PROFESI sebagai seorang petugas kebersihan di Kota Makassar seringkali hanya dipandang sebelah mata atau diabaikan oleh orang sekelilingnya. Padahal, tenaga dan keringat mereka sangat dibutuhkan dan berjasa dalam memerangi sampah.
Laporan: RAHMAN
Belum lagi, setiap pagi para petugas kebersihan yang mengendarai mobil ataupun motor tiga roda jenis Fukuda sudah menyisir sejumlah jalan dan lorong warga. Bahkan warga masih terlelap tidur, mereka sudah bekerja melawan sampah yang baunya sangat menyengat di hidung.
Pada siang hari, mereka kembali melawan panasnya terik matahari untuk mengumpulkan sampah-sampah yang berkeliaran di pinggir jalan.
Memang diakui menjadi petugas kebersihan bukan idaman bagi sebagian orang, tetapi tidak untuk Dg. Rasiang (57) tahun. Menurutnya, daripada menghabiskan masa tua hanya duduk termenung di rumah lebih baik melakoni sebagai petugas kebersihan karena lapangan kerja lain tidak tersedia.
Ditemui penulis di halaman Kantor Kecamatan Tallo, Dg Rasiang dan kawan-kawannya sedang istirahat. Mereka berbincang siang dengan meminum air putih.
Setiap hari dari senin hingga sabtu ia bersama teman-temannya berkeliling menyisir sampah warga dilorong-lorong.“Senin hingga sabtu kita angkut sampah milik warga,” ucapnya.
Dg Rasiang juga sempat menceritakan perihal suka dukanya selama melakoni hidup sebagai petugas kebersihan.
Apalagi bapak empat anak itu telah menjadi petugas kebersihan selama puluhan tahun. Awalnya, dirinya bekerja di Pelabuhan Sukarno sebagai petugas kebersihan dengan gaji hanya Rp170 ribu per bulan. Akibat regenerasi karyawan disana, dia harus tersingkir dan meninggalkan sumber kehidupan satu-satunya.
Setelah itu, demi bertahan hidup bersama keluarganya, dirinya terpaksa jadi kuli bangunan selama 6 bulan.
Pengalaman bekerja sebagai petugas kebersihan selama 6 tahun di pelabuhan Sukarno itu akhirnya dipanggil oleh pihak Kecamatan Tallo. Tawaran menjadi petugas kebersihan itupun langsung di iyakan dengan senang hati apalagi dengan gaji yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya yakni Rp1,7 juta perbulan.
Dg Rasiang juga tidak pernah mengharapkan apa-apa dari keempat anaknya, yang terpenting untuk dia adalah menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin dan melihat anak-anaknya kelak sukses. Meskipun dia seorang petugas kebersihan, tetapi tidak akan pernah menyerah, dia justru semakin tertantang untuk membesarkan anak anaknya dengan penuh kasih sayang, dan kesabaran.
Selain itu, Dg Rasiang juga bekerja keras dan terus berdoa. Dia adalah sosok ayah yang sesungguhnya, dia rela melakukan apa saja demi kesuksesan anak-anaknya.(man/war)
