Site icon Berita Kota Makassar

Ciri Khas Acungkan Tiga Jari Saat Jualan

BKM/CHAIRIL PENGESAHAN--Ketua DPRD Kota Makassar, Farouk M Betta saat menandatangani pengesahan Ranperda CSR menjadi Perda di Rapat Paripurna, Selasa (19/7). Penandatanganan tersebut disaksikan Wakil Wali Kota Makassar, Syamsu Rizal MI.

SIANG ITU, gerimis tercurah membasahi Kota Makassar. Beberapa pengendara kendaraan tampak menepi di Jalan Hertasing untuk memasang mantel jas hujan mereka.

Laporan: ARDHITA ANGGRAENI

Sebentuk tubuh gadis kecil berdiri terpaku di taman yang berada disisi tengah badan Jalan Hertasing, persis di sekitar traffik light atau lampu merah. Gadis kecil itu bernama Risnawati.
Risnawati tampak mendekap puluhan lembar koran terbungkus plastik warna bening. Tubuhnya yang hanya terbungkus baju lusuh berwarna putih mulai menggigil. Dia lebih memilih melindungi korannya dari rintik hujan yang mulai gerimis.
Orang tidak menyangka dibalik kerasnya kehidupan di jalan, ada momen dimana roda perekonomian berputar untuk masyarakat kelas menengah ke bawah.
Sepertinya, mulai orang tua, anak muda dan anak-anak mencari pundi-pundi rupiah sedikit demi sedikit dengan penjualan koran serta tissue, meski mereka kadang menjadi bagian objek untuk ditertibkan.
Bagi Risnawati dia tidak akan putus asa untuk terus dan terus mengais sesuap nasi di lampu merah yang penuh debu.
Saat penulis memperhatikannya, Rismawati tampak semangat mengacungkan tiga jari mungilnya, sementara tangan kirinya memeluk koran dari berbagai media cetak lokal maupun nasional.
Gadis yang kini telah beranjak dewasa umur 12 tahun, sesekali mengikat rambutnya sambil berjalan disepanjang Jalan AP Pettarani dan Jalan Hertasing. Panas terik dan hujan adalah teman setia-nya yang selalu menemaninya dari pagi hingga sore hari.
“Panas dan hujan bukan halangan untuk mencari rezeki. Apa yang saya lakukan hanya semata-mata membantu mama saya. Sebagai anak saya tidak ingin cepat mengeluh meski kulit saya harus hitam karena terik matahari,” kata Risnawati.
Tertarik dengan kerja keras Risnawati, membuat penulis harus menunggu sampai dia isterahat menjajakan koran. Sekedar bertanya tentang hidup dan sedikit tentang harapan sang Risnawati ke depan.
Anti sapaan akrabnya di depan penulis mengaku terpaksa menghidupi kedua adiknya dan ibundanya yang sudah tua. Sementara sang ayah lebih dulu dipanggil sang pencipta. Ibunya tidak bisa bekerja dan hanya bisa mengurus kedua adiknya.
“Ayah saya meninggal semasa saya masih kecil. Saya sendiri ji yang kerja cari uang,” ungkapnya.
Ditanya soal makna tiga jari yang menjadi ciri khasnya, Risnawati terlihat tersenyum lebar, menurutnya, tiga jari bertanda koran di jual Rp3.000, inipun kalau masih ada koran tertinggal di siang hingga sore hari.
Ia-pun sudah lima tahun berjualan koran di jalan. Banyak suka duka yang telah dialami, termasuk harapannya untuk dapat menjual koran yang lebih banyak tanpa harus menunggu lama.
“Ditanya soal harapan, hanya satu saja kak, bagaimana koran yang saya jual bisa laku semua meski tidak menghiraukan terik matahari dan hujan,” katanya.
Sementara dukanya, jika berjualan di saat kondisi badan kurang stabil. Meski begitu dia tetap melawan sakitnya.
Begitupun, jika ada mobil dan motor yang nyaris menyerempetnya saat sedang menawarkan koran kepengendara yang sedang berhenti di lampu merah.(ita/war)

Exit mobile version