MAROS, BKM — Sekertaris Komite Sekolah Dasar Inpres (SDI) No 194 Sosoe, Abdul Asis, membantah adanya pemotongan dana Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang dialamtkan ke Asmawati, oknum Kepala Sekolah SDI Sosoe kepada muridnya.
Menurutnya, pemotongan tersebut dilakukan untuk pembayaran baju seragam batik, baju olah raga dan materai.
Abdul Asis yang dihubungi di kantor Dinas Pendidikan Maros mengatakan, tudingan pungutan yang dilaporkan seorang warga yang bernama Rahman sama sekali tidak benar. Potongan dana KIP senilai Rp60 persiswa, kata dia, adalah kesepakatan bersama orang tua penerima KIP.
“Apa yang dilakukan kepala sekolah atas kesepakatan orang tua murid berdasarkan hasil rapat komite sekolah,” jelas Abdul Asis berapi
Dia menambahkan, langkah yang dilakukan kepala sekolah dilakukan kepada siswa yang tidak mampu membeli baju batik dan baju olahraga dan telah ditanggung oleh pihak sekolah dengan syarat, setelah mendapatkan dana KIP, maka baru dibayarkan.
“Tapi rupanya ada orang tua siswa yang sengaja mengulur untuk mebayar utangnya dengan alasan bermacam macam. Padahal dana itu sudah jelas peruntukannya bukan untuk kebutuhan orang tua, tapi untuk kebutuhan pendidikan anak anaknya seperti pembelian buku, tas, sepatu dan pakaian,” kata Abdul Asis.
Sementara itu, Kepala sekolah SDI Sosoe, Hasmawati yang dihubungi lewat telpon mengatakan, pemotongan yang dilakukan berdasarkan hasil rapat komite sekolah. ” Orang tua yang punya utang baju olah raga dan baju batik baru dibayar utanya sesuai dengan harga baju olah dan baju batiknya,” kilahnya.
Menurutnya, dana KIP yang dipotong dari orang tua murid masih utuh di kas sekolah. Dana itu tidak dibelanjakan sebelum ada keputusan dari rapat komoite sekolah.
“Dana KIP yang terkumpul saat ini masih utuh, bila komite meminta untuk dikembalikan ke orang tua kami siap karena dana itu sepersenpun tidak ada kurangnya,” tutup Hasmawati. (ari-ril)