Site icon Berita Kota Makassar

Maggulance Jangan Dianggap Enteng

”MAGGULANCE jangan dianggap enteng. Sudah dua hari saya terkapar di tempat tidur. Serba salah, berdiri sakit, apalagi jalan minta ampun. Ditambah muntah-muntah, ya Allah istigfar.”

Laporan: Muh Amir-Ardhita Anggraeni

INNALILLAHI wainna ilaihi rajiun. Sosiolog yang juga Ketua Jurusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Muhammad Darwis,MA,DPs kini telah tiada. Ia ditemukan sudah meninggal dunia oleh keluarganya, Senin dinihari (2/5) pukul 01.00 Wita.
Sebelum berpulang ke rahmatullah, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulsel itu sempat menulis status tentang penyakit yang dideritanya. Ia mengalami penyakit maggulance (pembengkakan) akibat luka yang terjadi di bagian paha sebelah kanan.
Selain itu, menurut pihak keluarga, juga ada lecet di bagian kepala. Almarhum memang punya riwayat penyakit gula.
Ketika ditemukan tergeletak di dalam kamar tidur rumahnya, kondisi tubuhnya sudah kaku. Selama hidupnya, Darwis dan keluarga tinggal di perumahan dosen Unhas Blok GB 22, Tamalanrea.
Dari rumah duka di Makassar, Senin pagi jenazah almarhum dibawa ke rumah orang tuanya di Kota Watampone, Kabupaten Bone. Sejumlah kerabat dan teman kerja almarhum ikut mengantar.
Adik kandung almarhum, Iwan Taruna mengatakan, kakaknya tinggal bertiga di rumahnya. ”Tidak ada orang di rumah. Anaknya ke pesantren diantar istrinya. Yang ada hanya keluarga dan satu teman dosennya,” kata Iwan di rumah orang tuanya di Bone, kemarin.
Dijelaskan Iwan, usai Magri, ayah tiga anak itu masih sempat terlihat bercengkerama di teras bersama orang-orang yang ada di rumahnya. Menjelang Isya, dia masuk kamar. Setelah itu dia tidak pernah keluar lagi.
”Sebenarnya orang yang ada di rumah sempat mengintip untuk mengetahui kondisi di dalam kamar. Tapi karena dia mau buang air, tidak sempat memeriksanya. Waktu itu memang dia sudah tidak melihat ada orang di atas tempat tidur,” jelas Iwan.
Sekitar pukul 01.00 dinihari, orang di rumah almarhum kembali memeriksa kamar untuk memastikan kondisinya. Ternyata, setelah masuk, dia mendapati almarhum sudah terbujur kaku di samping tempat tidur.
Diperkirakan, almarhum sudah meninggal beberapa jam sebelum ditemukan. Hal itu diindikasikan dari kondisi jasadnya yang sudah kaku.
Darwis meninggalkan tiga orang putri yang masih kecil. Yang sulung bernama Jihan Putri Assahra, putri kedua Aisya Gimnastasya, serta yang bungsu Ania Putri Wana.
Ketika jenazah almarhum disemayamkan di rumah orangtuanya di Watampone, tampak melayat Bupati Bone, HA Fahsar M Padjalangi dan sejumlah pejabat SKPD Pemkab Bone. Terlihat pula Ketua KPU Bone, Aksi Hamzah serta anggota KPU, sahabat, sejawat serta mahasiswa silih berganti datang ke rumah duka.
Usai disembahyangkan setelah salat Ashar di Masjid Tua Al-Mujahidin, jenazah almarhum kemudian dibawa ke pemakaman umum keluarga di Sugiale Kampuno, Kecamatan Sibulue, Bone.
Tenri A Palallo, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak Kota Makassar yang pernah menjabat sebagai komisioner KPU Sulsel bersama almarhum, memberi penuturan tentang sosok HM Darwis.
”Dia orangnya selalu terbuka. Kalau tidak suka dengan sesuatu, dia bilang. Kami selalu bertukar pikiran dan berdikusi saat mengurus caleg waktu sama-sama di KPU,” ujar Tenri, yang ketika dihubungi melalui telepon selularnya masih di perjalanan menuju Bone mengantar jenazah almarhum.
Mantan Kabag Humas Pemkot Makassar ini mengaku terakhir bertemu dengan almarhum ketika membesuk anaknya yang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Ummul Mukminin. Dua anak almarhum, masing-masing anak pertama dan kedua juga bersekolah di ponpes tersebut.
”Waktu ketemu tiga hari lalu di pesantren, sempat cerita-cerita. Dia baru pulang dari umrah,” kenang Tenri dengan nada haru.
Di mata kerabat dan sahabatnya yang lain, sosok Muh Darwis dikenal cerdas dan memiliki dedikasi terhadap kampus tempatnya mengabdi. Hingga akhir hayatnya, almarhum dipercaya sebagai Ketua Departemen Sosiologi Unhas, Sekretaris Jenderal Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unhas dan anggota Badan Pengurus Pendidikan Al-Markaz.
Kepala Humas dan Protokol Unhas, M Dahlan Abubakar mengatakan, dirinya langsung mengabarkan kepada beberapa jurnalis sesaat setelah mengetahui almarhum telah berpulang untuk selamanya.
”Inna lillaihi wainna ilaihi rajiun. Seluruh civitas akademika Unhas berduka atas berpulangnya salah satu tokoh dan dosen terbaik Unhas,” tulis Dahlan melalui pesan singkat, yang disebarkan pada tengah mala.
Ketua Jurusan Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Unhas, Dr Muhammad Farid mengaku sempat tidak percaya dengan kabar meninggalnya Muh Darwis. Selama ini, almarhum dikenalnya sebagai orang yang tidak banyak keluhan karena kesederhanaannya. Ia telah banyak berkontribusi terhadap Unhas.
”Saya melihat almarhum adalah sosok yang cerdas dan tidak ada perselisihan dengan orang lain. Terakhir ketemu, saya memuji dia yang banyak banyak merombak Jurusan Sosiologi sehingga bertambah bagus,” ujar Farid yang ditemui di kampus Unhas, kemarin.
Rektor Unhas, Prof Dwia Arie Tina memimpin langsung proses pelepasan jenazah almarhum dari rumahnya di perumahan dosen Tamalanrea menuju Kabupaten Bone. ”Kami keluarga besar nhas menyatakan turut berduka cita atas berpulangnya almarhum. Kami kehilangan sejawat yang berdedikasi tinggi,” katanya.
Pelepasan jenazah dilakukan setelah dua anak almarhum dijemput di pesantren. (*/rus/b)

Exit mobile version