Site icon Berita Kota Makassar

14 Kepsek Diperiksa Kasus Manipulasi Nilai

GOWA, BKM — Penerimaan siswa didik baru tingkat SMP di Kabupaten Gowa beberapa waktu lalu ternyata menyisakan masalah besar. Hampir ratusan murid SD di Sungguminasa tak dapat melanjutkan tingkat pendidikan, lantaran nilai kelulusan Ujian Nasional (UN) mereka diduga kuat dimanipulasi oleh pihak sekolah.
Setidaknya 14 kepala sekolah (Kepsek) tingkat Sekolah Dasar (SD) diperiksa dalam kasus ini. Mereka menjalani pemeriksaan oleh pihak Inspektorat Gowa, Rabu (14/7) siang.
Mereka dimintai keterangan terkait adanya temuan dugaan manipulasi nilai Ujian Nasional yang di lakukan oleh beberapa oknum kepsek yang ada di wilayah Kecamatan Sombaopu. Akibat tindak manipulasi itu, banyak siswa dirugikan karena tidak dapat melanjutkan pendidikannya ke tingkat SMP.
Inspektur Inspektorat Gowa, Chairul Natsir yang dikonfirmasi membenarkan telah memanggil 14 kepala sekolah yang ada di wilayah Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa.
“Benar sejak kemarin kami telah memanggil 14 kepala sekolah SD untuk dimintai keterangan terkait adanya temuan manipulasi nilai ujian nasional (UN) murid sekolah Dasar (SD). Hanya saja saya belum bisa memberikan keterangan yang lebih jauh soal ini, sebab kami baru tahap memeriksa belum ada hasilnya. Dan kami akan membahasnya lebih dalam,” kata mantan Kabag Hukum Pemkab Gowa ini, Kamis (14/7).
Dia mengatakan, pemanggilan 14 kepala sekolah dasar ini sudah berjalan dua hari dan seluruh kepsek yang diduga bermasalah telah dibuatkan pernyataan terkait temuan yang ada.
Terkuaknya masalah manipulasi nilai ujian ini berawal setelah diketahui jika hasil nilai ujian yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel berbeda dengan yang diserahkan oleh pihak sekolah kepada para siswa SD yang akan melanjutkan pendidikannya ke SMP. Karenanya pihak sekolah diduga keras melakukan penambahan nilai ujian para murid sesuai kesepakatan para orangtua murid dengan pihak sekolah.
Terkait kasus ini, Kepala UPTD Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Somba Opu Kabupaten Gowa, Hasbi Lambe yang dikonfirmasi terpisah sempat membela para kepsek yang dinaunginya itu.
Menurut Hasbi adanya perubahan nilai ujian oleh pihak kepsek, karena desakan orangtua murid sendiri agar anak-anaknya bisa lulus dalam pendaftaran SMP yang mempersyaratkan hasil nilai ujian tinggi khususnya pada SMP yang diinginkan.
Hasbi bahkan berdalih kaget, dengan apa yang dilakukan para kepsek yang berani mengambil risiko tanpa koordinasi.
“Saya tidak menyangka jika para kepsek melakukan hal ini. Ini sudah mencoreng dunia pendidikan. Tapi kita juga tidak boleh menyalahkan sepenuhnya pihak sekolah, karena ini juga terjadi karena adanya permintaan dari pihak orangtua murid yang ingin anak bisa masuk pada sekolah yang diinginkan,” tutup Hasbi. (sar/ril)

Exit mobile version