Site icon Berita Kota Makassar

Dua Biro Haji-Umrah Dituding Rugikan Jamaah

MAKASSAR, BKM — Dua biro haji dan umrah di Kota Makassar, masing-masing Alburuj dan Global Inspira Indonesia (GII), dituding telah merugikan calon jamaah dan jamaahnya. Mereka mengaku sudah komplain kepada pengelola, namun sampai saat ini tidak ada tanggapan berarti.
Dua orang yang menjadi korban menyampaikan penjelasannya secara terpisah kepada BKM. Calon jamaah Alburuj bernama Muh Amir Razak menjelaskan permasalahannya melalui surat elektronik. Sementara Herlina, jamaah umrah GII membeberkan kejadian miris yang dialaminya saat menjalani umrah langsung kepada BKM.
Dari penjelasan Amir Razak, dia tertarik untuk berangkat haji melalui program ONH Plus melalui biro haji Alburuj. Di awal tahun 2013 ia dihubungi seseorang yang dianggap sebagai sahabatnya. Sang sahabat menyampaikan bahwa Biro Haji dan Umrah bernama Alburuj yang beralamat di Panakkukang, Makassar bagus. Kebetulan, anak dari sahabatnya itu bekerja di biro haji dan travel tersebut.
”Saya kemudian mencoba menghubungi anak teman saya tersebut yang bernama Nurfajri. Dalam percakapan itu, saya mendapat informasi bahwa biaya ONH Plus untuk satu orang sebesar Rp75 juta. Apalabila mau umrah terlebih dahulu, biaya umrah Rp15 juta. Tapi kalau mendaftar umrah dan haji ada diskonnya. Cukup Rp85 juta per orang. Bisa bayar DP (down payment/panjar) dulu,” terang Amir Razak, warga asal Takalar yang saat ini bekerja di kantor Pengadilan Tinggi Agama Sulawesi Tenggara.
Setelah ada kesepakatan antara Amir dan istrinya, Sufiaty, pada 13 April 2013 keduanya datang ke travel Alburuj. Ikut pula kakak ipar perempuan Amir Razak.
”Pada hari itu saya dipertemukan dengan pimpinan travel bernama H Arwadi dan terjadilah pembicaraan. Saya kemudian ditanya, apakah mendaftar haji sekaligus umrah. Saya jawab, haji saja karena uang belum cukup,” terang Amir lagi.
Kepada H Arwadi, Amir Razak menyampaikan bahwa hari itu dia hanya membawa DP sebesar Rp100 juta. Spontan H Arwadi mengatakan, tidak bisa kalau tidak langsung lunas.
”Saya kaget waktu itu, karena informasi yang saya terima dari stafnya (Nur Fajri) bisa DP dulu. Saya sampaikan kalau saya hanya membawa uang Rp100 juta untuk DP, karena Nur Fajri sendiri yang menyampaikan informasi seperti itu,” jelas Amir.
Akhirnya, H Arwadi menyetujui bahwa bisa DP Rp100 juta, dengan catatan kekurangannya harus cepat dilunasi. Bukti penyerahan uang sebesar Rp100 juta itu ada dalam bentuk kuitansi.
Disusul kemudian pembayaran kedua sebesar Rp15 juta pada 8 Mei 2013, pembayaran ketiga Rp20 juta pada 10 Juni 2013 dan pembayaran keempat di tanggal 2 Juli 2013 sebesar Rp20 juta. Sehingga total keseluruhan uang yang telah disetor sebesar Rp155 juta, yang semuanya dibuktikan dengan kuitansi pembayaran. Setelah disatukan, ternyata pembayaran ONH saya sudah lebih Rp5 juta.
”Waktu itu H Arwadi menyampaikan kepada saya bahwa sebenarnya jatah saya nanti musim haji 2015. Namun dia akan usahakan pada tahun 2014. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda tentang keberangkatan saya,” terangnya.
Pada musim haji tahun 2015 lalu, Amir Razak datang mempertanyakan kapan dia dan istrinya diberangkatkan haji. Pihak Alburuj berdalih, bahwa belum ada visa dari pemerintah Arab Saudi.
