USAHA es lilin keliling tidak selamanya mengiurkan. Ada saja hambatan yang dilalui para penjualnya, seperti saat musim penghujan tiba.
Laporan: JUNI SEWANG
Seperti halnya yang dilakoni Warto, laki-laki kelahiran Surabaya 54 tahun silam yang mencari keberuntungan di Kota Makassar sebagai penjual es lilin.
Menurutnya, jika musim penghujan tiba, dia tidak banyak beraktifitas berjualan es lilin. Pasalnya, di musim penghujan pembeli es lilin sangat sulit dijumpai.
Sehingga untuk tetap bertahan dalam hidup yang serba kekurangan, Warto membantu keluarga dan sesama perantau dari pulau Jawa untuk bekerja harian sebagai tukang batu atau menjaga warung bakso.
Di depan penulis, Warto mengaku setiap hari saat mentari telah beranjak semakin tinggi, ia bergegas berangkat tanpa menunggu es lilinya sempurna. seragam kebesaran sebuah baju kaos putih, beranjak meninggalkan rumah kontrakannya di Jalan Sungai Saddang Baru.
Ternyata gerobak berisi bongkahan es batu yang berfungsi untuk menjaga kebekuan es lilin ini cukup berat, apalagi berisi penuh es lilin.
Meski begitu perjuangannya untuk tetap berjuang dan terus bersemangat tak pernah luntur demi menghidupi istri dan tiga orang anaknya.
Dalam sehari, rata-rata Warto memproduksi 100 es lilin. Satu es itu ia jual Rp2.000. Ia memasarkan es tersebut dengan cara berkeliling dari lorong ke lorong dan dari sekolah ke sekolah.
Jika habis terjual, Warto hanya membawa pulang uang Rp200.000, itupun tidak semuanya berbentuk keuntungan, tetapi juga disisihkan untuk sebagian modal untuk berjualan kembali.
“Rp200 ribu uang yang saya dapat dalam sehari, bukan hanya keuntungan saja, tetapi sebagian menjadi modal untuk diputar kembali,” ungkap Warto saat berjualan melintas di Jalan Rappocini Raya.
Ditanya oleh penulis soal harapannya untuk tiga orang anaknya, Warto hanya meminta untuk ketiga anaknya sekolah yang tinggi dan jangan seperti dirinya.”Saya harap anaknya saya hidupnya jauh lebih baik dari saya. Saat ini anak pertama saya sudah bekerja sebagai penjaga toko dan keduanya juga bersekolah,” ujarnya sambil mengusap keringatnya yang menetes didahinya.
Ia juga mengaku, berjualan es lilin yang telah dilakoninya bertahun-tahun.”Allah tidaklah melihat apa yang kita hasilkan, tapi apa yang kita usahakan”, itulah satu bait kalimat yang selalu menjadi penawar lelah dengan profesinya itu.
Tentu saja selama hidupnya ia tak pernah terbayang jika akan menggeluti usaha menjual es lilin di tengah gempuran usaha es yang lebih modern dengan rasa yang beragam saat ini.
Ia-pun memulai menekuni berjualan es lilis sekitar tahun 80 an. Pada tahun itu, ujarnya, es lilin masih menjadi minuman yang digemari anak-anak hingga orang dewasa, sebab belum satupun es dengan bentuk yang berbeda dijual di jalan kecuali es manis dan es lilin.
Berbeda saat ini, sudah banyak usaha penjualan es mulai dari usaha sederhana hingga bermodalkan miliaran berdiri di Kota Makassar. bahkan harganya-pun terbilang mahal.
“Masih ada saja yang menggemari es lilin meski hanya beberapa orang. Bahkan harganya relatif murah dibandingkan usaha es lainnya,” kata Warto.
Warto juga mengaku, dengan berjualan es lilin, dia bisa mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan rumah sederhana dan berukuran kecil di Jalan Sungai Saddang.
Ia-pun mengaku tidak akan mengganti profesinya sebagai penjual es lilin.
“Jualan sudah saya lakoni sejak tahun 1982, sebelum Jalan Sungai Saddang ini tembus saya sudah jualan. Sampai sekarang saya tetap bertahan. Saya memang tidak berkeinginan mengganti profesi saya, kalau ganti profesi ganti peralatan lagi, ganti peralatan pake modal lagi, modalnya itu yang sulit,” tambahnya.
Warto menambahkan, waktu yang terbaik ketika kita berjualan di area sekolah adalah waktu istirahat dan pulang, kalau keliling di perumahan biasanya waktu sore hari (karena waktu pagi sampai siang anak-anak masih disekolahan), termasuk keramahan, kesopanan, salam, senyum, sapa harus dimilikinya untuk melayani dan memberi hal yang lebih terhadap pembeli.(jun/war)
