PEMERINTAH Kota Makassar melalui Kantor Ketahanan Pangan Kota Makassar intens mendukung program andalan Wali Kota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto dalam menata dan menghijaukan lorong-lorong dalam wilayah kota. Program tersebut tidak lain adalah lorong garden (longgar).
Program longgar ini dimaksud untuk memanfaatkan pekarangan rumah warga lorong dengan menanam berbagai jenis tanaman yang dapat menghijaukan lingkungan sekitar, juga dapat menambah nilai gizi serta kesejahteraan warga kota makin baik.
Sejalan dengan konsep longgar tersebut, Kantor Ketahanan Pangan turut mengambil peran penting dengan melakukan pembinaan, serta pendampingan bagi warga lorong. Mereka dikelompokkan dalam satu wadah Kelompok Wanita Tani (KWT) yang tersebar di 143 kelurahan di kota ini.
Kantor Ketahanan Pangan melibatkan sebanyak 51 penyuluh pertanian, dan THL-TB Penyuluh Pertanian guna membina, maupun mengawal program-program Pemkot Makassar dalam menghijaukan lorong.
Sebagai pembina KWT yang dilibatkan langsung memanfaatkan pekarangan rumah masing-masing anggota, KKP Kota Makassar memberi dukungan mulai menggelar berbagai pelatihan bagi kelompok, sosialisasi program Percepatan Penganekaragaman Komsumsi Pangan (P2KP), Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), memberi bantuan bibit dan rak tanaman bagi kelompok serta berbagai bentuk dukungan lainnya.
Beberapa waktu lalu, KKP Kota Makassar menggelar Pembinaan Kelompok Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) di BPP Sudiang, Kamis (12/5) lalu.
Di kegiatan tersebut, Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kota Makassar, Hj. Sri Sulsilawati mengungkapkan, kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan partisipasi kelompok wanita tani (KWT) dalam penyediaan sumber pangan dan gizi keluarga melalui optimalisasi pemanfaatan lahan pekarangan sebagai penghasil sumber karbohidrat, protein,vitamin dan mineral.
“Dengan melibatkan masyarakat yang berkelompok dalam Kelompok Wanita Tani atau kWT, diharapkan nantinya mereka dapat mendorong terwujudnya pola konsumsi pangan masyarakat yang beragam, bergizi, seimbang dan aman atau biasa disingkat B2SA, yang semuanya bisa didapatkan dengan bertanam sendiri di pekarangan rumah kita,” ujarnya.
Selain intens melakukan pembinaan KWT dalam mengembangkan program longgar yang dipadukan dengan P2KP – KRPL di kota ini, Sri Sulsilawati juga kerap turun langsung ke lapangan berdialog dengan sejumlah KWT binaan KKP Kota Makassar.
Salah satu yang dikunjungi yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Seroja yang berada di wilayah Kelurahan Timungan Baru, Kecamatan Bontoala yang merupakan salah satu KWT binaan Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Kota Makassar. Terdapat puluhan KWT yang tersebar di 143 kelurahan se-Kota Makassar yang dibina KKP Kota Makassar.
Keberadaan KWT Seroja menunjukkan perkembangan KWT yang terbilang cepat dalam mendukung program-program pemanfaatan pekarangan dalam lorong, menarik perhatian serius Pemerintah Kota Makassar, dalam hal ini KKP Kota Makassar.
Guna melihat dari dekat perkembangan KWT Seroja yang dianggap berhasil menghijaukan lorong dengan program pemanfaatan pekarangan rumah yang sempit di tengah-tengah perkotaan, maka Sri Sulsilawati melakukan kunjungan pada KWT Seroja, Rabu, (25/5) lalu.
Kepala KKP Kota Makassar berkunjung ke lokasi KWT Seroja didampingi Kepala BP3K Barombong, Muh.Syahrial RM, KoordinatorPenyuluh Pertanian Kota Makassar, Agus Suwarsono, SST, Penyuluh pendamping Hj.Ramlah Arkan.
“Kehadiran kami di lokasi KWT Seroja, tentu yang utama agar terjalin hubungan silaturrahmi dan harmonis antara Pemerintah Kota, dalam hal ini Kantor Ketahanan Pangan Kota Makassar dengan para ibu-ibu anggota KWT. Selain itu, kami hadir untuk berdialog langsung, apa ada kendala di lapangan yang didapatkan dalam mendukung program-program pemanfaatan pekarangan, atau jika berhasil, kami ingin melihat langsung sejauh mana keberhasilan anggota KWT Seroja itu sendiri,” papar Sri Sulsilawati.
Pada kesempatan ini, Sri Sulsilawati menyempatkan diri berdiskusi dengan kelompok wanita tani (KWT) Seroja. Kepala KKP Kota Makassar ini juga mengucapkan terima kasih atas waktu dan kesempatan bertemu dengan seluruh anggota KWT.
“Kelompok wanita tani ini adalah pioner pengembangan ekonomi keluarga berbasis kelompok. Kita bisa lihat hari ini, dalam perkembanganya ekonomi anggota kelompok yang makin hari makin baik dan mengalami peningkatan.Pemanfaatan potensi pertanian di daerah dengan lahan pertanian yang sangat terbatas, benar-benar perlu dioptimalkan,” pesannya.
Ia menambahkan, jika berjalan baik pemanfaatan pekarangan tersebut, dengan aktif menanam jenis tanaman yang dapat dikomsumsi, minimal untuk kepentingan sehari-hari, dihatapkan ada pengembangan untuk pemenuhan keperluan masyarakat serta bernilai gizi tinggi.(*)