MAKASSAR, BKM–Sebanyak 490 personel Dinas Perhubungan Kota Makassar tidak diliburkan dan tidak diizinkan mengambil cuti menjelang lebaran Idul Fitri 1437 Hijriah.
Mereka disiagakan menjaga arus lalu lintas saat masyarakat mudik lebaran hingga pascalebaran Idul Fitri di dalam Kota Makassar.
Selain menjaga arus lalu lintas, seperti di pertigaan dan belokan jalan agar tetap lancar, personel Dishub Makassar juga disiagakan di sejumlah pusat pertokoan, mall untuk membantu pengamanan.
“Kita tidak meliburkan 490 personel, baik yang berstatus tenaga honorer maupun pegawai negeri sipil (PNS). Mereka akan difokuskan untuk bersiaga di sejumlah titik jalan di Makassar yang rawan macet,” tegas Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, Mario Said, kemarin.
Mario menambahkan, biasanya personel Dishub diliburkan pada hari Sabtu dan Minggu, tetapi kali ini semuanya tetap bertugas dan berjaga-jaga hingga pascalebaran nanti.
Alasan mantan Kabag Ekonomi dan Pembangunan Kota Makassar ini, dikarenakan, sejumlah titik jalan di Makassar sangat padat arus lalu lintas, utamanya di pertokoan dan pasar-pasar tradisional serta mudik lebaran.
Terutama di belokan seperti pertigaan dan perempatan. Hal itu kata dia, menjadi pertimbangan untuk menambahkan jam tugas pegawai dalam memberikan kelancaran dan rasa aman bagi pemudik.
Lanjut dia, penempatan pegawai nantinya tidak hanya pertigaan dan potongan jalan, tetapi beberapa pusat perbelanjaan yang juga rawan menimbulkan kemacetan. Akan ada satu hingga dua orang petugas mengatur lalu lintas di sana.
“Puncak mudik biasanya dimulai pada H minus tujuh (H-7). Sehingga kita harus kerja keras hingga H plus lima (H+5) saat arus balik ke Makassar,” katanya.
Lanjut mantan Camat Tallo itu,dari total anggaran Rp19 miliar yang disiapkan Dishub Makassar, hingga saat ini serapan anggaran baru terealisasi sekitar 25,4 persen. Sementara untuk fisik sekitar 68 persen, dan masih ada sekitar Rp17 miliar anggaran yang belum terealisasi.
Lambannya serapan anggaran di Dishub, jelas Mario, karena proses pencairan anggaran yang membutuhkan proses panjang, termasuk ada beberapa program yang masih dalam proses tender seperti pete-pete smart yang anggarannya sebesar Rp1,2 miliar, dan Pembangunan dermaga sebesar Rp800 juta.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi C Bidang Pembangunan DPRD Makassar, Fasruddin Rusli mengatakan, bulan Ramadan ini sumber kemacetan bukan karena peningkatan kendaraan yang terlalu pesat, tetapi juga dipengaruhi penjual takjil yang menggunakan badan jalan untuk berjualan.
Masyarakat kata dia, banyak yang singgah untuk berbuka, atau membeli takjil.
Faktor lain yang menimbulkan kemacetan, kata Politisi Partai Persatuan Pembangunan itu, juga karena keberadaan pak ogah beraktifitas di masing-masing potongan jalan. Mereka dianggap hanya mementingkan pendapatan daripada mengatur arus lalu lintas.
Ia mencontohkan, beberapa pemotongan di Jalan Urip Sumoharjo, Hertasing dan Alauddin. Banyak pengendara yang mengeluhkan keberadaan pak Ogah yang dinilai banyak menghalangi kendaraan yang akan melalui jalan itu.”Sebaiknya pemotongan ini dijaga oleh personel Dishub agar pak ogah tidak berada lagi disana,” singkatnya.(ita/war)
