Site icon Berita Kota Makassar

Cinta Penelitian Setelah Sebulan Ditugasi Observasi Korosi

SEBAGAI guru besar yang berdedikasi tinggi pada profesi dan dunia penelitian, sederet prestasi diraih lelaki bersahaja kelahiran Makassar, 28 April 1962 ini.

Laporan: Rahmawati Amri

DIA telah memperoleh piagam Tanda Kehormatan Satya Lencana Karya Satya 20 tahun dari Presiden RI pada tahun 2011. Selain itu, Prof Fattah juga pernah dinobatkan sebagai dosen berprestasi I Kopertis Wilayah IX Sulawesi pada tahun 2007.
Tahun 1998, lelaki yang hobi olahraga ini juga dinobatkan sebagai Dosen Teladan I Kopertis Wilayah IX. Tahun 1991 sebagai alumni terbaik program pendidikan magister pascasarjana Universitas Hasanuddin Makassar. Dan pada tahun 1990, dinobatkan sebagai lulusan terbaik I Kursus Prajabatan Dosen Kopertis IX.
Konsistensi dan kecintaannya pada dunia penelitian sebenarnya sudah dilakoni sejak duduk di bangku SMA. Dia menceritakan awal mulanya bersentuhan dengan dunia penelitian, waktu tercatat sebagai siswa SMAN 2 Makassar.
Salah seorang gurunya bernama Musafir (almarhum) memintanya untuk mengobservasi proses korosi atau karat yang terjadi pada logam. Selama sebulan dia diminta untuk terus mengamati perubahan yang terjadi.
Awalnya, dia merasa itu adalah pekerjaan membosankan. Namun, lama kelamaan, dia menikmati dan merasa pengamatan dan proses perubahan yang terjadi merupakan sesuatu yang luar biasa.
“Sejak itulah saya mencintai dunia penelitian. Waktu kuliah di IPB, aktifitas penelitian saya lakukan secara intensif,” ungkapnya.
Lepas kuliah, Prof Fattah dipercaya sebagai dosen Kopertis Wilayah IX Sulawesi yang dipekerjakan di Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Sebagai seorang dosen, dia harus mengemban Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi. Tiga poin penting itu dimaksimalkan penerapannya. Terutama bidang penelitian.
Selain meneliti dan mengembangkan pakan udang Phronima Suppa, Prof Fatta cukup konsisten meneliti soal komoditi udang. Banyak gebrakan maupun inovasi yang dilakukan untuk meningkatkan produksi dan komoditi udang. Utamanya udang windu yang pernah jadi idola.
Dia memikirkan cara membuat udang lebih baik produksinya, resistensinya terhadap perubahan cuaca, dan masih banyak lagi. Tak heran jika dia dijuluki salah satu pakar udang yang dimiliki Sulawesi Selatan.
Selain itu, Prof Fattah juga salah satu penggagas kawasan Minapolitan Lowita, Pinrang. Kawasan itu saat ini dijadikan sebagai salah satu destinasi pariwisata unggulan di Kabupaten Pinrang.
Selain memiliki pemandangan pantai yang eksotis, Lowita juga salah satu sentra produksi dan tambak udang di Bumi Lasinrang.
Kawasan itu sempat dikunjungi 18 duta besar negara sahabat waktu berkunjung ke Indonesia belum lama ini. Malah, desa wisata tersebut pernah meraih penghargaan sebagai destinasi terbaik pada Ulang Tahun Sulsel.
Masih banyak gagasan dan terobosan yang dilakukan. Dia pernah diundang ke Yogyakarta untuk mempresentasekan program gerakan pakan mandiri. Dengan gerakan itu, Indonesia diharapkan bisa membangun industri pakan ikan dan udang lokal tanpa harus tergantung pada pakan ekspor. Salah satunya dengan mengembangkan dan membudidayakan Phromina Suppa.
Bukan hanya untuk kebutuhan tanah air, dia berharap ke depan, Phromina Suppa itu bisa diekspor ke berbagai negara. Semoga. (*/rus)

Exit mobile version