MAKASSAR, BKM — Setelah melakukan aksi simpatik dengan memungut sampah saat pengamanan aksi unjukrasa buruh di May Day, Minggu (1/5), Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Anton Charliyan kembali memperlihatkan hal ‘langka’ bagi seorang petinggi.
BKM/ISHAK
MAKAN BAKSO-Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Anton Charliyan duduk di pembatas jalan sambil menyantap bakso di sela-sela pengamanan aksi unjukrasa di bawah jembatan flyover, Senin (2/5). Ia terlihat menyantap bakso di sela-sela pengamanan aksi unjukrasa memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) di bawah jembatan flyover, Senin (2/5). Orang nomor satu di jajaran Polda Sulselbar itu memesan semangkuk bakso dari seorang penjual yang menggunakan gerobak.
Makanan seharga Rp10 ribu per mangkuk itu, disantap Anton sambil duduk-duduk di pinggir jalan di atas pembatas jalan dan disaksikan banyak orang. Ia menyantap bakso setelah memastikan arus lalulintas di bawah flyover berlangsung lancar. Sebelumnya, ia juga mengecek kesiapan pasukan pengamanan yang diturunkan.
Demo Memperimgati Hari Pendidikan Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Sulselbar, Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan bahwa makan di pinggir jalan bukan sesuatu yang sengaja dibuat-buat oleh Kapolda. ”Pak Kapolda memang seperti itu orangnya. Beliau tidak memberi batasan dengan warga. Jadi begitulah stylenya di lapangan,” kata Frans Barung di sela-sela pengamanan aksi unjuk rasa, kemarin.
Saat turun ke lapangan, Kapolda Anton didampingi Kabid Humas Polda Sulsel Kombes Pol Frans Barung Mangera, Kapolrestabes Makassar Kombes Rusdi Hartono, Karo Ops Polda Sulsel Kombes Marvin, Kabid Propam Polda Sulsel Kombes Pol Sumardi dan beberapa perwira menengah Polda lainnya.
Demo Memperimgati Hari Pendidikan Dalam aksi ini, polisi dari Polrestabes Makassar terpaksa mengamankan tiga orang mahasiswa. Mereka ditangkap karena diduga sebagai provokator. Oleh polisi, ketiganya langsung digiring secara paksa masuk di dalam mobil Pengendali Massa (Dalmas) Polrestabes Makassar.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Rusdi Hartono meminta kepada mahasiswa yang berdemo agar tidak menutup jalan dan memberi kesempatan kepada para pengguna jalan untuk bisa lewat.
“Kami sengaja menyiapkan tim negosiator dari polwan untuk mengamankan jalannya aksi,” ujarnya.
Terpisah, Kasubag Humas Polrestabes Makassar, Kompol Burhanuddin mengatakan, polisi mengawal perjalanan mahasiswa yang melakukan long march dari kampus Unhas ke DPRD Sulsel. Meski hujan, petugas pengamanan tetap bertahan.
Awalnya, aksi ribuan mahasiswa berlangsung damai. Namun, suasana ini berubah ketika ada satu kelompok mahasiswa dari kampus lainnya yang datang dengan menggunakan mobil jenis pick up. Mereka langsung menggelar aksi di tengah jalan, yang kemudian dilanjutkan dengan membakar ban bekas. Akibatnya, akses jalan menjadi macet.
Polisi yang melakukan pengamanan berusaha untuk menghalau massa. Namun tak diindahkan. Kericuhan antara massa dan Demo Memperimgati Hari Pendidikan polisi pun tidak terelakkan. Tiga orang kemudian diamankan.
Kabid Humas Polda Sulselbar menjelaskan, ada tiga item yang dinilai sehingga aparat kepolisian menahan mahasiswa. Yakni mengganggu ketertiban umum, membajak kendaraan dan menutup akses jalan.
“Sebelumnya kita sudah mengingatkan kepada mahasiswa agar tidak ada aksi bakar ban atau menutup jalan. Tapi mereka mengabaikan peringatan dari kami,” katanya.
Barung menyebutkan, dalam demo peringatan Hardiknas di bawah jembatan flyover, ada sekitar 1.500 yang terlibat. Mereka berasal dari sejumlah kampus, seperti Universitas Bosowa, UNM, Universitas Hasanuddin, UVRI dan UMI.
“Tapi yang kita pantau cuma ada tiga yang damai pelaksanaan unrasnya, yakni UMI, UVRI dan Unhas,” ujar Frans Barung.
Selain di bawah flyover, aksi mahasiswa juga berlangsung di depan kantor Gubernur Sulsel. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Makassar Peduli Pendidikan ini menolak keras komersialisasi pendidikan yang ada di Indonesia, melaksanakan pasal 31 UUD 1945, dan menolak PTN-BH.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan harus lebih memperketat pengawasan pada penyelenggara pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan, dan juga mengambil tindakan tegas terkait banyaknya mafia pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan,” ujar Rama, Jenderal Lapangan Aksi.
Program pendidikan gratis yang dimiliki setiap daerah di Indonesia, khususnya Sulawesi Selatan, menurut Rama, sebagai bentuk upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetapi lagi-lagi upaya ini tidak memiliki kejelasan dan tidak transparansi penyelenggaraannya.
“Kacaunya penyelenggaraan pendidikan ini diakibatkan karena lemahnya pengawasan terhadap penyelenggaraan pendidikan yang ada di Sulawesi Selatan,” tegasnya.
Demostran meminta untuk bertemu dengan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Namun, Gubernur sementara melakukan perjalanan ke luar kota. Akhirnya, demonstran diterima oleh pihak Badan Kesbangpol Sulsel.
Para pendemo diterima Kepala Biro Pemerintahan Umum, Hasan Basri Ambarala dan Kepala Biro Pemerintahan Daerah Andi Baso Pangerang.
Sementara Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Makassar menggelar aksi di gedung DPRD Sulsel. Ketegangan sempat terjadi, karena tak satupun anggota dewan yang hadir. Para wakil rakyat sedang mengikuti kunjungan kerja (kunker) panitia khusus (pansus) ke Semarang, Jakarta dan Surabaya.
Lantaran kesal, para mahasiswa yang didominasi dari Unhas ini kemudian membakar ban bekas, meski telah mendapat penjelasan dari kabag Humas DPRD Sulsel Syamsiah dan perwira polisi yang berada di lokasi. (ish-rhm-rif/rus)
Kapolda Santap Bakso di Pinggir Jalan

BKM/ISHAK MAKAN BAKSO-Kapolda Sulselbar, Irjen Pol Anton Charliyan duduk di pembatas jalan sambil menyantap bakso di sela-sela pengamanan aksi unjukrasa di bawah jembatan flyover, Senin (2/5).