MAKASSAR, BKM — Sebuah konsekwensi besar harus dipilih Syahrul Yasin Limpo (SYL) atas keputusannya untuk maju dalam bursa calon ketua umum (caketum) Partai Golkar. Dia harus rela menanggalkan jabatannya sebagai Gubernur Sulsel, yang saat ini memasuki periode kedua.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan Celebes Research Center (CTC) terkait persepsi publik masyarakat di Sulsel, sebanyak 34,2 persen menyatakan cukup setuju jika Syahrul mundur dari posisi gubernur jika terpilih sebagai ketua umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar pada Munaslub yang digelar di Nusa Dua Bali, 15-18 Mei mendatang. Sementara 4,7 persen sangat setuju. Artinya, ada 38,9 persen responden ingin SYL mundur dari kursi gubernur.
Adapun yang kurang setuju sebanyak 13,8 persen dan tidak setuju 3,8 persen. Sementara responden yang tidak memberikan jawaban sebanyak 42,5 persen.
Tingginya harapan masyarakat agar SYL mundur dari jabatan gubernur, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada mantan Wakil Gubernur di era Amin Syam ini berkiprah di level nasional. “Mayoritas masyarakat Sulsel menginginkan Pak Syahrul berkiprah di level nasional,” ujar Direktur Eksekutif CRC, Herman Heizer saat menggelar pres conference di Fave Hotel Jalan Pelita, Minggu (8/5).
CRC juga mensurvei seberapa setuju masyarakat Sulsel terhadap keinginan SYL maju di Munaslub. Responden menjawab sangat setuju 13,1 persen, 52,2 mendukung atau cukup setuju. Sementara yang kurang mendukung hanya 3,8 persen dan tidak setuju 2,0 persen. Adapun responden yang belum menentukan pilihan masih cukup tinggi, yakni 28,9 persen.
Untuk survei kemampuan SYL memimpin, mayoritas masyarakat menilai SYL sangat mampu sebesar 11,7 persen, cukup mampu 50,7 persen, kurang mampu 2,2 persen, tidak mampu 1,2 persen dan tak menjawab sebesar 34,1 persen.
Survei CRC yang digelar sejak 27 April hingga 3 Mei menggunakan 810 responden yang tersebar di 24 kabupaten/kota di Sulsel, dengan marging of error plus minus 3 persen.
Atas tingginya desakan publik agar SYL berkiprah di level nasional, Dosen Fisipol Unismuh Makassar, Arqam Azikin megemukakan bila desakan masyarakat itu karena memang posisi SYL sudah menjadi tangkapan masyarakat umum dengan menjadi koordinator para gubernur se-Indonesia.
Selain itu, SYL selalu diundang baik oleh presiden, wakil presiden maupun kementrian. “Dan yang paling terakhir adalah SYL maju sebagai calon ketua umum partai besar. Kalau memang masyarakat menginginkan SYK masuk dalam level nasional, maka mementum munaslub ini harus ditangkap. Jangan lagi ditunda. Sebab kesempatan itu tidak datang dua kali,” ujar Arqam.
Sehari sebelumnya, panitia pengarah (SC) Munaslub meloloskan SYL sebagai salah satu caketum Golkar. Ketua SC Nurdin Halid langsung mempersilakan SYL untuk mencabut nomor urut sebelum digelar kampanye pada zona yang disediakan. Karena SYL berhalangan, maka Arfandi Idris yang mewakili mencabut nomor urut.
“Iya, Pak Syahrul mendapat nomor urut 8,” ujar Sekretaris Tim Pemenangan SYL untuk Golkar 1, Lakama Wiyaka, Sabtu (6/5). (jun/rus)
38 Persen Masyarakat Ingin SYL Mundur
