HAMPARAN lahan perkebunan di Kabupaten Luwu, khususnya di Kecamatan Latimojong , sesungguhnya memiliki nilai ekonomis yang bisa mendongkrak kesejahteraan masyarakat. Tidak salah jika Bupati Luwu, Ir H Andi Mudzakkar ingin fokus mengembangkan areal perkebunan di wilayahnya. Bahkan ia tidak segan-segan untuk berguru ke Kota Batu, Malang, Provinsi Jawa Timur.
Laporan: Irwan Musa
dari Kota Batu, Malang
HARI masih pagi. Hawa dingin dan segar di Kota Batu, Malang menyambut rombongan Bupati Luwu Andi Mudzakkar, yang baru saja tiba dari Yogyakarta, Minggu (8/5).
Jika di Kota Yogyakarta orang nomor satu di Kabupaten Luwu ini terlihat sedikit tegang menghadapi persoalan mahasiswa yang terancam konflik dengan warga Timoho, namun di Kota Batu terlihat sebaliknya. Ia tampak terlihat santai.
“Saya sengaja berkunjung ke Malang, khususnya ke Batu untuk berguru soal tanaman agrowisata. Kami ingin melihat dari dekat seperti apa pengelolaan sistem perkebunan di daerah ini,” kata Bupati yang akrab disapa Cakka ini.
Saat berada di Malang, Andi Mudzakkar didampingi Ketua DPRD Andi Abdul Muharrir, Kepala Bappeda Muhammad Rudi, Kepala Dinas Cipta Karya Andi Fatahillah dan Sekertarisnya Sofyan Thamrin.
Dengan menggunakan kendaraan angkutan umum, rombongan menuju lokasi perkebunan Kota Batu di wilayah Kecamatan Bumiaji. Di tempat ini, mereka menyusuri puluhan bahkan ratusan hektare area perkebunan yang di atasnya tumbuh tanaman apel, jeruk kepro dan jambu kristal milik warga.
Areal perkebunan ini pula yang membawa nama Kota Batu dikenal di Indonesia, dan menjadi daerah percontohan penerapan pola perkebunan agrowisata ideal di nusantara berbasis ramah lingkungan.
Tidak diketahui persis dari mana asal Kota Batu. Namun dari literatur disebutkan, kota yang letaknya paling puncak di Malang Raya ini merupakan kota kecil memesona. Karenanya, di era pendudukan Belanda, daerah ini dijuluki De Klein Switzerland atau Swiss kecil di Pulau Jawa, yang secara resmi terbentuk pada tanggal 21 Juni 2001 silam.
Namun berdasarkan penelusuran sejarah, asal kata ‘Batu’ merupakan tanah tua yang telah dihuni oleh manusia zaman prasejarah
Kota Batu sendiri sangat identik dengan batu. Ada empat situs sejarah penting yaitu prasasti Gunung Gaprang, prasasti Leran Kulon, prasasti Gulung-gulung (era Mpu Sindok/929) dan kitab terkenal Negarakertagama (pupuh 78.5) menyebut istilah Batawan. Batwan diterjemahkan sebagai batuan atau bebatuan, yang dalam perkembangan bahasa berubah menjadi batu.
Secara administratif Kota Batu merupakan daerah yang paling muda dibanding kabupaten dan kota Malang. Namun pada geografis, Kota Batu terdiri dari kecamatan, yaitu Kecamatan Kota (Batu), Bumiaji dan Junrejo. Terdapat 19 desa dan 5 kelurahan.
Dengan hanya memiliki luas 202,800 km persegi, daerah ini ramai dikunjungi wisatawan. Salah satu kecamatan yang menjadi sasaran kunjungan Bupati Luwu Andi Mudzakkar dan rombongan adalah Kecamatan Bumiaji, daerah yang memiliki ketinggian perbukitan antara 700-1.300 meter di atas permukaan laut (MDPL) dengan suhu 31 derajat celcius.
Di Kecamatan Bumiaji, penerapan program agrowisata berbasis ramah lingkungan nampak paripurna. Hal ini pula yang membuat Bupati Luwu tertarik melihat dari dekat aktivitas agrowisata di Desa Bumiaji.
Di desa inilah sebuah ide gagasan mewujudkan pembangunan secara menyeluruh melalui pemberdayaan masyarakat yang berbasis pertanian yang bersinergi dengan dunia pariwisata, dalam koridor kesederhanaan budaya masyarakat pedesaan yang penuh harmoni.
“Di Kabupaten Luwu kita bisa mengembangkan perkebunan dengan pola agrowisata. Kecamatan Bumiaji ini memiliki topografi yang hampir sama dengan Kecamatan Latimojong maupun di Suli Barat. Mungkin konsep-konsep perkebunan ini bisa kita adopsi,” kata Cakka.
Di lokasi perkebunan buah di Bumiaji, Cakka dan rombongan menyempatkan melihat dari dekat budidaya tanaman jambu kristal milik warga bernama Imam Ghozali. Tanaman ini ditanam sejak tahun 2008. Buah jambu kristal milik Imam Ghozali telah menembus pasar dan mampu mensejahterakan petani.
Dari sini, Cakka mendapat ilmu bahwa seorang petani yang ingin mengembangkan tanaman buah-buahan dengan pola sistem pertanian berkelanjutan, harus lebih dahulu mengubah pola pikir. Dari cara berpikir menghitung jumlah produksi menuju pola pikir proses.
“Untuk sukses di dunia perkebunan, dibutuhkan ketekunan mengelola lahan. Petani harus bersabar, dan membuang jauh pikiran berapa hasil produksi lahan. Tetapi yang harus difokuskan, meyakini sebuah proses, sebuah ketekunan,” tandas Cakka.
Jambu kristal merupakan salah satu buah unggulan yang memiliki prospek pasar yang cukup tinggi di masa mendatang. Jambu ini memasuki wilayah Indonesia pada tahun 1998 melalui Misi Teknik Taiwan (Taiwan Technical Mission in Indonesia).
Tanaman jambu kristal mulai berkembang pada tahun 2004 di Indonesia. Beberapa tahun terakhir, jambu kristal ini sudah dikembangkan di beberapa provinsi di Indonesia. Salah satunya milik Imam Ghozali di Bumiaji, Kota Batu yang telah bersertifikat.
Jambu kristal yang ditanam Imam Ghozali ini sangat nikmat di lidah, dengan buah yang cukup besar dan memiliki batu yang sangat sedikit. Jambu jenis ini memiliki rasa apel dan rasa buah pir dan juga jambu.
“Memakan jambu ini kita merasakan 3 in 1 sekaligus, Pak. Yaitu rasa apel, pir dan jambu batu itu sendiri,” kata Imam Ghozali sedikit berpromosi. (*/rus/b)
