TIDAK mudah bagi seseorang menyandang predikat sebagai supporter fanatik sebuah klub sepakbola. Dibutuhkan komitmen dan konsistensi dalam mewujudkannya. Dan Daeng Uki mampu membuktikannya.
Laporan: Arif Al Qadri
Daeng Uki, Panglima Laskar Ayam Jantan PSM (1)
NAMA lengkapnya Uki Nugraha. Namun di kalangan supporter PSM Makassar, ia lebih dikenal dengan sebutan Daeng Uki.
Naik di atas pagar stadion sambil bernyanyi. Gaya rambut punk tanpa mengenakan baju. Itu hanya sebagian aksi yang selalu ditunjukkan Daeng Uki ketika kesebelasan jagoannya, PSM berlaga.
Tidak salah jika kemudian Daeng Uki membentuk kelompok supporter yang diberi nama Laskar Ayam Jantan (LAJ) PSM Makassar. Uki kemudian menjadi panglimanya.
Kecintaannya pada dunia sepakbola ditunjukkan Daeng Uki sejak masih usia 20 tahun. Sebagai seorang supporter fanatik, keberadaan Daeng Uki selalu dicari.
Ketika menyaksikan pertandingan PSM Makassar, baik secara langsung maupun disiarkan melalui televisi, sosok Daeng Uki menjadi salah satu yang mendapat sorotan. Karena saat menonton, emosinya kadang meluap-luap. Hal itu ditunjukkannya dengan berteriak ketika seorang pemain mencetak gol.
Inisiatif Daeng Uki membentuk LAJ bermula ketika dia menyaksikan pertandingan PSM Makassar melalui televisi. Saat itu dia melihat peran supporter sangat berpengaruh terhadap para pemain. Utamanya dalam memberikan semangat melalui teriakan, nyanyian dan kekompakan lainnya.
Di awal tahun 2010 lalu, bapak dua anak inipun mendirikan LAJ. Enam tahun terbentuk, selama itu pula Daeng Uki menjadi panglimanya.
Dulu, supporter yang masuk dan bergabung di LAJ tergolong masih sangat minim. Namun seiring perjalanan waktu, kini LAJ telah memiliki ratusan anggota dari kalangan supporter. Umur mereka bervariasi. Ada yang remaja, dan sebagian lainnya sudah dewasa. Selain pria, di LAJ juga bergabung supporter wanita.
Diakui Daeng Uki, selama LAJ terbentuk, dirinya sama sekali tidak pernah membuka pendaftaran untuk bergabung. Karenanya, mereka yang masuk menjadi anggota LAJ adalah orang yang benar-benar cinta dan loyal memberikan dukungannya terhadap PSM.
“Saya tidak pernah merekrut anggota. Saya hanya menerima orang yang benar-benar cinta dan mendukung PSM Makassar dengan kondisi apa adanya. Anggota LAJ tidak semuanya laki-laki, tapi ada juga perempuan. Mereka semua adalah pendukung PSM Makassar,” jelas Daeng Uki.
Menjaga kekompakan dengan satu tujuan, yaitu memberikan dukungan kepada PSM Makassar, itulah yang sering ditanamkan Daeng Uki kepada seluruh anggotanya. Meski mengaku sama sekali tidak mendapat upah dari pihak PSM Makassar menjadi Panglima LAJ, tapi dia sudah bangga bisa diberikan kesempatan untuk memberikan dukungan kepada PSM saat bertanding.
Menjadi panglima supporter dengan memiliki ratusan anggota,bukan berarti LAJ gratis masuk dalam stadion. Pada setiap pertandingan, para anggota LAJ tetap harus mengantongi tiket masuk menyaksikan pertandingan PSM Makassar di stadion.
Tidak jarang juga, dia terpaksa menombok uang anggotanya ketika kekurangan, baik untuk membeli tiket ataupun minuman saat berada di lapangan.
“Saya tidak dapat apa-apa menjadi seperti ini. Tapi saya senang dan bangga karena bisa memberikan dukungan terhadap Tim Juku Eja. Biasanya, pada setiap pertandingan saya harus mengeluarkan uang pribadi sekitar Rp300 ribu untuk kebutuhan apa saja. Seperti menambahi uang beli tiket anggota atau uang minuman mereka ketika di lapangan,” terangnya. (*/rus)
