MAKASSAR, BKM–Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Sulsel, Ashabul Kahfi belum terlihat serius untuk ikut bertarung di Pemilihan Gubernur Sulsel (Pilgub) 2018 mendatang, padahal PAN yang dipimpinnya mengontrol 9 kursi diparlemen Sulsel dibawah Partai Golkar yang memiliki 18 kursi serta Demokrat dan Gerindra masing-masing mengontrol 11 kursi.
Hal berbeda dilakukam sejumlah kandidat Gubernur lain yang secara terbuka menyatakan kesiapannya untuk maju serta telah melakukan sosialisasi dilanjutkan dengan terbentuknya tim dan relawan meski belum terlalu massif.
Mereka yakni Ichsan Yasin Limpo, Agus Arifin Nu’mang, Nurdin Abdullah, Luthfi A Mutti, Burhanuddin Andi, Abd Rivai Ras, La Tinro La Turung, Andi Ridwan Wittiri dan Akbar Faisal.
Kahfi sendiri yang dimintai tanggapan soal kesiapannya untuk maju di Pilgub hanya berujar pendek, “Nantilah,Ucap Kahfi yang juga Wakil Ketua DPRD Sulsel ini.
Meski demikian, DPW PAN Sulsel baru akan membahas soal kesiapan PAN jelang Pilgub, termasuk membicarakan rencana menggandeng lembaga survei guna mengukur tingkat popularitas dan elektabilitas para kandidat,”ujar Wakil Ketua DPW PAN Sulsel, Dr Usman Lonta, Jumat (15/7) .
Sebelumnya, partai berlogo matahari terbit itu, mewacanakan untuk memaketkan Kahfi dengan Wakil Gubernur Sulsel, Agus Arifin Nu’mang.
Bahkan Usman Lonta mengatakan, wacana paket Agus-Kahfi dinilai memiliki kecocokan, apalagi PAN sudah dua kali mengusung Agus bersama Syahrul Yasin Limpo di Pilgub 2007 dan 2013 lalu.
“PAN memang memiliki kecocokan dengan pak Agus, karena kita sudah dua periode bersama-sama,”jelas Usman yang juga Ketua Baleg DPRD Sulsel ini.
Arief : Kahfi Politisi Realistis
DOSEN politik dari Unibos 45, Dr Arief Wicaksono menilai jika Kahfi merupakan sosok politisi yang realistis serta matang melihat dan menghitung peluang. “Apalagi jika dalam konsteks PAN, Pak Kahfi sangat jelas rekam jejaknya. Dibawah koordinasinyalah sehingga PAN Sulsel sukses mendapatkan 9 kursi di parlemen,”ujar Arief, Jumat (15/7).
Pada koalisi Sayang jilid I dan II, kiprah Pak Kahfi juga jelas menjadi salah satu kunci bagi keberhasilan pemerintahan Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo hingga saat ini. “Semua itulah yang yang menjadi salah satu alasan mengapa Kahfi terpilih kembali manahkodai PAN Sulsel pada forum Muswil lalu, namun tentu saja rekam jejak bagi Kahfi mungkin belum cukup sebagai modal untuk ikut bertarung di kontestasi Pilgub nanti, sehingga kesannya Kahfi seperti tidak serius maju dalam arena. Pertimbagan kuantitatif seperti survei politik beliau sendiri mungkin dianggap masih belum sampai pada batas minimal angka yang layak dalam trandisi survei calon gubernur,”jelasnya.
Pertimbangan lain, menurut Arief yang juga Direktur eksekutif Pedoman Suara Indonesia (PSI) kemungkinan besar adalah pertimbangan etik, bahwa tokoh yang didukung Kahfi pada Pilgub lalu yakni Syahrul masih menjabat sebagai Gubernur, sehingga tentu kurang elok jika pak Kahfi maju sebelum masa tugas komandan SYL berakhir. (jun/rif)
