Site icon Berita Kota Makassar

Dipulangkan Paksa, Bocah Hydrochepalus Meninggal

MAKASSAR, BKM — Penderitaan hidup yang dialami Rifki Rizwan berakhir sudah. Kamis (26/5) pukul 08.45 Wita, pasien penderita hydrocpehalus alias pembengkakan di kepala yang diakibatkan kelebihan cairan di otak itu, mengembuskan nafasnya yang terakhir.
Setelah beberapa hari menjalani perawatan di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar, bocah malang itu berpulang ke pangkuan Ilahi. Ia meninggal hanya disaksikan kakeknya, Abd Latief serta neneknya yang selama ini setia mendampingi dan menjaganya di rumah sakit.
Sebelum meninggal, Rifki yang berasal dari Bombana, Sulawesi Tenggara ini kembali menjalani operasi untuk penyedotan cairan di otak. Namun ada yang berbeda dalam penanganannya kali ini.
Seperti diceritakan kakek Rifki, Abd Latief, kemarin. Menurutnya, ada kejanggalan yang dialami Rifki pada saat operasi terakhirnya.Takaran cairan yang disedot dari kepalanya lebih banyak dari sebelumnya.
”Saya sudah tanyak ke doktr, kenapa cairan yang disedot dalam operasi itu terlalu banyak dari sebelumnya sehingga kepala Rifki terlalu kempes. Tapi dokter bilang tidak apa-apa, tanpa ada penjelasan yang lebih jauh lagi,” ucap Abd Latief melalui telepon sambil terisak-isak, kemarin.
Menurut pengakuan Latief, sebelum menjalani operasi, kondisi Rifki cukup baik. Bahkan dia sempat bersenda gurau dengan sang kakek dan neneknya yang selalu menemaninya selama di rumah sakit.
Namun, setelah operasi yang dilakukan pukul 24.00, Rabu malam (25/5), kondisi Rifki langsung drop. Badannya pun langsung panas.
”Usai operasi jam 12 malam, tubuhnya panas dan sering menangis. Saya minta obat yang biasa Rifki minum kalau habis operasi, tapi dokternya bilang tidak ada. Persediaan obatnya habis,” ujar Latief menirukan penjelasan dokter.
Setelah berusaha untuk meredakan sakit yang dirasakan Rifki usai operasi namun tak kunjung membuahkan hasil, akhirnya pihak dokter dan rumah sakit menganjurkan keluarga Rifki untuk memulangkannya ke rumah ketimbang dirawat di rumah sakit.
”Saya masih mempertahankan Rifki untuk tetap dirawat di rumah sakit. Tapi dokternya menyuruh untuk dibawa pulang saja. Jam 3 dinihari saya terpaksa membawanya pulang,” jelasnya.
Ketika dibawa pulang ke rumah kontrakan, kondisi Rifki tambah memburuk. Panas badannya bertambah tinggi.
Bahkan Rifki yang biasanya bisa dibalikkan badannya ketika terbangun akan menangis. Namun saat di rumah, Rifki hanya diam dan tidak mengeluarkan suara.
“Jadi pukul 7 pagi saya bawah lagi ke UGD. Tidak lama setelah diperiksa, dokter bilang Rifki sudah meninggal. Tapi waktu saya bawa ke rumah sakit sebenarnya masih hidupji. Jadi Rifki meninggal pukul 08.45 pagi,” tutur Latief.
Kepala Bagian Hukum dan Humas RS Wahidin Sudirohusodo, Dr Muh Ilham Hamzah,DESS yang dikonfirmasi terkait kematian Rifki, mengaku tidak dapat menjelaskan secara rinci soal kondisi Rifki. Ia tidak bisa membuka rekam medik Rifki tanpa persetujuan tertulis dari pihak keluarga.
”Kami tidak bisa perlihatkan hasil medik Rifki tanpa persetujuan hitam di atas putih dari pihak keluarga. Jika keluarga merasa keberatan, harusnya melapor ke pihak rumah sakit,” kata Muh Ilham.
Selama dirawat di RS Wahidin, bocah usia satu tahun dua bulan ini dutangani dr Andi Ikhwan. Sebelum meninggal, Rifki sudah tiga kali menjalani operasi. (ita/rus)

Exit mobile version