SELAMA ini Herlina Djamal tak pernah mau merenungi nasib. Apalagi menyalahkan keadaan. Dia pasrah akan suratan yang harus dilakoni. Dia tetap semangat dalam mengarungi hidup sekeras cadas.
Laporan: RAHMA AMRI
Wanita tangguh yang disapa Canti’ inipun tak pernah berhenti berharap, suatu hari nanti, buah dari kesabarannya akan dipetik.
Sebelum memutuskan untuk jualan gorengan, selain membantu sang kakak jualan nasi kuning Canti’ juga pernah mengecap beberapa profesi yang cukup keras. Dia sempat menjadi biduan di panggung orkes dangdut, menjadi asisten rumah tangga dan buruh bangunan. Bahkan, semangatnya untuk menaklukkan hidup mengalahkan kerasnya dunia yang harus dihadapi.
Meski perjuangannya keras menghadapi beban hidup yang cukup berat, Canti’ tidak mengabaikan pendidikan anak-anaknya.
Walaupun harus berutang, dia tetap menyekolahkan anak-anaknya. Termasuk ketika tiba waktu anaknya membayar keperluan sekolah, dia terpaksa merelakan uang modal jualan untuk digunakan.Beruntung, anak pertamanya sudah bekerja kendati dengan penghasilan yang terbatas. Itulah yang kerap membantu menambah modal jualannya.
“Saya berharap anak-anak bisa berhasil dan mandiri,” ungkapnya.
Yang ironis dari kehidupannya, dia tak pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah. Apakah itu dalam bentuk tunjangan beras untuk masyarakat miskin, kesehatan gratis, ataupun pendidikan gratis. Padahal, sebenarnya orang-orang seperti Canti’ yang harus mendapat perhatian dari pemerintah. Namun, dia juga tak pernah protes.
Saat ini, hanya satu keinginan yang diharapkan bisa terwujud. Yakni bisa memperbesar usaha gorengannya. Namun itu memerlukan modal cukup besar. Dia berharap bisa jualan di lokasi strategis sehingga gorengannya semakin laku dan penghasilan bisa bertambah.
Sejak subuh, dia sudah bangun untuk mempersiapkan jualannya. Selain menjual di ga’de-ga’de dekat rumahnya di bilangan Jalan Kasuari, dia juga menitipkan goreng ke sejumlah warung tetangganya.
Hasil penjualan gorengan itulah yang setiap hari diputar untuk menghidupi keluarganya. Namun dia tak pernah mengeluh. Keuntungan dari berjualan gorengan hanya bisa dialokasikan untuk biaya hari-hari anaknya ke sekolah. Yah, dua anaknya saat ini sementara duduk di bangku sekolah. Satu di SMP dan satu lagi di SMA. Beruntung, satu anaknya ditanggung salah seorang kakaknya.
Di rumah peninggalan orang tuanya, selain Canti’ dan anak-anaknya, juga tinggal beberapa saudara lainnya. Nah, untuk kebutuhan makan sehari-hari, dipenuhi oleh sang kakak.
“Jadi hasil dari jualan sehari kadang dapat Rp80 ribu, untungnya sekitar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu. Itu yang dipake anak-anak untuk sekolah,” jelasnya.
Walaupun hidup serba kekurangan, Canti’ tetap menyekolahkan anak-anaknya. Dia menyadari sekolah sangat penting untuk modal anak-anaknya hidup lebih baik ke depan. (rhm/war)