Site icon Berita Kota Makassar

Pernah Dikerjai Diberi Satu Kantong Kodok

BKM/ARIF AL QADRY MENGENANG--Yuniawati hanya bisa mengenang dan bercerita saat dia dulu sempat mengharumkan nama Sulsel di kancah nasional.

KETERBATASAN fisik bukanlah halangan untuk bisa beraktifitas dan berprestasi. Terbukti, Wati (48) tahun penyandang cacat yang bisa menyabet berbagai penghargaan di bidang olahraga dan keagamaan.

Laporan: ARIF AL QADRY

Sejak lahir, kondisi fisik Yuniawati sudah mengalami kebutaan. Dimana kedua matanya yang menjadi indra penglihatan sama sekali tidak berfungsi. Meski demikian, prestasi Yuniawati hampir sama dengan orang yang sempurna. Dimana sejak berusia 20 tahun, ia pernah mendapatkan juara satu Pop Singer di Jakarta pada tahun 90an.
Selain mendapat juara lomba nyanyi antar penyandang cacat. Wanita kelahiran Makassar, 4 Desember 1968 yang akrab disapa Wati itu juga mengaku pernah beberapa kali mendapat penghargaan dan prestasi dalam mengikuti lomba tilawah di ajang MTQ tingkat nasional di Aceh, Jogja dan Surabaya. Bahkan tidak tanggung tanggung, juara yang didapatkan Wati paling rendah di juara tiga.
“Saya juga sering mendapat juara seperti waktu di Aceh, saya dapat juara satu dengan hadiah berupa uang tunai sebanyak Rp2 juta, Jogja mendapat juara 2 dengan hadiah Rp1 juta dan terakhir waktu di Surabaya mendapat hadiah sebesar Rp5 juta. Tapi itu semuanya sudah habis untuk menutupi biaya hidup bersama keluarga,” katanya.
Pengetahuan keterampilan dan prestasi yang diraih Wati sudah mulai kelihatan semenjak dia masih duduk di bangku sekolah, di salah satu sekolah cacat di Makassar mulai dari SD sampai SMP. Di sekolah itu, Wati meraih prestasi yang membanggakan meraih ranking pertama.
Selama bersekolah ia diajarkan cara membaca dan menulis menggunakan alat khusus tunanetra. Prestasi yang membanggakan itu mengantar Wati untuk berharap bisa melanjutkan sekolahnya di tingkat SMA di SMA Muhammadiyah 5 Makassar, Kecamatan Tallo.
Kata Wati, bersekolah di SMA umum yang notabene berkomunikasi dengan teman temannya yang hidup normal membuat Wati sempat minder apalagi seminggu setelah ia masuk sekolah.
Apalagi, cerita Wati, hampir setiap hari ia menjadi bahan candaan untuk teman-temannya dan tidak jarang mendapat perlakuan tidak menyenangkan seperti menjatuhkan dan menendang tongkat yang dia gunakan.
Selain itu, Wati juga mengaku pernah di kerjain dengan diberikan kodok yang telah disimpan dalam kantong plastik dengan alasan memberikan beras.
“Saya pernah dibodoh-bodohi sama teman. Katanya saya mau dikasih beras raskin, tapi ternyata kodok yang disimpan dalam kantong plastik. Candaan itu masih terus berbekas dalam hati saya,” ucapnya.
Walaupun sering dijadikan sebagai objek olok olokan temannya, namun ia mengaku sama sekali tidak menyimpan dendam dalam hati. Karena ia sadar dirinya salah masuk bersekolah.
“Saya dulu hanya ingin merasakan bagaimana kalau berinteraksi dengan siswa yang hidup normal di sekolah umum. Hanya saja, mereka yang hidup normal masih memperlakukan kami tidak semestinya. Saya terpaksa harus menjalani itu semua hingga lulus sekolah,” katanya.
Meski begitu, kebutuhan alat tulis menulis ternyata tidak sulit sebab ia tetap diberi alat tulis menulis seperti apa yang ia peroleh waktu bersekolah di sekolah untuk anak- anak cacat, pungkasnya.(arf/war)

Exit mobile version