MALILI, BKM — Sebanyak 35 orang mengikuti pelatihan pemanfaatan tanaman herbal di Balai Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP3K) Model-Kecamatan Nuha, Rabu-Sabtu (22-25/6). Mereka merupakan perwakilan tim penggerak (TP) PKK dari empat desa dan satu kelurahan se Kecamatan Nuha, petugas penyuluh pertanian, dan penggiat tanaman herbal.
Tanaman obat keluarga (TOGA) adalah berbagai jenis tanaman yang ditumbuhkan keluarga di lingkungan rumah yang mempunyai khasiat penyembuhan. TOGA berfungsi sebagai apotek hidup yang dimanfaatkan keluarga untuk mengobati gangguan kesehatan sederhana. Harga obat-obatan buatan pabrik yang mahal dan keinginan masyarakat untuk beralih ke bahan-bahan alami memicu ketertarikan mereka untuk mendalami pengobatan herbal.
Efek samping yang ditimbulkan obat tradisional jauh lebih kecil dibandingkan dengan obat kimia pabrikan. Anggaran pelatihan bersumber dari dana Program Mitra Desa Mandiri (PMDM) Kecamatan Nuha. PMDM merupakan bagian dari Program Terpadu Pengembangan Masyarakat (PTPM) PT Vale yang selaras dengan arah kebijakan pemerintah dan rencana pembangunan desa.
Kegiatan pelatihan pemanfaatan tanaman herbal diusulkan masyarakat Kecamatan Nuha untuk meningkatkan derajat kesehatan dengan mengoptimalkan sumber daya lokal yang tersedia di alam. Narasumber pelatihan didatangkan dari Yayasan Aliksa Organik SRI yang merupakan mitra kerja PT Vale Indonesia Tbk.
Ketua TP PKK Luwu Timur, Dra Hj Puspawati Husler yang hadir dalam pembukaan pelatihan menyampaikan kekhawatirannya tentang pola hidup masyarakat yang serba-instan, tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang. ”Misalnya pada pola budidaya tanaman sayur. Ketika ada organisme yang terbang didaun tanaman, tanpa berpikir panjang segera disemprot dengan pestisida. Padahal belum tentu itu adalah hama. Boleh jadi dia adalah musuh alami yang akan memangsa hama. Yang lebih ekstrem lagi adalah mencelupkan sayuran ke dalam ember yang berisi air dan pes?sida. Perilaku tersebut memunculkan berbagai jenis penyakit bagi manusia,” kata Puspawati.
Ditambahkan, dirinya mendapat informasi adanya pasien yang dirawat Rumah Sakit I La Galigo Wotu dan beberapa Puskesmas karena keracunan racun tanaman. ”Mari berperilaku sehat. Dimulai dengan mengonsumsi nasi dari beras sehat tanpa pestisida. Kita punya beras Batara Guru yang
bebas pestisida. Mari menekan biaya pengobatan dengan menanam dan mengolah sendiri obat herbal yang bahannya diambil dari tanaman obat keluarga. Prosesnya mudah, murah, sederhana, dan aman,” tegas Puspawati didampingi Wakil Ketua TP PKK Luwu Timur, dr Nurbani Irwan saat membuka pelatihan pemanfaatan tanaman herbal.
Acara pembukaan juga dihadiri Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Luwu Timur, Nursih Hariani, Ketua TP PKK Kecamatan Nuha, Towuti, Malili, serta Direktur Komunikasi dan Hubungan Luar PT Vale, Basrie Kamba. Usai pembukaan, tim berkunjung ke kebun percontohan TOGA di Desa Nikkel, Kecamatan Nuha,yang digarap dan didanai secara mandiri pemerintah desa dan masyarakat. (mir)