Site icon Berita Kota Makassar

Bonceng Jenazah Anaknya dari Puskesmas Pakai Motor

BKM/SAMIRUDDIN DIBONCENG MOTOR-Suasana di rumah duka Jalan Agussalim, Keluraha Tiro Sompe, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare. Di rumah ini jenazah Samsu Alam disemayamkan, setelah sebelumnya diangkut menggunakan motor dari Puskesmas Madising na Mario.

SEBUAH kisah miris tentang pelayanan kesehatan kini datang dari Kota Parepare. Seorang buruh di pelabuhan nusantara terpaksa membonceng jenazah anaknya dari puskesmas menggunakan sepeda motor.

Laporan: Samiruddin

PERISTIWA tragis itu terjadi pada jasad bernama Samsu Alam (25). Sebelumnya, warga Jalan Agussalim, Keluraha Tiro Sompe, Kecamatan Bacukiki Barat, Kota Parepare ini dibawa ke Puskesmas Madising na Mario untuk mendapatkan perawatan. Namun nyawanya tak tertolong. Iapun mengembuskan nafasnya yang terakhir.
Rencananya, jenazah almarhum akan dibawa pulang ke kediamannya. Keluarganya meminta agar mobil ambulance yang ada di Puskesmas Madising na Mario mengantar almarhum pulang ke rumah duka.
Namun pihak puskesmas menolak permintaan itu, dengan alasan bukan mobil ambulance untuk mengantar mayat, melainkan hanya mengantar pasien. Apalagi permintaan mengantar jenazah itu sudah pukul 01.05, Selasa (17/5) dinihari.
Ayah almarhum, Onding (57) tentu kecewa dengan penolakan tersebut. Dengan terpaksa, diapun membonceng jenazah anak sulungnya itu dengan menggunakan sepeda motor matic pulang ke rumahnya.
”Mau diapa lagi. Terpaksa diangkut pakei motor karena tidak ada mobil ambulance. Kami bonceng mayat dengan diapit di tengah jok belakang,” ujarnya dengan nada penuh kecewa, kemarin.
Apa yang dialami Onding diamini Muslimin, Ketua RW V, Kelurahan Tiro Sompe. Muslimin yang mengetahui ada warganya meninggal mengaku langsung ke Puskesmas .
“Selain mobil ambulance di puskesmas menolak mengantarnya, maka langkah awal tentunya mencari ambulance lain dengan Call Center 112 untuk meminta bantuan. Namun sopirnya juga beralasan, mobil ambulancenya hanya untuk membawa orang sakit, bukan mayat,” bebernya.
Muslimin juga sempat bersitegang dengan beberapa petugas jaga di puskesmas, karena meminta diusahakan ambulance. Dari empat petugas jaga tersebtu, tak ada satupun yang menghiraukannya.
“Akhirnya kami sepakat untuk mengangkut si mayat dengan menggunakan motor. Mereka berbonceng empat,” jelasnya.
Muslimin mempertanyakan kinerja Call Center 112 yang dinilainya tidak berpihak ke kalangan orang tidak mampu.
“Harusnya aturan itu fleksibel. Bagaimana misalnya kalau mobil tersebut membawa orang sakit ke Makassar, lalu ditengah jalan meninggal, apakah ini berarti mayatnya harus diturunkan di jalan,” cetusnya.
Kepala Puskesmas Madising na Mario, dr Haslinda sangat menyesalkan kejadian diangkutnya mayat pasien dengan sepeda motor.
“Sebagai kepala puskesmas saya yang paling bertanggung jawab atas hal tersebut. Pada saat kejadian, Selasa dinihari, staf menelpon saya. Namun karena ketiduran, panggilannya baru saya lihat pada subuh hari. Saya sudah melayat ke rumah duka dan menyampaikan permintaan maaf sedalam-dalamnya atas insiden tersebut,” ujarnya melalui telepon selularnya.
Aturan penggunaan mobil ambulance, kata Haslinda memang telah ditentukan khusus untuk mengangkut orang sakit. Sementara untuk orang yang telah meninggal harus dibawa menggunakan mobil jenazah. “Namun aturan itu fleksibel,” tambahnya.
Dari keterangan staf , menurut Haslinda, pihak keluarga almarhum memang telah menelpon ke 112. Namun layanan Call Center itu berhalangan untuk alasan yang tidak diketahuinya.
“Kita memang ada aturan bahwa mobil 112 tidak boleh menjemput pasien di Puskesmas. Mungkin itu juga alasan dari pperator 112 menolak, karena kan puseksamas juga punya ambulance,” jelasnya.
Haslinda menerangkan, pada saat dibawa ke Puskesmas, pasien sebenarnya sudah meninggal. Namun sesuai prosedur tetap harus dilayani.
“Pasien datang pada jam 00.25 dan dinyatakan meninggal pada jam 01.15. Namun sebenarnya menurut petugas, pada saat datang si pasien memang telah meninggal dunia,” pungkasnya.
Terpisah, Kadis Kesehatan Parepare, dr Muh Yamin, mengaku adanya miskomunikasi dlam kejadian ini. Sebab pihak call centre menyiapkan mobil jenazah. Hanya saja keluarga korban tidak sabar menunggu.
”Pihak keluarga korban yang tidak sabar menunggu, sehingga ngotot pakai motor,” kilahnya.
Kabag Humas Pemkot Parepare, AA Hamka sangat menyayangkan peristiwa yang sebenarnya tidak perlu terjadi ini. “Di Call Centre 112 disiapkan ambulance untuk mengangkut mayat. Jika mereka tidak melayani, itu harus ditelusuri. Masalah ini mestinya tidak boleh terjadi,” tandasnya.
Hamka mengakui kasus ini belum diketahui oleh wali kota. ”Pak Wali masih berada di Bali mengikuti Munaslub Golkar,” ujarnya. (*/rus/b)

Exit mobile version