GOWA, BKM — Meski pelaksanaan 1 Ramadan berbarengan dengan Muhammadiyah maupun pemerintah, namun 1 Syawal bagi komunitas besar jamaah An Nadzir dipastikan akan berbeda. Mereka akan melaksanakan lebaran Idul Fitri, Selasa (5/7) besok.
An Nadzir menyatakan pihaknya menentukan masuknya awal bulan 1 Syawal dengan terlebih dahulu menentukan kepastian akhir bulan Ramadan.
Pemimpin jamaah An Nadzir, Ustaz Lukman Albakti yang dihubungi Minggu (3/7) siang, membenarkan jika pelaksanaan lebaran atau salat Id untuk keluarga besar An Nadzir akan berlangsung 5 Juli besok.
Penentuan atau penetapan itu, menurut Ustaz Lukman, tetap berdasarkan pada hasil pengamatan alam yang sudah menjadi tradisi dilakukan An Nadzir setiap kali akan menetapkan hari besar Islam.
Dari pengamatannya selama 18 tahun sejak tahun 1999, ustaz Lukman, mengatakan dirinya menemukan data bahwa setiap malam, bulan terbit bertambah hingga 54 menit.
Dari hasil pengamatan itu, pada 26 Ramadan, bulan muncul di ufuk timur pukul 2.54 Wita, dan 27 Ramadan bulan muncul pada pukul 3.48 Wita, serta pada hari Minggu 28 Ramadan bulan akan muncul pada pukul 4.42 Wita. Kemudian pada hari Senin, bertepatan pada 29 Ramadan bulan akan terbit subuh pada pukul 5.36 Wita.
29 Ramadan 1437 Hijriah adalah hari terakhir Ramadan, karena esok harinya jika masih ada Ramadan maka bulan akan muncul pada pukul 6.36 Wita. “Jika masih ada 30 Ramadan, berarti bulan akan muncul pada pukul 6.30 Wita. Namun itu mustahil, karena matahari bulan Syawal telah terbit yang didahului oleh fajar siddiq yang terbit pada pukul 5.40 Wita,” jelas Ustaz Lukman.
Dikatakan, dalam menentukan 1 Syawal, pihaknya dengan konsisten telah menghitung perjalanan bulan berdasarkan terbitnya bulan pertama hingga bulan purnama hari ke-15, yang dimulai dari 1 Ramadan hingga 15 Ramadan yang disertai pengamatan derajat ketinggian terbitnya bulan setiap malam.
Dari pengamatan tersebut, derajat ketinggian terbitnya bulan setiap malam, konsisten bertambah dari 12 derajat hingga mencapai 180 derajat (bulan purnama) atau bulan purnama terbit di timur bersamaan dengan terbenamnya matahari di barat.
Lebih rinci Ustaz Lukman, menjelaskan 12 derajat adalah total lingkaran utuh bulan atau 360 derajat, ketika ukuran penuh bulan tersebut dibagi 30 atau jumlah malam terbitnya bulan maka akan didapat angka 12.
“Tapi derajat terbitnya bulan ini hanya dipantau dari malam ke 2 hingga malam ke 15 saja, untuk selanjutnya yaitu malam ke 16 dan seterusnya hingga malam ke 29, atau malam 30 dapat dipantau dengan menggunakan jam atau waktu (pukul berapa) bulan terbit dari malam ke malam. Karena itu, kami telah mengamati dan menentukan awal Ramadan dengan terlebih dahulu mengetahui akhir Syawal,” tambahnya.
Jamaah An Nadzir yang selama ini berdiam di kampung Butta Ejaya, Kelurahan Romang Lompoi, Kecamatan Bontomarannu, setiap tahunnya selalu berpuasa dan salat Idul Fitri lebih dahulu dari pemerintah.
Selain dari pengamatan derajat dan waktu, An Nadzir juga kerap mengamati pasang surut air laut, yang menurutnya sebagai indikasi pendukung dari efek gravitasi antara matahari dan bulan yang akan membentuk garis astronomi (bukan garis lurus) dengan bumi, tapi sebagai garis yang menyebabkan gravitasi tertinggi atas air laut ke garis pantai sebagai tanda pergantian bulan Ramadan dan masuknya bulan Syawal. (sar/rus)
An Nadzir Lebaran Besok
