Site icon Berita Kota Makassar

Hilangkan Rasa Malu Demi Menafkahi Empat Anaknya

HIMPITAN ekonomi memang kerap kali membuat seseorang harus berjuang mati-matian demi bertahan hidup. Tak terkecuali dengan Hamriyati, ibu kelahiran Bone 54 tahun silam yang berjualan kue tradisional demi menafkahi empat orang anaknya.

Di pundaknya yang mulai rapuh, Hamriyati juga harus memikul beban berat sebagai single parent. Sang suami yang selama ini menjadi beban menafkahi ia dan anak-anaknya lebih memilih meninggalkannya dan tak tahu dimana keberadaannya.
Memang awal-awal kepergian suami-nya lima tahun yang lalu, Hamriyati merasa frustasi karena tak tahu mau berbuat apa untuk menyambung hidup, sementara pekerjaan tidak ada.
Berkat doa yang ia panjatkan setiap usai salat, Hamriyati mendapat ilham untuk mencoba berusaha menjual kue milik tetangganya.
Hari berganti hari, tidak kenal siang hingga malam, Hamriyati menjajakan kue titipan dari tetangganya.
Hanya bermodalkan satu etalase kaca yang berukuran 2×2 cm, Hamriyati tetap bersemangat untuk berusaha dan terus berusaha.
Dia-pun merasa bersyukur karena keempat anaknya turut membantunya menjual kue sehabis pulang sekolah.”Saya bersyukur memiliki empat orang anak yang tidak pernah banyak meminta. Mereka mengetahui kondisi orang tuanya, cukup apa adanya untuk makan mereka sangat mensyukurinya. Ia juga banyak membantu saya berjualan kue,” ujar Hamriyati, sambil sesekali mengusap keringat yang bercampur debu kepada penulis.
Ketika pukul 06:00 Wita, Hamriyati sudah meninggalkan rumahnya yang tidak jauh dari tempat jualannya di Jalan Hertasning Baru. Ketika sampai di tempat jualannya ia langsung bergegas membersihkan etalase miliknya dan menunggu si pemilik kue datang ke tempatnya menitip kue yang akan dia jajakan.
“Saya hanya dapat sekitar Rp400 atau Rp500 rupiah perbiji kalau ada yang laku. Untuk waktunya sendiri saya sudah mulai di tempat penjualan jam 06:00 Wita sampai 19:00 Wita,” ucapnya.
Menjual kue di pinggir jalan menurut Hamriyati sama sekali tidak membuat dia malu. Hal tersebut karena dia bersemangat untuk dapat terus membantu menyelesaikan biaya kuliah anaknnya.
“Saya memilih untuk menjual kue karena mau terus membantu kuliah anak saya. Apalagi suami saya sudah pisah atau meninggalkan saya dengan anak saya. Jadi mau tidak mau saya harus banting tulang untuk membiayai keluarga meskipun satu anak saya yang sudah bekerja juga membantu biaya hidup sehari-hari,” jelasnya.
Setiap hari, dia mengaku mampu mendapatkan uang sebesar Rp200 ribu perhari, dan uang yang dia dapatkan dia gunakan untuk biaya hidup dan sekolah anaknya. Meski terbilang tidak cukup, dia mengaku tetap bersyukur dan pandai pandai mengatur pengeluarannya.
“Di cukup cukupi saja, yang penting sudah bisa membeli beras dan lauk pauk,” tamahnya.
Terkait Bulan Suci Ramadan yang tinggal beberapa hari lagi, Hamriyati mengaku bersyukur karena Ramadan adalah bulan penuh berkah. Apalagi, keuntungan menjalankan bisnis kue tradisional di bulan puasa bisa berlipat ganda meski mempunyai batas waktu hanya sebulan saja.
“Setiap hari meski di luar bulan Ramadan saya tetap berjualan kue di Jalan Hertasning, Hanya saja, setiap menjelang bulan Ramadan saya mulai menambah stok jualan kue menjadi dua kali lipat dibandingkan hari biasanya. Sudah sejak tahun 2011 saya berjualan kue tradisional,” kata Hamriyati.
Dia mengatakan, jajanan untuk buka puasa tersebut dijual bervariasi, dari Rp1.000-Rp2.000 per potong untuk gorengan dan kue serta Rp5000-8000 untuk minuman seperti es campur dan aneka kolak dingin.
Menurutnya, menjual jajanan buka puasa dirasakan ada suka duka terutama kalau cuaca tidak mendukung.”Kalau panas begini enak jualannya apalagi minuman, tapi kalau hujan ya terpaksa rugi sedikit,” ujar Hamriyati.
Bahkan ibu berkaca mata ini mengaku, keuntungan paling banyak diperoleh pada saat pertengahan puasa, sebab para ibu-ibu rumah tangga sudah malas membuat panganan untuk berbuka puasa.”Kalau memasuki puasa ibu-ibu masih suka membuat kue paganan berbuka puasa. Tapi kalau pertengahan bulan puasa biasanya mereka suka membeli kue dan gorengan di luar rumah,” katanya.
Sambil mengatur kue yang dijajakan di dalam etalase, wanita kelahiran Bone 20 Maret 1962 menambahkan, berbagai macam jenis kue tradisional yang ia pajang seperti Songkolo Bandang, Onde onde, Songkolo, Tarajung, Putu Tongka ataupun Putu Cangkir dengan harga yang bervariasi. Ibu lima orang anak itu mengaku mampu menjual sekitar 500 biji kue dalam sehari khususnya dihari biasa. Sedangkan ketika masuk Ramdhan, dia mengaku mampu menjual sedikitnya 800 biji kue perharinya.
“Sudah lima tahun saya menjual kue tradisional atau modern di sini dek, lumayan pendatan perhari yang saya dapat digunakan untuk biaya hidup sehari hari dan membiayai kuliah empat anak saya dari lima bersaudara. Karena anak pertama saya sudah bekerja,” ucapnya.(arf/war)

Exit mobile version