Site icon Berita Kota Makassar

Jarang Salat Idul Fitri Bersama Keluarga

PERAYAAN Idul Fitri tidak hanya sebuah ritual yang bernuansa keagamaan. Salat berjamaah Idul Fitri, sungkeman, silaturahmi atau berkunjung bersama keluarga ke orang tua dan sanak saudara merupakan hal yang sangat penting dalam setiap kehidupan umat muslim.

Laporan: ARIF AL QADRY

Namun tidak semua umat muslim bisa merasakan salat Idul Fitri bersama istri, anak, saudara serta orang tua. Mungkin karena tugas dan pekerjaan yang terpaksa membuatnya tidak bisa berkumpul saat momen terindah tersebut.
Seperti halnya yang dialami Syarifuddin, sopir mobil rental yang seringkali mangkal di Jalan Slamet Ryadi, samping Kantor Balai Kota Makassar.
Beruntung, istri dan anak-anak memahami penuh pengertian akan tugas-tugas suaminya. Memang kata Syarifuddin, jauh-jauh hari sudah meyakinkan istri dan anaknya dengan pasti apa dan bagaimana pekerjaan dirinya.
“Istri dan anak yang sangat kucintai dan yang menyayangiku tidak pernah protes, malah mereka semakin hormat dan bangga kepada saya, terbukti mereka tetap tenang menunggu saya pulang bekerja sebagai seorang sopir atau driver,” ujar Syarifuddin.
Ditanya mengapa sampai tidak bisa berkumpul bersama keluarga, pria bertubuh tambung ini mengaku, kadang ada penyewa rental yang pulang pada malam hari sehari sebelum lebaran. Sehingga kadangkala saat pulang kembali ke Makassar tidak sempat lagi salat Idul Fitri bersama keluarga, tetapi dilaksanakan di daerah yang disinggahi.
“Sedih juga rasanya tidak bisa berkumpul bersama keluarga salat Idul Fitri. Tetapi mau bagaimana lagi, namanya tugas dan pekerjaan tidak bisa juga ditinggalkan karena mata pencaharian. Sehingga kadang singgah di suatu daerah melaksanakan dulu salat Idul Fitri, baru kembali berangkat menuju Makassar,” katanya sambil sesekali sandar di mobil rental milik tuannya.
Kepada penulis, Sarif sapaan akrabnya menambahkan, berprofesi sebagai sopir mobil rental mungkin sudah menjadi takdir hidupnya. Karena sejak kecil dia memiliki cita cita ingin menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan beberapa kali mencoba mendaftar untuk menjadi TNI namun selalu gugur.
Memiliki kemampuan untuk mengedarai mobil, diapun memanfaatkan kemampuannya untuk menjadi sopir rental tepatnya pada tahun 2004.
“Saya dulu kerja menjadi sopir pribadi, tapi bos saya pindah di Jakarta dan saya tidak mau ikut. Jadi saya berhenti dan melanjutkan menjadi sopir rental,” ujarnya.
Pria kelahiran 28 Agustus 1975 ini juga mengaku, bekerja sebagai sopir mobil rental penuh suka dan duka.
Selain berpotensi mendapat resiko tinggi seperti kehilangan mobil, menjadi sopir rental juga diperlukan kesabaran. Sebab banyaknya jasa rental mobil khususnya yang mangkal di samping kantor Balai Kota Makssar membuat dia harus lebih aktif mencari penumpang.
Belum lagi, kadang dijumpai penyewa mobil rental yang cerewet bahkan seringkali marah-marah ke sopir.”Kadangkala kita jumpai penyewa mobil rental yang seringkali marah-marah jika tidak dibawa ke tempat makan atau minum di suatu daerah. Padahal, sopir kadang lupa kalau ada keinginan para penyewa. Belum lagi, jika penyewa tidur dan lokasi yang dituju sudah lewat, mereka juga kadang marah ke sopir dengan alasan tidak membangunkannya,” ujar Syarifuddin.
Soal tarif jasa mobil rental, Sarif mengatakan, jasa rental mobil bersama sopirnya dikenakan di dalam kota sebesar Rp500 ribu. Sedangkan untuk di luar kota tarifnya relatif seperti di Toraja dia mengenakan tarif sebesar Rp800 ribu perhari yang dimana sudah terhitung bensin.
“Tarifnya itu relatif, kalau di daerah seperti Toraja saya patokan harga Rp800 ribu per hari dan sudah masuk bensin. Tergantung jaraknya. Sedangkan kalau di Makassar tarifnya itu Rp500 ribu perhari,” ucapnya.
Meski terbilang cukup tinggi, pendapatan yang diperoleh ternyata juga dibagi sebesar 60 persen ke pemilik mobil. Para pemilik mobil, ujar Syarifuddin, sudah mengetahui tarif yang diberikan sopir kepada penyewa jasa karena sebelumnya mereka telah membicarakan hal tersebut.
“Saya tidak bisa bermain harga dengan pemilik mobil apalagi kalau kita mau ke daerah. Karena sebelum saya berangkat ke daerah, saya melapor ke pemilik mobil tujuan daerah saya. Untuk harga, saya dan pemilik mobil sudah saling tahu. Jadi tidak bisa saya bermain setoran sama pemilik mobil,” ujarnya.(arf/war)

Exit mobile version