LIMA hari lagi umat muslim di Kota Makassar melaksanakan ibadah puasa di Bulan Ramadan. Seperti biasa menjelang Ramadan tempat pemakaman umum (TPU) selalu dipadati peziarah.
Laporan: ARIF AL QADRY
Di bulan itu, pemberi jasa membaca doa, tukang kembang, penjaga kebersihan makam dan pengemis merauk untung banyak. Bahkan tukang baca doa banjir orderan dari pagi hingga menjelang Magrib.
Tentunya hal itu menjadi berkah tersendiri bagi para pembaca doa kubur khususnya yang berada di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Panaikang.
Apalagi, para peziarah selalu menggunakan jasa pembaca doa untuk mengirimkan doa bagi keluarganya yang lebih dulu meninggal dunia.
Berkah tersebut juga dirasakan langsung tukang pembaca doa, Saing Tapong atau yang akrab disapa Saing.
Pria kelahiran Ujung Pandang 18 Feruari 1969, menjadikan profesi tersebut sebagai profesi utama dalam menggantungkan hidup bersama keluarganya.
Di depan penulis, Saing mengaku sudah 16 tahun menjadi pembaca doa kubur di TPU Panaikang demi menghidupi keluarga tercintanya.
Dengan mengandalkan hafalan ayat suci Al Quran yang ia pelajari dari guru mengajinya sejak kecil, bapak empat orang anak itu bersyukur dapat memanfaatkan dan mengamalkan ke banyak orang, seperti membantu mereka membaca doa bagi keluarga peziarah yang lebih dulu meninggal.
“Tidak ada ji pengalaman khusus untuk menjadi pembaca doa kubur, cukup kita mampu membaca ayat suci Al Quran dengan baik dan ikhlas,” ujar Saing.
Dia juga berkisah, kalau pengalaman sebagai pembaca doa kubur diilhami dari almarhum bapaknya. Awalnya, dia hanya lihat-lihat saja bapaknya membaca doa kubur atas permintaan peziarah.”Awalnya cuma lihat lihat ji almarhum bapak saya. Dari situ saya meneruskan apa yang pernah dia kerjakan bapak saya,” katanya.
Menurut Saing, dia memulai berprofesi sebagai pembaca doa kubur pada tahun 2000. Dengan bermodalkan kitab suci Al Quran berukuran kecil, dia menawarkan jasanya ke peziarah yang datang ke TPU Panaikang.
Pria yang dikaruniai tiga orang anak ini juga mengaku selain berprofesi sebagai pembaca doa kubur, dia juga bekerja sebagai pemandi jenazah di sekitar tempat tinggalnya di Jalan Langgau, Kecamatan Tallo .”Saya bersyukur mendapat ridho dari Allah menjadi pembaca doa dan pemandi jenazah . Selain mendapatkan amalan, juga mendapat berkah atau rezeki dari masyarakat,” ujar Saing.
Sambil sesekali merapikan kopiah hitamnya, Saing juga mengaku seminggu menjelang Ramadan dia sudah berada di lokasi TPU Panaikang pukul 06.00 Wita. Para peziarah dari daerah biasanya datang pagi sekali ke TPU.”Setiap hari menjelang Ramadan saya mendapat upah dari peziarah Rp200 ribu hingga Rp300 ribu. Uang sebanyak itu saya syukuri dan digunakan untuk kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak saya,” katanya.(arf)