Yang membuatnya heran ketika itu, karena H Arwadi menyebut Amir Razak dan istrinya belum melunasi ONHnya. Diapun langsung menelepon bendahara biro travel ini bernama Nurmala, yang saat itu sedang berada di luar kota dan Nur Fajri yang telah keluar dari travel Alburuj.
”Keduanya menyatakan bahwa ONH saya dan istri sudah lunas, maka diamlah H Arwadi pada waktu itu. Dan sampai pemberangkatan haji tahun 2015 saya tidak mendapat berita apa-apa. Jika dihubungi via telepon jawabnya itu-itu juga, belum dapat visa. Akhir musim haji tahun 2015 terlewatkan lagi,” cetusnya.
Terakhir, pada 11 Maret 2016 lalu, Amir dan istrinya kembali datang untuk mencari informasi. Setelah panjang lebar bercerita, diapun sangat kaget ketika H Arwadi menyatakan Amir dan istrinya belum melunasi ONH.
”Spontan saya emosi waktu itu. Saya katakan ke dia, bapak ini bolak balik bicaranya. Dulu menyangkal, sekarang menyangkal lagi. Langsung saya minta agar dia memanggil naik pegawainya (Nurmala ) supaya kita tahu siapa yang benar. Setelah Nurmala datang, duduk dan menyatakan bahwa sejak tahun 2013 ONH saya bersama istri sudah lunas, barulah H Arwadi berkata, kalau begitu saya anggap lunas. Spontan lagi saya katakan, ralat itu kalimatnya, saya tersinggung kalau ONH saya dikatakan dianggap lunas. Artinya, belum lunas, tapi dianggap lunas. Sekali lagi saya tidak terima kalimat seperti itu, karena kesannya belum lunas. Kemudian H Arwadi diam,” terangnya.
Saat itu juga Amir Razak mempertanyakan soal keberangkatannya. Arwadi menjawab bahwa tahun ini ia mendapat jatah 100 orang. Jumlah itu dibagi dua dengan temannya. Masing-masing mendapat jatah 50 orang.
”Saya tanya H Arwadi, yang 50 orang jatahnya itu sudah berapa yang lunas? Jawabnya, baru 25 orang yang sudah mendaftar. Itulah kondisi sampai sekarang dan belum ada kemajuan hingga saat ini,” tandas Amir Razak.
Saat BKM mengkonfirmasi pihak Al Buruj, Nurmala yang mewakili pimpinannya, menjelaskan bahwa telah ada kesepakatan antara pendaftar dengan pengelola travel. ”Waktu datang mendaftar, Pak Amir sudah berbicara langsung dengan Pak Aji (H Arwadi. Hanya saja, kami belum memastikan kapan pemberangkatannya bisa dilakukan. Kita masih mengupayakannya,” kata Nurmala di kantornya Jalan Boulevard, kemarin.
Masalah lain terjadi di biro haji dan umarh Global Inspira Indonesia yang beralamat di Jalan Tupai. Pengelola dikomplain oleh jamaahnya karena kehilangan barang yang tersimpan dalam tas sepulang dari menunaikan ibadah umrah.
Salah seorang jamaah umrah, Herlina mengaku ia bersama tujuh jamaah lainnya kehilangan tas dalam perjalanan pulang ke tanah air pada bulan Maret lalu. Tas tersebut berisi mukenah, oleh-oleh dan barang lainnya. Jika dihitung-hitung, isi masing-masing tas senilai Rp5 juta.
”Kami sudah menyampaikan hal ini ke pihak travel, tapi sepertinya mereka lepas tangan dan tidak mau bertanggungjawab,” ujarnya.
Pimpinan Biro Travel GII, H Muh Edwin yang berusaha dikonfirmasi, sedang berada di Saudi mengantar jamaah. Selain Edwin, tak ada orang lain di kantor tersebut yang bersedia memberikan konfirmasi saat BKM berkunjung. (man/rus)

Exit mobile version