlah ratusan. Sumbangan sukarela itu dari hasil pengelolaan produk yang dikelolahnya. (*/rus)

Exit mobile version