Site icon Berita Kota Makassar

TPA Antang Jadi Saksi Sejarah (Lagi)

MAKASSAR, BKM — Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Antang kembali menjadi saksi sejarah yang ditorehkan Pemerintah Kota Makassar. Jika sebelumnya dijadikan sebagai tempat pelantikan ratusan kepala sekolah, dalam waktu dekat lokasi tersebut jadi pusat perayaan atas diraihnya Piala Adipura.
Keberhasilan Kota Makassar meraih supremasi tertinggi di bidang lingkungan hidup ini disambut penuh sukacita. Berbagai kegiatan digelar untuk menyambut piala yang akan diserahkan Presiden, Joko Widodo, Jumat (22/7) mendatang.
Salah satu acara yang dilaksanakan adalah arak-arakan serta konvoi. Rencananya, arak-arakan Piala Adipura dimulai dari bandara internasional Sultan Hasanuddin menuju ke TPA sampah Antang.
Petugas kebersihan yang selama ini memiliki peran besar dalam mengantar Makassar meraih Piala Adipura dua kali berturut-turut, dilibatkan secara langsung. Mereka akan berfoto dengan Piala Adipura bersama Wali Kota Moh Ramdhan Pomanto, Wawali Samsu Rizal, Sekkot Ibrahim Saleh serta seluruh pimpinan SKPD Pemkot Makassar.
”Setelah penyerahan Adipura tanggal 22 Juli, piala akan diarak dari Bandara Sultan Hasanuddin menuju TPA Antang. Kita sudah melakukan persiapan untuk menggelar karnaval festibal pada 23 Juli mendatang,” kata Wali Kota, Selasa (19/7).
Dipilihnya TPA Antang sebagai lokasi perayaan atas keberhasilan Kota Makassar meraih Piala Adipura 2016, karena tempat ini menjadi salah satu lokasi yang mendukung dalam penilaian.
Diakui Wali Kota yang akrab disapa Danny ini, pencapaian yang diraih tidak luput dari keterlibatan dan peranserta masyarakat. Mereka tidak pernah menyerah dalam menjaga dan mengontrol kebersihan lingkungan sekitar.
Wawali Samsu Rizal menambahkan, Pemkot Makassar akan menggelar syukuran dengan berbagai kegiatan, seperti yang dilakukan tahun sebelumnya. ”Pasti kita lakukan penyambutan ketika Piala Adipura sudah ada di tangan kita,” ujarnya.
Kepada masyarakat Kota Makassar, khususnya petugas kebersihan, Wawali meminta untuk terus bersemangat dalam menjaga kebersihan.
Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar, Ibrahim Saleh mengaku, pihaknya masih perlu menggelar rapat bersama seluruh stakeholder untuk menentukan rute arak-arakan Piala Adipura, dan kegiatan hiburan yang akan ditampilkan. Tidak menutup kemungkinan, acara tahun ini lebih meriah dari tahun sebelumnya.
Hal senada disampaikan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Makassar, Masri Tillo. Menurut dia, sejauh ini pihaknya belum mendapat informasi yang pasti terkait pelaksanaan karnaval dan arak-arakan Piala Adipura. Termasuk rute yang akan dilalui dan hiburan yang ditampilkan.
”Kita masih perlu merapatkannya. Paling lambat besok (hari ini, Rabu 20/7) rapatnya digelar,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Makassar, Syahruddin mengaku telah menyiapkan seluruh petugas kebersihan untuk ikut terlibat dalam prosesi penyambutan Piala Adipura.
Di saat Kota Makassar sudah meraih Piala Adipura dua kali berturut-turut, pemkot belum memiliki rencana untuk menaikkan upah para petugas kebersihan. Rencananya, pemkot baru akan mengevaluasi upah petugas kebersihan pada tahun 2017 mendatang. Kepastian itu diperoleh dari Sekretaris Kota (Sekkot) Makassar, Ibrahim Saleh.
“Kita belum ada rencana menaikkan upah petugas kebersihan tahun ini. Namun tidak menutup kemungkinan mereka akan mendapatkan peningkatan upah sesuai kebijakan Pak Wali,” kata Ibe, kemarin.
Kadis Pertamanan dan Kebersihan, Syahruddin mengaku sudah mengusulkan peningkatan kesejahteraan bagi petugas kebersihan dengan menaikkan upah mereka. Saat ini tercatat 541 petugas kebersihan yang bekerja sebagai pengangkut sampah, sopir mobil tangkasaki, pemangkas pohon serta petugas yang mengatur sampah di TPA Antang.
”Upah pegawai kebersihan kita saat ini Rp2 juta per bulan. Ada juga biaya operasional sebesar Rp1,2 juta per bulan. Saya rencana mengusulkan penambahan biaya operasional,” ujarnya.
Syahruddin melihat tingginya risiko yang dihadapi petugas kebersihan, seperti mereka sewaktu-waktu bisa disambar pengendara saat membersihkan sampah di pinggir jalan, ataupun ancaman penyakit karena setiap hari harus berhadapan dengan sampah.
Karena itu dia mengusulkan penambahan biaya operasional dengan honor risiko tinggi sebesar Rp500 ribu per bulan untuk setiap orang, serta upah operasional sebesar Rp1,2 juta per bulan dan gaji pokok sebesar Rp2 juta per bulan.
”Untuk realisasinya, tergantung dari pemkot dan anggota dewan. Tapi saya berharap usulan itu bisa direalisasikan,” imbuhnya. (arf/rus)

Adipura bukan
Tujuan Akhir

CAMAT Tallo, Zainal A Takko menegaskan bahwa Piala Adipura bukanlah tujuan akhir dari kerja keras dalam membenahi dan menata lingkungan menjadi bersih. Namun yang terpenting adalah bagaimana kebersihan bisa bersemayam di hati masyarakat Kota Makassar.
”Kita berharap ke depan Makassar bisa mendapatkan penghargaan yang lebih tinggi lagi. Selain itu, masyarakat kota ini menjadikan kebersihan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya, kemarin.
Menurutnya, penghargaan yang kedua kalinya secara berturut-turut diterima Kota Makassar ini merupakan hasil kerja keras semua elemen, dan optimalisasi satuan tugas (Satgas) dan masyarakat kebersihan. Karena itu, dia menyatakan kesiapannya untuk menyambut Piala Adipura.
Sementara Camat Makassar, Ruly menyatakan sangat bersyukur dengan kembali diraihnya Piala Adipura. Di mata Ruly, keberhasilan ini tidak terlepas dari kehebatan seorang pimpinan dalam memenej organisasi pemerintahan.
“Alhamdulillah, kita sangat bersyukur karena dua kali berturut-turut dapat Adipura. Pak Wali Kota sangat hebat dalam membuat tim sehingga bisa meraih Adipura dua kali,” ujarnya.
Pernyataan serupa meluncur dari Camat Manggala, Anshar Umar. Namun ia tidak ingin terlena dengan penghargaan tersebut. Baginya, dengan adanya piala tersebut maka kinerja juga harus ditingkatkan. “Kita harus menjaga dan berjuang mempertahankan kota kita dengan meningkatkan kepedulian,” ucapnya. (arf/rus)

Exit mobile version