USAHA cuci motor maupun mobil tidak akan pernah mati. Selama oramng masih menggunakan kendaraan roda dua dan empat tersebut, pasti membutuhkan jasa mereka.
Laporan: ARIF AL QADRY
Peluang itu dimanfaatkan juga oleh Halim (23) yang bekerja sebagai tukang cuci motor di Jalan Sunu, persis di samping pagar Masjid Al Markaz Al Islami.
Menurutnya kepada penulis, ia terjun menjadi tukang cuci motor karena banyak orang yang memiliki kendaraan malas untuk mencuci sendiri kendaraannya.
“Jasa cuci motor menjadi peluang bisnis besar. Kebanyakan orang tidak ingin membersihkan kendaraan mereka dengan tangannya sendiri. Mereka lebih senang membayar seseorang untuk membersihkan kendaraan mereka,” jelasnya ujar Halim.
Sambil bermain air busa yang berada di wadah ember, Halim mengakui, berprofesi sebagai tukang cuci motor bukanlah cita cita yang didambakannya. Sewaktu kecil ia bercita-cita ingin menjadi prajurit TNI. Tetapi apa mau dikata, keinginan untuk terus bersekolah tidak bisa lagi dilanjutkannya karena terbentur biaya.
Pria kelahiran Ujung Pandang 30 November1988 ini-pun hanya tetap pasrah dan bertahan bekerja sebagai tukang cuci motor tanpa harus merasa malu, bahkan apa yang dilakukannya saat ini justru dia syukuri dan nikmati.
“Inimi pekerjaan yang membantu saya untuk menyekolahkan ke dua anak saya yang masih SD, juga membantu memenuhi biaya hidup sehari hari keluarga saya,” Kata Halim.
Sembari menunggu pengendara sepeda motor yang ingin menggunakan jasa pencucian motor, Halim sedikit berkisah jika berbagai pengalaman pekerjaan pernah dia jalani, mulai dari menjadi pegawai jasa pijat refleksi, security bank hingga menjadi tukang cuci motor.
Ia-pun memulai menjadi tukang cuci motor Sejak tahun 2010 lalu, usai menikahi istrinya yakni Misna. Karena dia ingin memperlihatkan rasa tanggungjawab seorang suami menafkahi istrinya, diapun memilih untuk membuka usaha jasa cuci motor agar dapat membiayai istri tercintanya.
Kebetulan tempat tinggal Halim yang berada di Jalan Sunu tidak jauh dari Masjid Al Markaz yang dimana di luar masjid selalu ramai di huni Pedagang Kaki Lima (PK5) termasuk pencucian motor.
Mendengar ada keluarganya yang membuka usaha pencucian motor, diapun mencarinya. Tidak sulit mencari lokasi tempat pencucian motor keluarganya, hanya beberapa menit saja dia menemukan tempat keluarganya. Diapun menawarkan jasanya.
Di hari pertama bekerjanya, dia hanya dapat mencuci satu unit motor dengan biaya sekali pencucian motor di hargai sebesar Rp15 ribu. Ia memperoleh upah setengah dari harga dan setengahnya ke pemilik tempat pencucian motor.
“Sama seperti yang lain, meski keluarga saya yang memiliki usaha pencucian motor, saya tetap membagi dua keuntungan. Biaya pencucian motor sendiri Rp15 ribu, jadi saya kasih pemilik tempat sebesar Rp7 ribu dan saya Rp8 ribu. Lumayan kalau di kalikan banyak,” ucapnya.
Sekitar 5 bulan bekerja menjadi tukang cuci motor, dia mendapat informasi lowongan kerja di jasa pijat refleksi yang terletak di Jalan Kajoalalido, dekat dari Lapangan Karebosi. Tidak menunggu lama dia kemudian memasukkan lamaran pekerjaannya tepat pada Februari 2011.
Sekitar sebulan menunggu, panggilan dari tempat jasa kebugaran refleksi dijawab dan ia diterima.
Namun dia belum memberitahukan kepada istrinya jika dia bekerja di jasa refleksi dan meninggalkan pekerjaan tukang cuci motor. Harapannya untuk menjadi pegawai tetap karena penghasilan sudah akan didapatkannya setiap bulannya.
Setelah beberapa bulan menyembunyikan pekerjaannya sebagai karyawan di jasa refleksi, istrinya mengetahui, karena baju dinas yang dipakai bekerja bertuliskan perusahaan tersebut.
Mengetahui suaminya bekerja di jasa refleksi, istrinya meminta kepadanya mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Karena bekerja di jasa refleksi menimbulkan fikiran yanng negatif.
“Istri saya meminta untuk saya keluar dari pekerjaan itu, saya pun akhirnya keluar dan kembali menjadi tukang cuci motor,” katanya.
Sejak pukul 08:00 wita, usai mengantar anak anaknya ke sekolah, Halim langsung bergegas ke tempat pencucian motor yang terletak di Jalan Sunu.
Air dan busa merupakan sahabat bagi Halim setiap hari.
Maka tidak heran, jika hampir setiap malam dia harus merasakan gatalnya telapak tangan ataupun kaki yang disebabkan oleh kutu air.
“Saya itu pulang dari tempat pencucian motor jam 18:00 wita, atau tergantung dari kondisi yang ada. Kalau ramai, saya lama pulang, kalau sepi biasanya cepat pulang. Hampir setiap malam saya merasakan gatal di tangan dan kaki karena kutu air. Tapi itulah reski sebagai tukang cuci motor,” ujarnya.(arf/war)
